http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009081401225716

      Jum'at, 14 Agustus 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
Ketika Parpol 'Berganti Kelamin'!

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      SAAT pacarnya ke toilet, cowok yang menunggu pesanan makanan di restoran 
menemukan foto pria tampan di tas tangan pacarnya. "Foto siapa ini?" bentak 
cowok begitu pacar kembali duduk.

      "Itu fotoku, Mas!" jawab pacar. "Fotoku dahulu, sebelum ganti kelamin!"

      "Jadi kau..?" sambut cowok terperangah.

      "Tak perlu kaget sampai pucat begitu, Mas!" tegas pacar. "Soal berganti 
kelamin, partai politik (parpol) juga sekarang sudah lazim! Terutama parpol 
oposan, ganti kelamin bergabung masuk ruling group--kelompok berkuasa!"

      Masih terengah-engah, cowok menukas, "Jadi kau tak bisa hamil, apalagi 
melahirkan?"

      "Parpol yang fitrah sejarahnya oposisi, ketika berganti kelamin masuk 
ruling group juga jadi mandul!" tegas pacar. "Sebagai contoh, Partai Golkar! 
Setelah kalah Pemilu 1999, pada masa kepresidenan Gus Dur dilanjutkan Megawati, 
Partai Golkar menjalani fitrah sejarahnya sebagai oposisi! Menjalani fitrah 
sejarah itu Partai Golkar subur, pendukungnya berbiak, hingga memenangi Pemilu 
Legislatif 2004. Tapi setelah jagonya kalah pemilihan umum presiden (pilpres), 
bukannya kembali ke fitrah sejarahnya sebagai oposisi, melainkan terbawa M. 
Jusuf Kalla yang terpilih jadi wakil presiden lewat partai lain dan kemudian 
menjadi ketua umumnya, masuk kelompok berkuasa!"

      "Menyalahi fitrahnya sebagai oposisi dan berganti kelamin masuk ruling 
group, Partai Golkar jadi mandul! Tanpa kecuali tokohnya jadi wakil presiden, 
menteri koordinator dan beberapa menteri, Partai Golkar yang mandul kalah dalam 
Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009!"

      "Tapi, kenapa PDI-P saat jadi oposisi justru kalah Pemilu Legislatif dan 
Pilpres 2009?" sela cowok.

      "Mungkin fitrah sejarahnya bukan oposisi!" jawab pacar. "Atau bisa pula, 
fitrah sejarah itu tidak dilakoni secara tulus! Misal, kerjanya mengkritik 
penguasa, tapi sepak-terjang para anggotanya di DPR tak beda dengan yang 
dikritik! Tak terlepas total dari kasus yang ditangani KPK, contohnya!"

      "Berarti, kalau mereka bergabung dengan ruling group bakal lebih cocok?" 
kejar cowok.

      "Soal itu kita lihat nanti!" tegas pacar. "Tapi saya kira, lebih tepat 
PDI-P menyempurnakan sikap oposisinya, bukan oposan dalam bicara saja, tak 
diimbangi sepak terjang anggotanya! Sedang cuma ikutan masuk gerbong penguasa, 
menurut pengalaman sejumlah parpol, justru kehilangan banyak kursi legislatif!"

      "Lantas bagaimana dengan Partai Golkar yang sedang di persimpangan jalan, 
antara kembali ke gerbong penguasa--hingga munasnya dipercepat sebelum 
pelantikan presiden, atau memilih fitrah sejarahnya sebagai oposan?" kejar 
cowok.

      "Dengan wakil presiden dan beberapa menteri pun Partai Golkar terbukti 
mandul dalam gerbong kekuasaan!" tegas pacar. "Keledai saja tidak terperosok 
dua kali di lubang yang sama!" *
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke