http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=9852

009-08-19 
Empat Teroris Diburu 


[JAKARTA] Empat anggota jaringan gembong teroris Noordin M Top yang terlibat 
pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, 17 Juli lalu, ditetapkan masuk 
Daftar Pencarian Orang (DPO) Mabes Polri. Mereka kini terus diburu oleh Tim 
Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Keempat orang itu adalah Ustaz Syaifudin Zuhri 
alias Asep, Bagus Budi Pranoto alias Purwah, Muhammad Syahrir alias Aing, dan 
Ario Sudarso alias Suparjo alias Dayat alias Dwi Anggoro alias Aji alias Mistam.

Penetapan keempat DPO Polri tersebut setelah petugas menemukan bukti dan 
keterangan saksi di lapangan terkait keterlibatan mereka dalam pengeboman yang 
menewaskan sembilan orang itu.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna, Rabu (19/8) pagi 
menjelaskan, keempat orang yang masuk DPO itu mempunyai ciri khas, antara lain 
memiliki banyak nama samaran dan KTP.

Dia mengungkapkan, Saefudin Zuhri bin Jaelani Irsad, memiliki nama lain Udin 
alias Soleh. Alamat terakhir Perum Telaga Kahuripan, Parung Bogor Jawa Barat. 
Ciri fisik tinggi 165 cm, bentuk kepala bulat, mata hitam, alis sedang, bibir 
tebal, dan ciri khusus ada kantong mata berwarna hitam.

Zuhri diduga bagian dari pelaku teroris yang meledakkan Hotel Ritz-Carlton dan 
JW Marriott. Dia diduga sebagai perekrut calon eksekutor bom bunuh diri kedua 
hotel mewah tersebut, yakni Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana. Selain 
itu, Zuhri juga adalah ipar dari Ibrohim, otak pengatur pengeboman, yang tewas 
dalam penyergapan di Temanggung, 8 Agustus lalu.

"Posisi keempat tersangka itu terus diburu, dan petugas telah mengetahui 
sejumlah lokasi yang disinyalir dijadikan tempat persembunyian mereka," ujar 
Nanan.

Sejalan dengan itu, polisi juga memburu 11 tersangka pengikut Noordin di 
wilayah Jatim. Posisi kesebelas tersangka, menurut Kasubag Bina Mitra Polwil 
Bojonegoro Kompol Suroto, diduga bersembunyi di sekitar Surabaya, Lamongan, dan 
Bojonegoro.

Identitas sebelas orang yang sudah masuk DPO itu adalah SA, SR, SU, dan MS, 
masing-masing asal Bojonegoro dan Lamongan. Kemudian UC dan AM (Kediri), AH dan 
Dr AP (Surabaya), NC (Bangil), serta RF dan MS (Jombang).

Sumber SP di Mabes Polri mengungkapkan, sebuah tempat di Bogor, Rabu (19/8) 
pagi dalam pengepungan Tim Densus 88. Lokasi tersebut disinyalir bagian dari 
persembunyian jaringan Noordin M Top. 


Aliran Dana

Disinggung mengenai aliran dana dalam jaringan Noordin, Nanan mengungkapkan, 
telah ditangkap dua orang yang diduga sebagai kurir atau perantara pendanaan. 
Mereka adalah Ali, warga keturunan Arab, dan Iwan Herdiansyah. 

Ali ditangkap di kawasan Nagrek, perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten 
Garut. Sedangkan Iwan ditangkap saat akan membuka tokonya di Pasar Cibingbin, 
Kuningan, Jawa Barat. Polisi juga menyita empat komputer miliknya. 

Terkait penelusuran dana jaringan teroris di Indonesia, Kepala Pusat Pelaporan 
dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK), Yunus Hussein menjelaskan, lazimnya 
dana tersebut disalurkan melalui kurir, sehingga sulit dilacak. "Dalam kasus 
pengeboman sebelumnya, terjadi transaksi dalam jumlah kecil, dan umumnya tidak 
ada yang dari luar negeri," kata Yunus.

Transaksi yang sempat terdeteksi dilakukan di 11 wilayah, antara lain di 
sekitar Jakarta, Yogyakarta, Bali, Solo, Poso, dan Makassar.

Untuk kasus pengeboman yang terakhir, sudah ada beberapa informasi yang 
disampaikan oleh Tim Densus dan Bareskrim Mabes Polri. "Saat ini sedang 
diperdalam oleh PPATK," ujarnya tanpa memerinci informasi dimaksud.


Tak Rusak Citra

Sementara itu, delegasi 15 negara peserta program "Presidential Friends of 
Indonesia 2009" menegaskan, tragedi bom Mega Kuningan, 17 Juli lalu, yang 
menewaskan sembilan orang, tidak merusak citra Indonesia sebagai negara 
demokrasi yang damai.

"Kami ikut berbagi kesedihan atas apa yang terjadi. Kami juga mengutuk 
perbuatan-perbuatan mengerikan ini. Tetapi reputasi Indonesia tidak hancur 
akibat pengeboman ini. Dan, salah satu alasannya, Indonesia telah sukses 
melawan teroris selama dua tahun terakhir," ungkap Dubes HAM Swedia, Jan Axel 
Nordlander, Selasa (18/8).

Selain Swedia, juga hadir delegasi dari Australia, Brasil, Tiongkok, Mesir, 
India, Jepang, Korea, Rusia, Afrika Selatan, Thailand, AS, dan Inggris. 
Nordlander mengatakan, selain upaya melawan terorisme oleh kepolisian, tindakan 
yang tidak kalah penting dilakukan adalah terus memberikan dukungan bagi 
suara-suara Islam moderat yang menempati posisi mayoritas di Indonesia. 

Penegasan serupa disampaikan Muhammad Usman, utusan dari Mesir. "Tidak ada yang 
perlu dikhawatirkan untuk datang ke Indonesia. Sebab saya tahu persis terorisme 
adalah tindakan individual. Kami juga yakin teroris di manapun dapat 
dikalahkan," katanya. [G-5/153/D-12/E-9]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke