Refleksi : Bisa abadi para korban gempa bumi tinggal di tenda, karena misalnya hingga kini sebahagian korban tsuami belum mendapat rumah sekalipun biaya bantuan luarnegeri US$4,-- miliar, duitnya suah habis. Contoh lain ialah sebahagian korban lumpur Lapindo masih belum juga selesai masalahnya.
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=100214 Korban Gempa Tagih Rekonstruksi Bangunan Minggu, 27 September 2009 , 21:44:00 GARUT, (PRLM).- Warga korban gempa bumi pada 2 September lalu yang permukimannya porakporanda mempertanyakan rencana rekonstruksi bangunan yang rusak oleh pemerintah. Selain sudah tak nyaman tinggal di tenda-tenda darurat, mereka juga tak punya tempat berteduh padahal beberapa waktu ke depan musim hujan segera datang. Salah satu warga korban gempa, Agnan (70) mengaku sudah tidak sanggup tinggal di tenda darurat sejak rumahnya ambruk diguncang gempa. "Tenda tidak senyaman rumah, lama-lama bisa sakit kalau terus-terusan hidup di tenda," ujarnya, ketika ditemui saat membereskan puing-puing rumahnya di Kp. Godokdesa, Desa Lebakagung, Kec. Karangpawitan, Kab. Garut, Minggu (27/9). Akibat gempa berkekuatan 7,3 skala Richter tersebut, di Kab. Garut sekurangnya 45.875 rumah rusak yang terdiri dari 13.139 rusak berat, 7.037 rusak sedang serta 25.699 rusak ringan dengan total perkiraan kerugiannya mencapai Rp 541.988.550.000. Disusul kerugian fasilitas sosial Rp198.667.224.000, lintas sektor Rp12.262.064.000, sehingga total kerugian seluruhnya mencapai Rp 752.917.838.000. Kerugian tersebut belum terhitung akibat infrastruktur serta ekonomi produktif. Untuk kawasan Kp. Godokdesa, sedikitnya 390 KK terkena dampak bencana gempa, 60 KK di antaranya mengalami kerugian kerusakan fisik bangunan tempat tinggal dan beberapa sarana warga cukup parah hingga kini belum ada perbaikan. Kepala Desa Lebak Agung Aep Saepudin menyatakan, bantuan yang mengalir ke warganya baru sebatas kebutuhan konsumsi makanan dan hanya bersifat sementara. Sedangkan yang bersifat permanen seperti bahan untuk bangunan belum pernah diterima. "Kalau bantuan yang bersifat sementara sudah diterima berupa bantuan makanan. Kalau yang bersifat permanen hingga kini belum ada," katanya. Menurut dia, hingga kini sebagian besar warganya belum meninggalkan tenda pengungsian untuk kembali ke rumahnya yang masih hancur. Selain masih dihantui trauma, mayoritas warga belum memiliki dana untuk perbaikan yang menelan biaya besar akibat keterbatasan kemampuan ekonomi mereka yang sebagian besar berprofesi buruh tani tersebut. Hal senada diungkapkan Aman (73) tokoh masyarakat Kampung Karees, Desa Sagara, Kec. Cibalong. "Dengan semakin dekatnya musim hujan, pemerintah harusnya segera melakukan proses rekontruksi terhadap rumah warga yang rusak yang diakibatkan bencana gempa. Terlebih hingga kini sebagian besar warga yang mengalami kerusakan fisik bangunan belum ada yang diperbaiki. Kalau sudah hujan turun, mau berteduh di mana," katanya. (A-158/das)** [Non-text portions of this message have been removed]
