http://www.gatra.com/artikel.php?id=129334

 
Racikan Senyawa Penghancur Manusia


Tanpa peringatan atau ancaman, tahu-tahu "blaarrr!!!" Itulah gaya teroris yang 
kerap mengguncang negeri ini. Aksi teroris hampir selalu identik dengan 
peledakan bom. Maklum, bom memiliki kekuatan dahsyat nan mengerikan, yang mampu 
meluluhlantakkan gedung dan membantai kerumunan manusia dalam sekejap. 
Kerusakan dan kengerian yang ditimbulkan ledakan bom merupakan hal utama yang 
ingin dicapai para teroris secara sangat efektif: menciptakan teror, membuat 
suatu bangsa dicekam ketakutan luar biasa.

Ketika sebuah bom meledak, apa pun jenis bom itu, akan terjadi tiga efek 
dahsyat: gelombang tekanan berkecepatan tinggi, panas luar biasa, dan 
penghancuran. Dengan sifat-sifat khasnya ini, bila dimanfaatkan untuk kebaikan, 
sesungguhnya bom atau peledak sangat membantu pekerjaan manusia. Dengan bahan 
peledak, para pekerja tambang dengan mudah mengupas permukaan tanah atau 
perbukitan. Penghancuran gedung-gedung dan jembatan tua dengan gampang pula 
dilakukan berkat bantuan bahan peledak.

Namun, di tangan teroris, bahan peledak menjadi senjata penghancur dan pembunuh 
yang sangat ampuh sekaligus mengerikan. Bahkan sekotak kecil bom jenis low 
explosive pun bisa menimbulkan kegemparan dan kengerian selama berhari-hari. 
Contoh anyar di negeri ini adalah peristiwa meledaknya bom di Hotel JW Marriott 
dan The Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 17 Juli silam. 
Siapa yang menyangkal bahwa kengerian itu masih bergema hingga kini?

Dalam tragedi itu, tercatat sembilan orang tewas --termasuk dua pelaku bom 
bunuh diri-- dan 60 lainnya mengalami luka-luka. Jasad dua pelaku bom bunuh 
diri itu, yang pekan lalu teridentifikasi sebagai Dani Dwi Permana, 19 tahun, 
dan Nana Ikhwan Maulana, 28 tahun, mengalami kerusakan sangat parah. Kepala 
mereka terpisah dari tubuhnya. Ini bisa dimengerti, karena sumber ledakan 
sangat dekat atau bahkan menempel di tubuh mereka, yakni di dalam tas ransel 
dan koper beroda yang mereka bawa.

Serangkaian aksi teror bom di Tanah Air, termasuk sejumlah aksi bom bunuh diri 
yang melibatkan jaringan Noor Din Mohd. Top, ternyata menggunakan bom yang 
diracik sendiri. Ilmu ini diwariskan Dr. Azahari, teroris ahli bom asal 
Malaysia yang tewas dalam penyergapan di Batu, Malang, Jawa Timur, pada 2005. 
Ternyata pula, tak sulit merakit bom kategori low explosive yang kerap disebut 
black powder itu. "Membuat bom itu bukan pekerjaan hi-tech, tetapi industri 
rumah tangga," kata bekas Kepala Badan Intelijen Strategis ABRI, Mayor Jenderal 
(purnawirawan) Zacky Anwar Makarim.

Bahan-bahan bom itu pun relatif murah dan gampang diperoleh di toko-toko kimia. 
Begitu pula bahan untuk detonatornya, yang pada dasarnya adalah bahan peledak 
juga untuk memicu bahan peledak utama. Setidaknya ada 50 jenis bahan kimia yang 
bersifat eksplosif, seperti amonium nitrat, kalium periodat, nitrogliserin, dan 
zirkonium. Senyawa-senyawa kimia itu dapat menimbulkan efek ledakan yang dipicu 
proses gesekan, guncangan, atau percikan api.

Seorang nelayan di Makassar, Sulawesi Selatan, pernah menuturkan bahwa ia bisa 
meracik bom ikan dalam hitungan menit saja. Si nelayan tadi hanya butuh asam 
fosfat, natrium, dan fosfor, yang diaduk menjadi satu. Adonan itu ditambah 
belerang, lalu dibungkus dengan kertas. Racikan ini dimasukkan ke dalam 
plastik, diikat, dan diberi sumbu benang lilin sebagai detonator. Bom sederhana 
seukuran kepalan tangan itu pun siap diledakkan.

