http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9860

 2009-08-19
Nasib Pertanian Kita


Ali Khomsan
Dampak pemanasan global mulai dirasakan. Kekeringan mulai melanda dan 
petani-petani kita menjerit karena kemungkinan sawahnya akan puso. Tanpa 
kekeringan saja, hidup petani sudah susah, apalagi ditambah bencana kelangkaan 
air akibat musim kering berkepanjangan. Ketahanan pangan nasional dapat 
terganggu apabila petani gagal panen. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah 
kesejahteraan petani akan semakin terpuruk.

Selama ini, kita belum berhasil mengangkat derajat ekonomi petani. Meski setiap 
hari mereka rajin ke sawah, namun kemiskinan adalah yang paling akrab menemani 
petani-petani kita. Nasibnya tidak membaik meski pemerintahan sudah berganti 
berkali-kali.

Populasi petani kita lebih banyak didominasi oleh petani gurem dengan pemilikan 
lahan sangat sempit. Hal ini membuat sektor pertanian tidak lagi menjadi sektor 
yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dalam periode 10 tahun, 1993-2003, jumlah petani gurem, yang semula 10,8 juta, 
bertambah menjadi 13,7 juta orang. Pada 2002 dari total penduduk miskin di 
Indonesia, lebih dari separuh adalah petani yang tinggal di pedesaan. Data 
persentase penduduk miskin usia 15 tahun ke atas, menurut 
provinsi/kabupaten/kota dan sektor bekerja pada 2003 (BPS, 2004), terbesar 
adalah mereka yang bekerja di sektor pertanian. 

Persoalan lain yang dihadapi sektor pertanian kita adalah kenyataan, 
produk-produk pertanian Indonesia tidak mampu bersaing dengan produk dari 
negara tetangga, seperti, Thailand dan Vietnam. Di mal-mal atau tempat 
penjualan buah, konsumen lebih senang memilih buah impor yang penampilan 
fisiknya bagus, rasanya enak, dan harganya terjangkau. Mencari apel Malang 
rasanya lebih sulit daripada mendapatkan apel Washington, apel Taiwan, dan apel 
Tiongkok. 

Di negara kita, cukup banyak universitas yang memiliki fakultas pertanian 
dengan bidang ilmu agronomi, hama dan penyakit, agroklimatologi, ilmu tanah, 
mekanisasi pertanian, dan lain-lain. Hal ini seharusnya menjadi titik kekuatan 
pembangunan pertanian. Sayangnya, banyak sarjana pertanian yang tidak tertarik 
bekerja di bidang pertanian. 

Penyebab ketidakmampuan bangsa ini untuk membangun pertanian yang tangguh 
sangat kompleks. Sebagian orang beranggapan riset pertanian masih sangat lemah. 
Riset pertanian di negara kita dilakukan oleh lembaga-lembaga penelitian yang 
bernaung di bawah Deptan dan perguruan tinggi yang memiliki fakultas pertanian. 
Para peneliti adalah pegawai negeri dengan gaji maksimal Rp3 juta per bulan. 
Minimnya penghasilan peneliti disinyalir menjadi penyebab rendahnya kualitas 
riset.


Kebutuhan Standar

Membandingkan peneliti luar dengan peneliti Indonesia ibarat menyandingkan 
harimau dengan kucing. Kalau harimau mampu menangkap rusa, maka kucing hanya 
bisa memburu tikus. Jadi, logis kalau penelitian pertanian di Indonesia tidak 
maju-maju atau bahkan mungkin kurang bermanfaat bagi upaya pemenuhan kebutuhan 
pangan seluruh bangsa ini.

Peneliti pertanian dengan tututan kinerja yang tinggi tentu harus dibayar 
secara layak. Gajinya harus mencukupi kebutuhan standar sebagai seorang 
peneliti yang umumnya bergelar master atau doktor, dengan jabatan ahli peneliti 
utama atau profesor. Peneliti pertanian yang mumpuni tidak perlu lagi 
memikirkan pekerjaan sambilan untuk menutupi biaya dapur. 

Di Indonesia, setiap saat peneliti, baik di lembaga penelitian pertanian maupun 
di universitas, harus berakrobat menciptakan proyek-proyek riset atau pekerjaan 
sampingan lainnya dengan harapan honornya bisa untuk menutup kebutuhan hidup. 
Sangat ironis bahwa akhirnya riset yang dilakukan oleh peneliti di Indonesia 
terkontaminasi antara idealisme ilmiah dan idealisme untuk asap dapur.

Potret seperti ini menggambarkan buramnya kehidupan penelitian pertanian di 
Indonesia. Keinginan untuk menempatkan riset sebagai pilar membangun pertanian 
akhirnya terkendala oleh sistem pengelolaan penelitian yang belum optimal. 

Baru-baru ini, Deptan mengadakan kolaborasi riset bersama perguruan tinggi 
dengan melibatkan mahasiswa pascasarjana. Dana yang tersedia kurang lebih Rp 
100 juta untuk setiap judul penelitian. Bayangkan, tiga mahasiswa pascasarjana 
dan 2-3 dosen/peneliti Deptan harus menghasilkan karya penelitian yang bermutu 
dengan dana hanya Rp100 juta. Suatu jumlah yang relatif kecil untuk dapat 
menghasilkan temuan iptek pertanian yang baik. 

Peneliti pertanian di Deptan/universitas se-Indonesia jumlahnya mungkin ribuan 
orang. Mereka harus bersaing memperebutkan dana penelitian yang terbatas. Kalau 
sudah 2-3 kali mengajukan proposal dan gagal akhirnya putus asa tidak mau 
mencoba lagi. Penelitian pertanian dan bidang-bidang lain akhirnya mandek dan 
nasib pertanian kita makin merosot, karena tidak didukung iptek yang memadai.


Penulis adalah Guru Besar Pangan dan Gizi IPB


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke