http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009093005583711
Rabu, 30 September 2009
Noordin Bentuk Sel-Sel Baru
JAKARTA (Lampost): Mabes Polri mengungkapkan gembong teroris Noordin M.
Top yang tewas dalam penyergapan di Desa Jebres, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah,
17 September lalu, telah mengembangkan jaringannya dalam sel-sel baru.
Hal itu terlihat dari dokumen serta video dalam komputer jinjing Noordin
yang disita polisi dari tempat penyergapan di Desa Jebres. "Ada indikasi sangat
kuat hubungan dengan luar terbangun kembali. Ada kemampuan network ini
membangun sel baru," kata Kombes Tito Karnavian, penyidik utama Tim Antiteror
Mabes Polri, Selasa (29-9).
Dalam jumpa pers itu, Tito menyampaikan Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan
Maulana, pelaku bom bunuh diri, sangat termotivasi meledakkan Hotel J.W.
Marriott dan Ritz Carlton. Dalam video tertanggal 21 dan 23 Juni 2009 yang
direkam Syaifudin Zuhri menggambarkan Nana dan Dani menyurvei target sambil
melakukan olahraga pagi.
Dalam video itu terdapat percakapan antara Dani dan Zuhri yang mengatakan
bunuh diri adalah perbuatan frustrasi, tetapi bom bunuh sebagai perintah Allah
yang bersifat fardu ain. Zuhri kemudian mengucapkan 'Amerika hancur, Australia
hancur, Indonesia juga hancur'.
Memusuhi Demokrasi
Tito mengungkapkan gaya serangan teroris di Indonesia ada sedikit
perubahan. Jika sebelumnya fasilitas Barat menjadi tujuan serangan, kini
pemerintah Indonesia dijadikan target karena dinilai memfasilitasi demokrasi.
"Indonesia dianggap memfasilitasi demokrasi yang diperjuangkan Barat," ujar
Tito dalam jumpa pers di Mabes Polri, kemarin.
Komputer milik Noordin juga menyimpan rekaman video tentang sepucuk surat
yang ditulis Syaifudin Zuhri kepada keluarga ipar Ibrohim, teroris yang tewas
di Temanggung.
Dalam surat itu, Zuhri mengungkapkan di organisasinya ada yang bertugas
mengurus dana dan merekrut orang. Ada pula yang menjaga keluarga mujahid,
pencari mobil, ulama pemberi fatwa dan arahan, pembeli bahan peledak dan
senjata, serta utusan dalam negeri dan urusan politik. "Ada yang bikin film,
ada yang antarjemput, dan ada yang menjadi relawan sahid," kata Kepala Unit
Cyber Crime Mabes Polri Kombes Petrus, Reinhard Golose, menyebutkan isi surat
Zuhri.
Fakta lain yang disampaikan polisi, dana operasional Noordin mengucur
dari dalam maupun luar negeri. Dari luar negeri itu seorang warga Arab Saudi.
Polisi memiliki bukti Muhammad Jibril dan Zuhri pernah berangkat bersama
ke Arab Saudi. Jibril menggunakan paspor asli, tetapi bukan atas nama dirinya.
Jibril berkelit paspor miliknya telah hilang.
Dalam kasus bom Marriott-Ritz Carlton, Densus 88 Antiteror menangkap
delapan tersangka, yaitu Amir Abdillah, Aris Susanto, Indra Haris Hermawan,
Rohmad Budi Santoso alias Bejo, Supono alias Kedu, Putri Munawaroh, M. Jibril,
dan Ali Muhammad.
Secara terpisah, pemerhati terorisme Mardigu W.P. mengatakan selain
melancarkan aksi pengeboman, Noordin dan para pengikutnya juga menyiapkan
rencana menyulut konflik agama di Indonesia. Dua daerah yang telah digarap
Noordin dkk. adalah Ambon dan Poso, yang telah menelan ribuan korban jiwa.
Menurut Mardigu, setelah Ambon dan Poso, target berikutnya Manado,
Sulawesi Utara, karena komposisi penduduknya berimbang dalam hal agama. "Dibuat
bom di gereja, kemudian disangka umat Islam yang melakukan. Supaya Islam dan
Kristen perang. Ini dilakukan di daerah yang penduduknya fifty-fifty pemeluk
agamanya, seperti Manado," kata Mardigu, Selasa (29-9).
Mardigu yang kerap dilibatkan Polri dalam penanganan terorisme menuturkan
rencana menimbulkan aksi pertikaian agama ini terpampang jelas dalam komputer
Noordin.
Untuk sasaran pengeboman, kata Mardigu, Noordin dkk. masih memilih Bali
sebagai target utama karena banyaknya warga asing di sana. Namun ada juga
kota-kota lain yang menjadi sasaran kedua dengan alasan banyak kepentingan
Barat. "Jakarta, Surabaya, dan Balikpapan, menjadi target setelahnya," ujarnya.
n U-1
[Non-text portions of this message have been removed]