Refleksi : Program menanggulangi kemiskinan bisa banyak, tetapi apakah diimplementasi ataukah sekadar adpertensi ibarat bedak penghias muka bopeng?
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=10609 2009-09-23 Menanggulangi Kemiskinan Dunia masih dililit persoalan kemiskinan yang nyaris tak pernah terselesaikan. Di Tanah Air, dengan mudah kita dapat menjumpai fakir miskin dengan tangan terulur menunggu belas kasih sesamanya yang memiliki rezeki berlebih. Mereka bukannya tidak berkarya, tetapi sudah bekerja keras, namun apa pun yang sudah mereka lakukan, toh tetap miskin. Mohamad Nasir, seorang peneliti, mencatat begitu banyak pengemis di negeri ini yang menggantungkan harapan pada belas kasihan orang. Padahal, sudah begitu banyak program pengentasan orang miskin yang digulirkan dengan menggunakan uang rakyat, namun angka kemiskinan begitu sulit ditekan, apalagi diberangus. Tanpa bermaksud menggurui para ahli ekonomi di negeri ini, sebagai bangsa kita diajak memiliki kepedulian yang sama untuk "menyelamatkan" kaum miskin dari republik ini. Mekanismenya sudah ada, antara lain melalui zakat, perpuluhan, membayar pajak secara jujur dan tepat waktu, dan lebih-lebih, menghindari perbuatan koruptif. Kita sudah punya undang-undang dan institusi yang diberi wewenang khusus untuk menindak koruptor, namun hasilnya belum maksimal lantaran tidak pekanya perasaan kasih sayang kalangan pengelola uang rakyat di negeri ini. Terkait hal itu dan bertepatan dengan momentum Lebaran, kali ini, mari kita renungkan ajakan Pak Yudi Latif PhD, mantan Wakil Rektor Universitas Paramadina Jakarta, yaitu "...hanya yang punya hati nurani yang bisa bicara dari hati ke hati dan mampu mendengar hati nurani rakyat". Ir Sarjito Volunteer NGO Tinggal di Lhokseumawe, NAD [email protected] [Non-text portions of this message have been removed]
