Jawa Pos
[ Rabu, 30 September 2009 ] 


Densus Bidik Jamaah Ansharut Tauhid dan Abu Bakar Ba'asyir 
Laptop Noordin Beber Aksi Bomber Kuningan 


JAKARTA - Mabes Polri membeberkan isi laptop Noordin M. Top kemarin. Meski yang 
ditunjukkan hanya sekitar 10 persen dari total informasi yang didapat dari 
penggerebekan di Mojosongo, Solo (17/9), data itu sudah cukup membuka tabir di 
balik aksi pengeboman di Mega Kuningan, Jakarta (17/7). 

Laptop itu berisi rekaman video survei yang dilakukan duo pengebom JW Marriott 
dan Ritz-Carlton, Na­na Ichwan Maulana dan Dani Dwi Permana. Juga ada petikan 
surat Syai­fuddin Zuhri yang belum sempat dikirim untuk ke­luarga. 

"Masih banyak data yang kita simpan untuk kepentingan penyidikan," kata Kepala 
Unit V Cybercrime Bareskrim Mabes Polri Kombespol Dr Petrus Reinhard Golose di 
Ruang Rupatama Mabes Polri, Jakarta, kemarin (29/9). 

Selain Petrus, hadir Kadiv Humas Irjen Nanan Soekarna dan Kasubden Intelijen 
Densus 88 Kombes Tito Karnavian. "Semua yang ada di laptop ini fakta, bukan 
rekayasa," kata Petrus. Selain membeberkan isi laptop, polisi menjelaskan 
perkembangan penyelidikan terhadap tersangka kasus terorisme. 

Salah satunya tentang dua tersangka yang merupakan anggota organisasi Jamaah 
Ansharut Tauhid (JAT). "Aris dan Indra yang kita tangkap di Temanggung ada­lah 
anggota Jamaah Anshorut Tau­hid," kata Petrus. JAT adalah organisasi yang 
dipimpin Abu Bakar Ba'asyir. "Diselidiki itu belum tentu salah," kata Kadiv 
Humas Irjen Nanan Soekarna.

Menurut Nanan, semua informasi yang didapat di lapangan akan dikembangkan. "Ada 
intelijen, ada penyidik, ada stricking for­ce (tim penyerang). Mereka punya 
peran masing-masing," katanya. Kasubden Intelijen Densus 88 Kombes Tito 
Karnavian menjelaskan, ada beberapa organisasi yang mendukung gerakan Noordin. 

Di antaranya organisasi yang di­sebut Mujahidin Kompak. "Kom­pak itu awalnya 
Komite Penanggu­langan Krisis di Ambon, tapi beberapa oknumnya ternyata gemas 
dan sebal dengan kejadian yang ada dan menjadi pendukung Noordin," kata Tito. 
Namun, kata alum­nus terbaik Akpol 1986 itu, jumlah oknum Kompak sekarang 
semakin sedikit. "Kompak itu old times (masa lalu). Nah, yang baru itu JAT," 
kata Tito. 

Penyebutan JAT secara terbuka oleh polisi langsung direspons keras aktivis 
jamaah yang berdiri pada 17 September 2008 itu. "Polisi merekayasa," kata Juru 
Bicara JAT Fauzan Al Anshori kepada Jawa Pos kemarin. 

Menurut Fauzan, dalam JAT tidak ada kartu anggota. Siapa pun boleh bergabung. 
"Kalau itu di­arahkan ke JAT, sasarannya Abu Bakar Ba'asyir. Sebab, sekarang 
Ustad Abu adalah amir JAT," katanya. 

Fauzan menduga polisi berusaha memberikan alur hukum untuk menjerat Abu Bakar 
Ba'asyir. "Re­kayasanya begitu. Sasaran antara Noordin, tapi yang utama justru 
Ustad Abu," ujarnya. Fauzan juga meragukan data Noordin yang dibeber polisi.

"Kalau namanya tanzhim sirri, itu berarti rahasia. Tidak mungkin Noordin 
seceroboh itu," katanya. Bahkan, lanjut Fauzan, polisi sengaja mem-blow-up isi 
laptop ka­rena Noordin sudah tewas. "Ti­dak bisa diverifikasi kebenarannya di 
pengadilan," katanya.

Namun, polisi tetap yakin bahwa semua data itu otentik. "Bagaimana mungkin kita 
merekayasa. Ini temuan di lapangan," kata Petrus. Salah satunya surat 
Syaifuddin Zuhri. "Dia menjelaskan sendiri strukturnya," katanya. 

Surat itu berbunyi, "Kita adalah organisasi yang rapih pemimpinnya ada 
bendaharanya, ada yang ngurusin dana, ada yang tugasnya cari orang alias 
profokator, ada ulama yang memberikan fatwa dan pengarahan, ada yang jagain 
keluarga mujahid, ada yang cari mobil, ada yang cari bahan peledak, cari 
senjata, ada yang urusan dalam dan luar negeri, urusan politik ancaman untuk 
musuh, ada yang kerjaannya bikin film rekam­an, ada yang tukang antar jemput 
pesan/orang/barang/surat, ada yang menjadi relawan syahid dan lain sebagainya".

Syaifuddin, tampaknya, juga jeng­kel terhadap teman-temannya yang hengkang dari 
dakwah dan bekerja di kedutaan sebagai pe­nerjemah. "Yang berubah adalah 
pemimpin-pemimpin atau qiyadah-qiyadah yang telah menjual prinsip-prinsip suci 
dan fundamental ke sampah, meneruskan dakwah-dakwah di Kedutaan RI yang 
berujung pada sikap tak jelas kawan-lawan dan bermuamallah dengan thagut-thagut 
KBRI," tulis Syaifuddin. 

Selain itu, dia mengeluh karena gagal merekrut beberapa temannya untuk 
bergabung. "Teman-teman Indonesia tidak ada yang memahami pergerakan Udin ini 
ka­rena sudah antipati dan menu­duh Udin ikut gerakan salafi muk­bil," tulisnya 
dalam surat. Salafi Mukbil adalah aliran salafi yang didirikan Syekh Mukbil ibn 
Hadi al-Wad'i. Syaifuddin belajar aliran itu di Yaman pada 1991. 

Dalam video itu juga ada rekaman aktivitas Nana Ichwan Maulana dan Dani Dwi 
Permana. Di antaranya, mereka pernah jogging di sekitar Hotel JW Marriott 
bersama Syaifuddin Zuhri. Sumber Jawa Pos pernah menceritakan ini tiga minggu 
setelah peledakan (Bu­ru Teroris Penyuka Parfum, Jawa Pos/10 Agustus 2009). 

Dani tampak tenang dan mantap dalam melaksanakan aksinya. "Ini adalah perintah 
fardhu ain (wajib) dan bagi yang meninggalkan itu dosa," ujarnya dalam tayangan 
vi­deo berdurasi dua menit itu. 

Syaifuddin juga sempat menyebut Dani dan Nana sebagai mujahidin (orang yang 
berjihad). Dalam rekaman video tertanggal 28 Juni 2009, Syaifuddin yang 
berbicara sambil merekam gambar duo bomber itu juga secara jelas menyebutkan 
Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton sebagai sasaran.

"Ini mereka para mujahidin. Sa­at ini sedang menikmati santap sore ya. Persis 
di belakang tar­get yang insya Allah mereka akan se­rang dengan izin Allah 
Swt," ka­ta­nya sambil sesekali menyorot Hotel Marriott.

Dalam video itu juga ada adegan saat Nana memilih baju di ITC Kuningan setelah 
lari pagi. Juga ada adegan saat Dani bersantai dengan Nana di safe house 
Mampang, Jakarta Selatan. 

Dari hasil penyelidikan sementara terhadap isi laptop, Polri mengungkap adanya 
pola baru target jaringan teroris di Indonesia. Selain itu, jarak satu aksi 
dengan aksi berikutnya juga berubah. "Kami lihat pascabom Ritz-Carlton-JW 
Marriott ini, mereka sudah membuat serangan berikutnya," kata Tito Karnavian. 
(rdl/iro

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke