Refleksi : Salah satu gejala dari masyarakat kontemporer ialah makin kaya penduduknya makin banyak pulah sampahnya. Jakarta adalah pusat timbunan kekyaan dari berbegai penjuru, jadi tidak heran banyak orang kaya raya berdomisil, maka oleh karena itu sampah mereka pun bertumpuk banyak. Ilusi mendapat rejeki di pusat kemegahan membuat arus urbanisasi yang sulit diatasi. Masyarakat berkekurangan bin miskin melarat sipaksakan hidup dari sampah-sampah mereka yang berkelebihan limpahan. Apa yang pernah dikatakan oleh Kenneth Galbraith tentang doktrin taik kudanya, yaitu burung gelatik mencicip sisa-sisa gandum yang tidak terkunyak oleh kuda, sudah daluwarsa bagi NKRI. Di NKRI berlaku dokrtin lebih canggih lagi yaitu doktrin sampah.
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/09/29/12575410/Tiap.Dua.hari..Jakarta.Membangun.Candi.Borobudur.Dari.Sampah Tiap Dua hari, Jakarta Membangun "Candi Borobudur" Dari Sampah Ilustrasi gunungan sampah /Selasa, 29 September 2009 | 12:57 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Tiap dua hari sekali, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mampu membangun sebuah bangunan sebesar Candi Borobudur dari volume sampah yang dihasilkan warga ibu kota. Pasalnya, hingga akhir 2008 total jumlah timbunan sampah DKI Jakarta mencapai 27.966 m2/hari, atau 6.663 ton/hari. "Jadi tiap dua hari pemerintah DKI bisa membangun satu Candi Borobudur, karena, volume Candi Borobudur 55.000 meter kubik," kata pakar teknologi lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali dalam diskusi "Sarat Pencakar Langit, Jakarta Tak Miliki Tempat Pembuangan Akhir Sampah" di Jakarta, Selasa (29/9). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga kini belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. DKI Jakarta masih sangat tergantung pada Bekasi, Tangerang, dan Bogor untuk menampung sampah yang dihasilkannya. Bahkan, 72 persen sampah di DKI Jakarta diangkut ke TPA Bantargebang, Bekasi. Sementara, 28 persen sisanya tersebar di sembarang tempat, di jalan, saluran air, sungai dan tempat lainnya. Lebih lanjut Firdaus mengatakan, kapasitas sistem pengelolaan sampah yang dimiliki DKI Jakarta baru mampu menangani 85 persen dari total timbunan sampah yang yang dihasilkan DKI Jakarta. Kondisi armada, alat dan sumber daya manusia, yang dimiliki DKI Jakarta pun hanya sekitar 40 persen. "Sementara ruang wilayah perkotaan semakin terbatas. Untuk mendapatkan TPA susahnya setengah mati," katanya. [Non-text portions of this message have been removed]
