http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=9548

      Kamis, 30 Juli 2009 
     

      KESEHATAN
     
     
     
     

Dua dari Lima Penduduk Indonesia Berisiko Osteoporosis


      JAKARTA (LampostOnline): Dua dari lima penduduk Indonesia memiliki risiko 
terkena penyakit rapuh tulang (osteoporosis).

      "Angka ini lebih tinggi dari prevalensi dunia yakni satu dari tiga orang 
berisiko terkena osteoporosis," kata Senior Brand Manager PT Kraft Foods 
Indonesia, Prita Utami di Jakarta, Kamis (30-7).

      Hal itu disebabkan asupan kalsium penduduk Indonesia masih jauh dari yang 
dianjurkan oleh pihak World Health Organization (WHO)pada tahun 2003 yaitu 400 
- 500 mg/hari, katanya.

      "Sementara berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) tahun 2002 
menunjukkan, bahwa asupan rata-rata kalsium penduduk Indonesia hanya 254 
mg/hari," kata Prita.

      Dia mengatakan, bahwa dari angka tersebut memperlihatkan asupan kalsium 
penduduk Indonesia masih jauh dari yang dianjurkan WHO, selain itu mendukung 
data Depkes tersebut, menujukan prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) di 
Indonesia sebesar 41,7 persen.

      "Tentunya keadaan yang mengkhawatirkan ini harus harus segera diperbaiki 
sejak dini oleh para orangtua kepada anak-anaknya agar sehat dan kuat baik 
fisik dan mentalnya dapat terpenuhi dan mereka pun bisa berprestasi dengan 
baik," terang Prita.

      Terutama pada kebiasaan orangtua dan pola makan sehat anak yang merupakan 
faktor utama yang paling penting, katanya.

      Prita menjelaskan bahwa saat ini Depkes RI telah mencanangkan 13 Pedoman 
Umum Gizi Seimbang (PUGS), keseimbangan adalah kuncinya dan pesan utama yakni 
makanlah aneka ragam makanan.

      "Jika anak dibiasakan makan seimbang, maka hal ini akan menghasilkan 
status gizi yang baik," kata Prita.

      Keinginan baik itu belum terpenuhi karena data di Indonesia menunjukkan 
bahwa dari sebelas zat gizi mikro, hanya vitamin C yang sudah terpenuhi 
kecukupannya, sementara yang sepuluh belum terpenuhi diantaranya adalah 
kalsium, katanya.

      "Cara yang mudah dan sederhana untuk mengatasi tantangan ini yaitu 
mempertemukan keinginan anak dan orangtua, dengan menyediakan makanan unik, 
lezat dan bergizi," kata Prita.

      Orantua hendaknya selalu menyediakan makanan dengan mencampurkan keju ke 
dalam makanan sehari-hari dimulai pagi hari melalui sarapan untuk anak, kata 
Prita, menambahkan.

      "Karena keju memiliki keunggulan diantaranya praktis dan mudah 
diaplikasikan untuk dicampur dengan beragam makanan, selain itu rasa yang lezat 
dan meningkatkan kandungan gizi dalam makanan," katanya. ANT/L-
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke