http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9829

2009-08-18
Indonesia Masih Tertinggal


Perekonomian Setelah 64 Tahun Merdeka





[JAKARTA] Meskipun telah merdeka 64 tahun lalu, Indonesia masih tertinggal 
dibandingkan negara-negara lain yang belakangan merdeka, seperti Malaysia dan 
Vietnam.

Pertumbuhan Indonesia lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara tetangga 
di kawasan Asia Tenggara. Masih banyak yang harus dikerjakan, khususnya terkait 
dengan kemiskinan dan pengangguran, di mana gap (jurang) yang semakin lebar 
antara kalangan miskin dan kaya.

Demikian rangkuman pandangan yang disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha 
Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, ekonom Universitas Indonesia (UI) Nina 
Sapti, Ekonom Danareksa, Purbaya Yudi Sadewa, dan Direktur Pusat Informasi dan 
Pengembangan Studi (Cides) Umar Juoro di Jakarta, Selasa (18/8). 

Menurut Sofjan, perlu ada prioritas dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran.

"Hal itu harus menjadi prioritas. Setelah diberlakukannya otonomi daerah, semua 
seolah-olah kerja sendiri-sendiri. Seolah tidak ada rasa nasionalisme untuk 
menyelesaikan permasalahan di dalam negeri," tutur Sofjan kepada SP.

Menurut dia, yang harus diperhatikan kembali adalah hal yang menjadi cita-cita 
founding father (pendiri bangsa) Indonesia, yakni masyarakat adil dan makmur. 
Jangan sampai kalah dengan negara tetangga, padahal Indonesia sudah merdeka 
lebih dulu.

Dikatakan, ketertinggalan dengan negara-negara tetangga harus menjadi cambuk 
mempercepat pembangunan. Untuk itu, diperlukan pemerintahan yang kuat, 
profesional, dan bisa berkoordinasi dengan baik dalam mencapai prioritas yang 
ditentukan.

"Dengan pemerintahan baru, hal baik yang sudah dicapai harus dipertahankan, 
serta meningkatkan yang harus ditingkatkan, khususnya dalam hal pembangunan 
ekonomi," kata Sofjan.

Nina Sapti menjelaskan bahwa dalam 10 tahun terakhir ini, pertumbuhan Indonesia 
lebih lambat dibandingkan Vietnam dan Malaysia. Vietnam sebelum krisis mampu 
meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga double digit antara 9-10%. 

Demikian juga Tiongkok dan India yang secara konsisten tumbuh selama 30 tahun 
dengan angka pertumbuhan ekonomi yang besar antara 11-12%. Negara-negara maju 
sangat cepat, Indonesia sangat lambat dengan pertumbuhan ekonomi hanya 4-6%. 

"Posisi Indonesia di dunia internasional semakin terdesak. Berbeda dengan 
posisi Indonesia ketika tahun 1980-an, Indonesia ketika itu merupakan negara 
nomor 1 di Asia Tenggara dengan kepemimpinan yang kuat bahkan menjadi benchmark 
ASEAN," ujarnya. 

Malaysia membuat posisi Indonesia semakin terjepit dengan ketegangan sosial dan 
politik di antara kedua negara. Kasus Ambalat dan tenaga kerja Indonesia di 
Malaysia membuat Malaysia merasa memiliki kekuasaan dan kekuatan. 

"Posisi pada tahun 1980-an itulah yang harus dikembalikan pemerintah. 
Pemerintah jangan hanya puas dengan pencapaian 1 atau 2 tahun hanya karena 
mampu menghadapi krisis. Pemerintah harus meningkatkan kepercayaan masyarakat 
terhadap pemerintah dan ketahanan nasional secara global," tandasnya. 

Pengamat ekonomi Yanuar Rizky juga menyatakan, Indonesia tidak bisa menjaga 
kedaulatan ekonomi di pasar global dan mempersiapkan diri dalam persaingan 
global. Nilai tukar rupiah masih terombang-ambing oleh dolar, Surat Utang 
Negara Indonesia masih tertinggi di kawasan ASEAN. 

"Hampir 68% saham perusahaan nasional dikuasai asing. Perusahaan-perusahaan 
nasional Malaysia dan Singapura sudah melakukan ekspansi ke luar negeri 
menguasai saham-saham di Indonesia," katanya. 

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengutarakan, 
harus diakui bahwa pemerataan dan kesejahteraan rakyat masih belum seimbang 
dari hasil sumber daya yang dimiliki. Masih perlunya perbaikan di beberapa 
sektor untuk mengangkat kesejahteraan itu.

Menurut Purbaya, sektor manufaktur masih terabaikan. Bahkan, saat musim 
kampanye pemilu presiden (pilpres) lalu, tidak satu pun pasangan yang 
memperlihatkan upaya atau program untuk meningkatkan sektor manufaktur.

Menurutnya, kalau negara ingin maju, jangan pernah melupakan sektor yang satu 
ini. Jadi, kalau tidak ada yang mengembangkan manufaktur, akan sulit buat 
negara Indonesia untuk menjadi negara maju.

Umar Juoro mengatakan, untuk mengejar ketertinggalan bisa terwujud asalkan 
implementasi visi 2025 dijalankan. Misalnya, memperbaiki infrastruktur, 
reformasi birokrasi, manufaktur, pertanian,pertambangan, serta meningkatkan 
daya saing in- dustri. [D-11/D-12/LOV]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke