http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009081501353567
Sabtu, 15 Agustus 2009
OPINI
TAJUK: Merawat Indonesia
KEMERDEKAAN Indonesia ke-64 kini kita peringati dalam suasana tak
"nyaman". Masih dalam suasana hati yang terkoyak karena aksi teroris yang
menghancurkan kemanusiaan dengan pengeboman Hotel J.W. Marriott dan Hotel Ritz
Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Apa pun alasannya, melakukan
kejahatan di Bumi Pertiwi berarti secara sengaja memang ingin menghancurkan
negeri tercinta ini.
Akar terorisme memang bisa panjang diurai. Tetapi, fakta yang kita hadapi
hari ini adalah bukti soal kebangsaan sesuatu yang belum usai. Ia masih
berproses dan perlu penguatan di sana-sini. Gembong teroris Dr. Azahari dan
Noordin M. Top memang berasal dari Malaysia, tapi para pengikutnya, bahkan para
pelaku teror, ternyata kaum muda Indonesia.
Fakta anak-anak muda yang direkrut untuk "berjihad" dengan cara-cara
kekerasan dan membunuh orang lain bukan di medan perang, jelas bertentangan
dengan ajaran mana pun. Negara dan kita semua punya tugas bagaimana membuat
formula yang tepat untuk menjelaskan tentang ke-Indonesia-an yang justru harus
mendapat dukungan penuh dari seluruh masyarakat. Bukan sebaliknya.
Negara harus pula melakukan dialog yang tulus dan tak putus dengan
seluruh komponen bangsa, termasuk kelompok-kelompok minoritas, agar semua
sama-sama menjadi penghuni "rumah" Indonesia yang sederajat. Masalahnya, dialog
ini yang justru amat minim.
Selain dialog yang terus menerus, tidak ada lain selain membenahi dunia
pendidikan. Manusia terdidik akan membuat bangsa ini kian rasional, dan
rasionalitas akan menolak ajakan-ajakan dan ajaran yang membawa destruksi.
Pendidikan harus benar berada di depan menanamkan nilai-nilai keadilan,
kejujuran, kemanusiaan, dan multikulturalisme.
Kini harus kita akui, pendidikan kita menghadapi persoalan yang amat
serius. Tidak saja kian mahal dan kian komersial, tetapi kian buruk mutunya.
Ini jelas realitas yang bertentangan dengan rasa keadilan bagi mereka yang
kurang mampu. Ketidakadilan seperti ini juga punya potensi bagi yang tak
berdaya untuk melawan dengan caranya sendiri.
Yang juga amat memprihatinkan, sekolah kini kian menjauh dari nilai-nilai
kejujuran.
Jika pendidikan dikelola birokrasi yang korup, guru-guru yang tidak punya
dedikasi, mutu mengajar yang tidak mencerdaskan dan mencerahkan, jelas akan
membawa bangsa ini ke jurang kehancuran. Kita akan kian jauh tertinggal dengan
bangsa mana pun jika pendidikan tidak menjadi contoh terdepan tentang
nilai-nilai keutamaan.
Pemerintah telah berkomitmen mengalokasikan 20% anggaran negara untuk
pendidikan. Ini harus dijalankan oleh manusia-manusia yang teruji militansi dan
integritasnya. Sumber daya manusia yang memang benar-benar layak untuk
menggeluti dunia pendidikan.
Selaian itu, negara benar-benar harus konkret memakmurakan rakyatnya.
Kini para elite dan kaum berpunya masih sering pamer kekayaan di tengah
kemiskinan bangsanya. Korupsi, meskipun begitu gencar pemberantasannya, tetapi
kian mengerikan karena telah menjadi virus yang menyebar ke hampir seluruh
lapisan masyarakat Indonesia. Ini jelas akan jadi penghalang upaya memakmurkan
rakyat.
Merawat ke-Indonesia-an haruslah dengan komitmen tinggi memakmurkan
seluruh rakyat Indonesia. Momentum Hari Kemerdekaan inilah menjadi waktu yang
tepat untuk meneguhkan komitmen itu. Tanpa komitmen itu, peringatan
kemerdekaan, berapa pun usia kemerdekaan negeri ini, menjadi sebuah ritual
hampa makna. n
[Non-text portions of this message have been removed]