http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?ses=&id=32213

4 September 2009 14:55:57




Menyusup ke Sarang MILF, Di Mindanao (1)


--------------------------------------------------------------------------------



Wawancara sambil Diawasi 10 Orang Bersenjata
Moro Islamic Liberation Front (MILF) sekarang ini masih menjadi organisasi 
paling "memusingkan" pemerintah Filipina. Mempunyai tak kurang dari 125 ribu 
tentara serta punya akademi militer sendiri (yang juga sering dipakai oleh 
kelompok Islam militan Indonesia), banyak daerah di Mindanao Selatan yang masih 
dalam penguasaannya. Wartawan Jawa Pos Kardono Setyorakhmadi menyusup ke salah 
satu kamp MILF dengan segenap liku-likunya.
------------------------------ -

SAYA tak pernah membayangkan harus melalui rute sesulit ini untuk bertemu dan 
berwawancara dengan Mustafa Aid Kabalu, orang nomor tiga MILF yang sekaligus 
juru bicara kelompok itu, di Cotabato City. Berjalan memasuki hutan yang penuh 
jebakan dan sniper selama enam jam, disambung dengan penyeberangan kawasan 
rawa-rawa menggunakan pump boat selama empat jam.
Wawancara saya kali ini juga dilakukan dengan penjagaan paling ketat di antara 
yang pernah saya alami. Betapa tidak, ketika saya mewawancarai dia, sedikitnya 
ada 10 orang bersenjata yang mengawasi wawancara tersebut.
Dua penjaga berada di halaman rumah dan delapan lainnya bersiaga di samping 
kanan, kiri, serta depan luar rumah tersebut. Di sepanjang jalan selebar 3 
meter di depan rumah di bagian utara Cotabato City tersebut, masih banyak 
anggota MILF lainnya. Mereka juga tinggal di rumah itu. Kata penunjuk jalan 
saya, rumah tersebut juga mempunyai jalan keluar tersembunyi. 
Kabalu bersikap hati-hati ketika menerima saya. Namun, setelah saya mengenalkan 
diri lebih jauh, sikap yang awalnya kaku langsung cair. Bahkan semakin ramah 
ketika tahu bahwa saya muslim dan pernah melakukan tugas jurnalistik di 
Palestina. "Ahlan wa sahlan, akhi (selamat datang, saudaraku, Red)," ucapnya 
bersahabat dengan muka tersenyum. 
Seusai wawancara, saya menanyakan bagaimana dia cukup percaya diri untuk tak 
bersembunyi dalam sebuah kamp di tengah hutan, misalnya" Dia langsung tertawa 
dan menjawab, "Jika AFP (Armed Forces of Philippines, Angkatan Bersenjata 
Filipina, Red) menangkap saya, mereka bodoh. Situasi akan lebih memburuk," 
ucapnya percaya diri.


Selain itu, dia menyatakan bahwa memang ada kemungkinan tentara menangkap 
dirinya dan memang dirinya menjadi salah satu target tentara. "Tapi, itu hanya 
akan terjadi bila tak waspada (not alerted). Bila Anda waspada, sejam sebelum 
tentara datang, Anda sudah tak ada di tempat," ujarnya lantas tersenyum. Jadi, 
intelijen Anda, tampaknya, cukup bagus, sehingga bisa mengetahui rencana 
penyerbuan beberapa waktu sebelumnya" "Dalam suasana konflik, Anda pasti akan 
selalu waspada, bukan?" katanya. 


Aid Kabalu dan sejumlah tokoh MILF lainnya memang patut percaya diri. Penunjuk 
jalan saya yang juga seorang perwira di MILF mengungkapkan bahwa "musuh" MILF 
memang hanya AFP. Bagaimana dengan polisi" "Dengan polisi, kami malah dekat. 
Bila ada pertempuran, biasanya polisi hanya mencari tempat berlindung dan tak 
mau tahu," tuturnya. Singkatnya, polisi regional di Mindanao Selatan bersikap 
cuek bila ada konflik antara MILF dan AFP. Prinsip para polisi itu: perang 
bukan urusan saya. Kalau mau perang, perang aja sana"


Saat ini, sebenarnya muslim Moro merupakan kelompok minoritas di Mindanao. Di 
antara total sekitar 20 juta jiwa penduduk yang mendiami Mindanao, jumlah 
muslim Moro mungkin hanya sepuluh persen atau sekitar dua juta jiwa. 
Kebanyakan mereka berada di kawasan Mindanao Tengah (Marawi, North Cotabato, 
dan Cotabato City) serta di Mindanao Selatan (Buluan, Sultan Kudarat, 
Tipu-Tipu, dan General Santos). Pusat pemerintahan MILF terletak di sebuah kamp 
nonmiliter di Kamp Darapanan, 10 km ke Utara Cotabato City. Selain pusat 
operasional, kamp itu menjadi jujukan tim peninjau dari negara-negara asing 
terkait konflik bersenjata MILF dengan pemerintah Filipina.


Sejarah konflik tersebut sangat panjang. Pada abad ke-16, kaum muslim Moro 
sudah mengangkat senjata melawan penjajahan Spanyol. Tapi, mereka kurang 
berhasil, bahkan malah terdesak ke daerah selatan. Perjuangan muslim Moro terus 
berlanjut hingga pendudukan Amerika pada abad ke-18. Nah, konflik kontemporer 
yang terjadi hingga sekarang ini bermula pada 1972. Ketika itu, Presiden 
Ferdinand Marcos menerapkan kondisi perang "Martial Law". Akibatnya luar biasa. 
Terjadi konflik horizontal antara suku muslim dan nonmuslim di Mindanao 
Selatan. Perang tersebut memusnahkan banyak perkampungan muslim. Banyak tanah 
dan harta milik kaum muslim Moro yang berpindah tangan.


Uluran tangan persaudaraan dari Libya pun sempat mampir. "Banyak di antara kami 
yang kemudian belajar ke Libya. Saya juga termasuk salah seorang lulusan 
Libya," jelas Kabalu.  Untuk membuat perjuangan lebih terorganisasi, para 
pejuang Moro kemudian membentuk Moro National Liberation Front (MNLF) di bawah 
pimpinan Dr Nur Misuari.


Namun, dalam perkembangannya, kelompok tersebut terpecah. Mula-mula pada Juli 
1982, MILF didirikan di bawah pimpinan Ustad Salamat Hashim. "Ada sejumlah 
perjanjian yang diteken MNLF yang tak sesuai dengan kaidah perjuangan kami. 
Karena itu, kami kemudian memilih berpisah dan mendirikan MILF," tutur Kabalu.


Perjanjian yang diteken tersebut memang memberikan otonomi khusus kepada bangsa 
Moro. Namun, secara keseluruhan justru menunjukkan bahwa bangsa Moro takluk 
kepada pemerintah Filipina. Selanjutnya, MNLF lagi-lagi pecah. Setelah MILF 
yang mayoritas dari suku Manguindanao, Maranao, dan Iranon, suku Taosug dan 
suku Yakan di Basilan mendirikan kelompok baru lagi, yakni kelompok Abu Sayyaf. 


Menurut Senior Liaison Officer (SLO) Kepolisian KBRI di Filipina Kombes Pol 
Moh. Nur Usman, ada empat kelompok bersenjata yang dianggap "pemberontak" oleh 
Filipina. Yakni, MILF, MNLF, Abu Sayyaf, dan NPA (New People"s Army), sebuah 
kelompok komunis yang bercita-cita menjadikan Filipina menjadi negara komunis. 
"Tapi, yang dianggap paling berat adalah MILF," tutur Usman. 


Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya tersebut menuturkan, sejauh ini, MNLF 
memang dianggap sudah "melunak" dan kooperatif. Sementara itu, Abu Sayyaf 
dikategorikan lebih seperti "bandit". Dengan "hobi" menculik dan merampok warga 
asing, kelompok yang namanya berarti "Pembawa Pedang" itu dianggap belum 
menjadi ancaman berarti. "Apalagi, platform perjuangannya lebih mengarah ke 
perang global, memerangi Amerika," ungkap perwira dengan tiga mawar di pundak 
tersebut. 


Sementara itu, meski tersebar di mana-mana, NPA belum menunjukkan kemampuan 
militer yang memadai. Persenjataan mereka rata-rata didapatkan dari gun 
store-gun store yang tersebar di Filipina. Paling banter, persenjataan mereka 
hanyalah senapan otomatis seperti M-16.


Hal itu berbeda dari MILF. Selain personelnya paling banyak dan mempunyai 
akademi militer sendiri, persenjataan kelompok tersebut paling lengkap. Mereka 
mempunyai senjata anti serangan udara, bahkan RPG (senapan anti-tank). 
"Beberapa kali utusan NPA datang kepada kami untuk beli persenjataan berat. 
Tapi, tak pernah kami beri," tegas Mario, nama samaran untuk guide saya, dalam 
perjalanan mengantarkan saya ke Kamp Abu Bakar. Dia memang tak mau saya 
mengutip nama aslinya dengan alasan keamanan. Kabalu mengklaim bahwa pihaknya 
kukuh mempunyai basis kuat di sejumlah daerah karena didukung masyarakat 
setempat. "Kami tak mungkin kuat bila tidak didukung rakyat," ucapnya. 


Pada 1995, sepanjang Cotabato City hingga Marawi (yang berjarak sekitar 200 km 
ke arah utara) dan ke arah Buluan (sekitar 200 km ke arah selatan) menjadi 
daerah kekuasaan MILF. Ditambah, ketika itu dibantu oleh orang-orang JI (Jamaah 
Islamiyah), banyak bermunculan kamp militer.
Menurut Mario, akademi militer tersebut betul-betul mengakomodasi akademi 
pelatihan militer di Afghanistan. "Semua yang dipelajari persis sama," urainya. 


Karena itu, racikan bom di Filipina maupun Indonesia sama semua. "Ramuannya ya 
itu, black powder selalu menjadi andalan. Karena keterbatasan bahan baku, kami 
memang harus menggunakan apa yang tersedia saja," jelas seorang anggota senior 
JI Indonesia yang pernah menjadi instruktur di kamp-kamp militer tersebut.


Tak seberapa lama, Kamp Abu Bakar kemudian berdiri. Yang disebut Kamp Abu Bakar 
sebenarnya adalah sebuah kamp induk seluas lebih dari 10.000 hektare yang di 
dalamnya terdiri atas sekitar 15 kamp. Saking luasnya, wilayah Kamp Abu Bakar 
itu masuk ke dalam enam kota. Yang termasuk menjadi bagian adalah Kamp 
Hudaibiyah, sebuah kamp yang didirikan Nasir Abbas, mantan anggota JI dari 
Malaysia yang telah menulis dua buku mengenai pengalamannya semasa menjadi 
anggota JI. (lea)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke