Refleksi : Lupa yang disengajakan? Tentunya sudah cupup dengan asalamalaikum
dan bismillah. Tidak ada sanksi hukum terhadap kelupaan. Pada pokoknya fulus
masuk kantong sudah terjamin dan diresmikan dengan pesta demokrasi.
.
http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=31041
15 Agustus 2009 08:50:13
Pidato Kenegaraan tanpa Indonesia Raya
--------------------------------------------------------------------------------
JAKARTA - Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di depan
Rapat Paripurna DPR kemarin (14/8) diselingi insiden langka. Saat acara
kenegaraan itu dibuka, protokoler DPR lupa mengajak hadirin menyanyikan lagu
Indonesia Raya. Ketua DPR Agung Laksono meminta maaf atas kelalaian tersebut.
"Ada kekeliruan dalam protokoler kami. Alat kelengkapan enggak salah, hanya
protokoler yang seharusnya mengingatkan," ujar Agung setelah rapat di gedung
DPR, Senayan, Jakarta, kemarin.
Seperti halnya acara kenegaraan lainnya, lagu Indonesia Raya seharusnya
dinyanyikan pada awal. Setelah itu, acara pembuka dilanjutkan dengan
mengheningkan cipta. Baru kemudian masuk ke acara inti, yakni penyampaian
pidato dan seterusnya.
Namun, yang terjadi dalam acara pidato kenegaraan menyambut Hari Ulang Tahun
(HUT) Ke-64 Kemerdekaan RI tersebut tidak seperti biasanya. Agung sebagai
pemimpin rapat langsung mengajak hadirin untuk mengheningkan cipta.
Dia baru sadar belum mengajak menyanyikan lagu Indonesia Raya setelah pidato
sambutan sebagai ketua DPR. "Nanti setelah pidato presiden, tolong paduan suara
menyanyikan lagu Indonesia Raya karena tadi belum," kata Agung. Lagu kebangsaan
itu pun akhirnya dinyanyikan pada akhir acara.
Selama hampir sejam presiden menyampaikan pidato yang merupakan tradisi tahunan
tersebut. Mengambil tema Refleksi Kemerdekaan dan Dinamika Perjalanan Bangsa,
SBY mengupas jatuh bangunnya negara dalam menemukan arah tepat demokrasi. Dia
juga menyinggung tantangan dalam reformasi gelombang kedua, termasuk ancaman
terorisme yang belum berakhir.
Tak lupa, SBY menyinggung sejumlah prestasi pemerintah, baik di dalam negeri
maupun peran di kancah internasional. Presiden mendapatkan 29 kali tepuk tangan
dari anggota dewan, termasuk standing ovation oleh sebagian hadirin pada akhir
pidato. SBY menyatakan, Indonesia telah menganut banyak model demokrasi. Sejak
1945 hingga 1959, demokrasi parlementer hadir tanpa benar-benar melakukan
konsolidasi program karena pemerintah yang kerap berganti.
Era Demokrasi Terpimpin yang ditandai terbitnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959
membuat kehidupan bernegara terpusat dan nyaris semua dikuasai presiden.
"Mekanisme check and balance tidak berjalan secara efektif," kata SBY.
Selanjutnya, sejak 1966, model demokrasi juga berpusat di tangan presiden.
"Demokrasi yang bernama luhur Pancasila, tapi tidak utuh, bahkan menyimpang
dalam penerapannya. Yang justru muncul adalah otoritarianisme yang tentulah
bertentangan dengan prinsip dan nilai demokrasi itu sendiri," ungkapnya.
Meski demikian, SBY bisa memahami langkah Presiden Soekarno yang memilih
kembali ke UUD 1945. Sebab, Konstituante belum menyelesaikan tugas, sedangkan
keadaan amat tidak stabil. SBY juga memahami cara yang ditempuh Presiden
Soeharto. "Kita juga memahami mengapa Presiden Soeharto memilih demokrasi yang
semiotoritarian karena ingin menghadirkan stabilitas politik agar pembangunan
ekonomi dapat dilaksanakan dengan baik," jelasnya.
Dia menambahkan, pola demokrasi multipartai presidensial yang ditempuh saat ini
juga akan mendapatkan tantangan. Dia menyatakan, Indonesia telah selamat dalam
proses pencarian menuju demokrasi sejak reformasi 1998. Indonesia terbukti bisa
melalui sepuluh tahun pascareformasi dengan menjadi negara demokrasi yang
terkonsolidasikan.
"Pada 2009 ini, sepuluh tahun sejak reformasi bergulir, Indonesia masih tegak
berdiri, bahkan semakin berkibar, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas
sampai Pulau Rote. Sekarang ini, kita bisa bangga bahwa negara kita adalah
negara demokrasi yang maju di Asia Tenggara, negara yang menjunjung tinggi asas
kedaulatan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tegasnya.
Dalam pidato kemarin, SBY mengucapkan terima kasih kepada tiga presiden yang
memimpin pada era reformasi.
SBY juga mengomentari aksi terorisme. Menurut dia, aksi terorisme memiliki
beberapa akar penyebab yang utama. Di antaranya, kemiskinan dan
keterbelakangan, ketidakadilan di berbagai wilayah dunia, serta akar-akar
radikalitas tersebut. "Terhadap itu semua, pembangunan yang kita lakukan justru
bertujuan mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan," katanya.
Menutup pidato, SBY menegaskan, cita-cita menjadi negara maju tidak datang dari
langit, tapi harus diraih dengan perjuangan dan kerja keras. Dia mengutip
pepatah Bugis, resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata. "Artinya,
hanya perjuangan dan kerja keras yang terus-menerus yang akan mendapatkan rida
Tuhan Yang Mahakuasa," kata SBY lantas tersenyum disambut tepuk tangan hadirin.
Sebagaimana kita ketahui, Bugis adalah suku asal Wapres Jusuf Kalla. (jpnn
[Non-text portions of this message have been removed]