Untuk merakit bom yang lebih dahsyat dan lebih maju dari bom ikan tadi, seperti 
yang dilakukan jaringan Noor Din Mohd. Top, ya, tinggal meracik bahan kimia 
yang lebih beragam. Volumenya juga ditingkatkan, serta digunakan booster bom. 
Di beberapa kasus, ditambahkan pula gotri atau mur besi untuk menambah daya 
rusak.

Bom rakitan itu pun lantas dikemas sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Untuk 
sasaran di ruangan dengan kerumunan orang, biasanya bom disembunyikan di rompi, 
tas pinggang, ransel, ataupun koper beroda. Untuk sasaran ruang terbuka, 
biasanya bom dikemas dalam karung dan kontainer plastik, lalu diangkut 
menggunakan mobil.

Makin besar volume peledak, makin dahsyat pula efeknya. Dalam peristiwa bom 
Bali I pada 12 Oktober 2002, misalnya, terungkap bahwa bom mobil yang digunakan 
terbuat dari 1.175 kilogram bahan peledak. Maka, meski daya entak atau laju 
ledakan (value of detonation) bom kategori low explosive itu rata-rata hanya 
sekitar 1.100 meter per detik, efek terjangannya menjadi mengerikan karena 
volume peledaknya sangat besar. Ditambah pula dengan 25 kilogram TNT 
(trinitrotoluena) sebagai booster.

Sempat dicurigai bahwa bom yang diledakkan di depan Sari Club, Denpasar, yang 
menewaskan 200 orang lebih itu berjenis C-4. Soalnya, di lokasi ledakan 
ditemukan sisa-sisa RDX (research development explosive) dan pembungkus 
plastik. RDX, yang nama kimianya cyclotrimethylene trinitamine, merupakan 
komponen utama C-4. Belakangan terungkap, bahan RDX yang sifatnya tidak berbau 
tadi hanya digunakan sebagai komponen detonator pada bom mobil tersebut.

Memang tidak mudah memperoleh C-4. Peledak berbentuk adonan tepung yang padat 
dan dibungkus dengan plastik hijau atau putih transparan ini sangat mahal dan 
eksklusif. Di dunia, C-4 dikenal memiliki daya ledak sangat tinggi (high 
explosive). Makin banyak kandungan RDX dalam C-4, makin besar daya ledaknya. 
Itu pula yang membedakan C-1, C-2, C-3, dan seterusnya. Laju ledak RDX mencapai 
8.500-9.000 meter per detik.

Untuk mendongkrak daya ledak, pada C-4 biasanya ditambahkan bahan lain, seperti 
TNT dan pentaerythritol tetranitrat (PETN). PETN adalah salah satu peledak high 
explosive dengan relative effectiveness factor sebesar 1.66 dan laju ledakan 
8.100 meter per detik. Campuran seimbang antara TNT dan PETN akan menghasilkan 
pentolite, yang digunakan sebagai peledak utama dan booster. Dalam Perang Dunia 
II, peluru bazoka yang berisi 8 oz pentolite mampu mengoyak kendaraan perang 
setebal 12,5 cm.

Jadi, bisa dibayangkan kekuatan C-4 yang mengandung RDX, TNT, PETN. Salah satu 
bom serupa C-4 adalah Semtin Explosive (Semtex) atau biasa disebut bom plastik. 
Peledak buatan Cekoslovakia yang bentuknya kecil dan tak berbau ini sering 
dipakai teroris untuk membajak pesawat. Pada 1988, misalnya, teroris Libya 
menggunakan bom ini untuk menjatuhkan pesawat Pan Am di atas Lockerbie, 
Skotlandia, yang menewaskan 270 orang.

Semtex, C-4, dan RDX hanyalah beberapa jenis dari begitu banyak bahan peledak 
high explosive yang kerap digunakan di dunia, baik untuk kegiatan yang 
bermanfaat, berperang, maupun untuk aksi terorisme. Untunglah, benda berbahaya 
itu tidak mudah diperoleh. Lebih-lebih di Indonesia, di mana terorisnya masih 
menggunakan bom racikan yang low explosive. Sulit membayangkan, apa jadinya 
bila peledak high-explosive tadi sampai jatuh ke tangan jaringan Noor Din Mohd. 
Top yang masih berkeliaran di negeri ini.

Taufik Alwie dan Anthony Djafar
[Laporan Utama, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 13 Agustus 2009] 

BERITA TERKAIT:


 Teror Bom, Siapa Meraup Untung?

 Jejaring Teror Belum Kendur




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke