** .... Adalah suatu hal yg selalu mudah untuk "Memaafkan" ... tetapi tidak
semudah itu untuk "MELUPAKAN" .....tertutamadari pihak si KORBAN !!
Note: ISRAEL sbg negara dan bangsa Jahudi kemungkinan sudah memaafkan
Bangsa Jerman dewas ini atas Kekejaman dan kebiadaban
FISiSME JERMAN masa lalu dibawah HITLER yg menjalankan Genocide
dan Pelanggaran HAM Berat terhadap bangsa Jahudi ......
Namun apakah Bangsa JAHUDI dan langsung Keluarga2, sahabat2 para
Korban Fasisme Jerman - bahkan Dunia bisa begitu saja "MELUPAKAN DAN
MENGHAPUS TRAUMA DARI TRAGEDI KEMANUSIAN YG KEJAM DAN BIADAB TSB
" .....adalah suatu hal yg ABSURD UNTUK BISA DIHAPUS
DARI INGATAN MANUSIA ......................... sudah karena :
01) Itu semua merupakan bagian dari TRAGEDY SEJARAH KEMANUSIAN
02) Itu semua adalah KEBIADABAN terhadap
MANUSIA dan KEMANUSIAN yg dilakukan oleh
MANUSIA ( kedndatipun oleh
sebagian Manusia lainnya)
03) Hal serupa dan analogis menyangkut
misalnya Kekajaman Pendudukan Jepang dibanyak
Negara Asia. Sejarah tak akan
melupakannya - juga Sulit untuk dilupakan atau dihapus dari ingatan
mereka yg pernah mengalaminya
langsung - maupun tak langsung)
04) Sama halnya dng BOM ATOM Amerika yg
dijatuhkan dikota Nagaski dan Yokohama - Tidak mungkin
terlupakan oleh Bangsa dan Sejarah
Nasional Jepang - maupun dlm Sejarah Dunia
05) Sama dng Tragedy Nasional Kamboja
-Laos ( Kmer Merah - Pol PoT) dan Vietnam (perang saudara)
serta Indonesia (Oktober 65 ) dan
Burma Dewasa ini
06) Sulit pula melupakan Peristiwa
Genocide IDI AMIN di Uganda terhadap bangsanya - Demikian pula
untuk melupakan Peristiwa berdarah
dan Geocide yg sangat biadab yg terjadi di Negeria- terhadap
suku bangsa yg satu oleh suku
bangsa lainnya di Negeria atau Sudan dan Somali , dlll
KONKLUSI : 01) HUKUM dan KEADILAN secara Moril -dlm banyak hal Lebih memihak
pada para Pelaku dan Pelanggar Kriminal dari pada Korban dan Keluarga si
Korban ...
02) Ini biasa terjadi selama HUKUM dan KEADILAN
secara absolut memihak pada si PENGUASA ......tetapi tidak terhadap
Masyarakat Bangsa
03) Dan inipun terjadi apabila dalam Kehidupan
bernegara dan dlm Kehidupan suatu masyarakat bangsa - TERJADI KEKOSOSNGAN
DAN ATAU ABSENSI
DARI SYSTEM DEMOKRASI . ( yang kemungkinan
ada hanyalah "Pseudo - DEMOKRACY" seperti halnya yg terjadi di Indonesia
sampai sekarang !)
MOTTO : * RIGHT OR WRONG - The HISTORY can´t do No Wrong - but The
Government and or Its People as well.....
* While The Right is always Wrong - There is nothing more
left and If nothing more Left than everything is not Right - because it is
simply Wrong.
* Last but not least it is simply to say : " HOMO HOMINI
LUPUS " ( Manusia adalah SRIGALA terhadap sesamanya.......)
Don't walk in front of me, I may not follow; Don't walk behind me, I may
not lead; Walk beside me, and just be my friend. (Albert Camus)
-------Original Message-------
From: BISAI
Date: 2.10.2009 7:33:42
To: AKSARA SASTRA; [email protected];
[email protected]; [email protected]; SANTRI KIRI;
[email protected]; [email protected]
Subject: [mimbar-bebas] Re: [HKSIS] Kolom IBRAHIM ISA - BERTELADAN Pada
MADRES DE LA PLAYA MAYO' ARGENTINA,,JADILAH PEMBERANI !!
Saya jadi teringat pada ketika kunjungan Gus Dur ke rumah Pram dan di sana
Gus Dur menyatakan minta maaf karena Pemuda Ansor telah turut aktif
membunuhi orang-orang Komunis dan orang-orang tertuduh sebagai simpatisan
Komunis yang mereka sadisi sebanyak ratusan ribu dengan kekejaman barbaris
yang tak ada taranya. Pram cuma menjawab: "Mudahnya minta maaf". Beberapa
waktu sesudah itu Goenawaan Mohamad memberikan reaksi bernada marah ke
alamat Pram. Para Ibu Argentina yang dikagumi dalam tulisan GM tegas
menyatakan:"KAMI TAK MEMAAFKAN, KAMI TAK MELUPAKAN". Pram pun telah berbuat
serupa tapi tak disambut hangat oleh Goenawan.
BISAI (nan aluih).
----- Original Message -----
From: isa
To: [email protected]
Sent: Wednesday, September 30, 2009 6:46 PM
Subject: [HKSIS] Kolom IBRAHIM ISA - BERTELADAN Pada 'MADRES DE LA PLAYA
MAYO' ARGENTINA,,JADILAH PEMBERANI !!
Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 30 September 2009
-------------------------------
BERTELADAN Pada 'MADRES DE LA PLAYA MAYO' ARGENTINA
JADILAH PEMBERANI !!
Sudah 44 tahun berlalu! Pelanggaran terbesar terhadap Hak-hak Azasi Manusia
di Indonesia, dimulai ketika Jendral Suharto membangkang terhadap Presiden
Sukarno dan mengambil alih pimpinan Angkatan Darat di tangannya sendiri.
Sejak itu dimulai suatu kampanye persekusi terbesar dalam sejarah Indonesia
terhadap orang-orang PKI, simpatisan PKI, yang dianggap PKI dan
pendukung-pendukung Presiden Sukarno. Pembantaian masal yang merupakan
bagian terpenting dari persekusi Jendral Suharto itu, makan korban antara
500.000 sampai 3 juta warganegara yang tak bersalah. Mereka ditangkap,
disiksa dan dipenjarakan. Mereka ditangkap tengah malam dan tidak kembali
untuk selama-lamnya.Mereka ditangkap dan kemudian dibuang ke pulan Buru.
Lebih sepuluh tahun lamanya dipenjarakan dan dibuang ke pulau Buru, disekap
disitu tanpa tuduhan dan tanpa proses peradilan apapun.
Oleh karena itu tidaklah berkelebihan menyatakan bahwa persekusi tsb
merupakan PELANGGRAN HAM TERBESR DI SEPANJANG SEJARAH REPUBLIK INDONESIA.
Itulah sebabnya 'kasus 1965' ini tak boleh dibiarkan terkunci dalam memori
selektif bangsa ini. Kasus ini harus dibuka. Alasan atau dalih apapun tidak
boleh membiarkan kebiadaban terkejam yang terjadi sejak berdirinya rezim
Orde Baru, dibiarkan begitu saja. Kasus Peristiwa 1965 harus diurus,
diajukan ke pengadilan. Yang bersalah harus dihukum. Para korban harus
dibersihkan nama baiknya dan direhabilitasi hak-hak politik dan
kewarganegaraannya. Hanya inilah jalan satu-sastunya yang benar dan solid
menuju suatu REKONSILIASI NASIONAL .
* * *
Argentina pernah mengalmi rezim diktatur militer serupa seperti yang terjadi
di Indonesia. Korban yang jatuh tidak sebesar di Indonesia. Namun, meliputi
puluhan ribu warganegara yang tak bersalah. Kekajaman rezim militer Jorge
Rafael Videla di Argentina ketika itu tidak kalah dengan kebiadaban rezim
Orba.
Namun, di Argentina -- ini bedanya dengan Indonesia sejumlah ibu-ibu,
terkenal dengan nama MADRES DE LA PLAYA MAYO, dengan keberanian luar biasa,
tak takut ancaman dan tak taku mati, berjuang terus, melakukan aksi,
mengadakan demonstrai setiap hari Kemis selama hampir 30 tahun lamanya di
lapangan LA PLAYA DE MAYO dimuka Istana Presiden. Mereka menuntut keadilan!
Menuntut keadilan bagi suami, putra, putri, abang, adik, paman yang HILANG
pada suatu malam diculik oleh aparat rezim militer Argentina.
Perjuangan mereka berhasil! Dalam pada itu rezim diktatur militer Argentina
terguling. Digantikan oleh rezim yang demokratis. Demonstrasi para ibu-ibu
tsb jalan terus. Akhirnya pemerintah hasil pemilu Argentina mulai
manangani masalahnya. Yang bertanggungjawab atas pelanggran HAM: Jendral-
jendral, opsir-opsir dan aparat intel, satu persatu diajukan ke pengadilan,
diadili dan dijatuhi hukuman setimpal.
* * *
Mengenai LAS MADRES PLAYA DE MAYO tsb budayawan Goenawan Mohammad dalam
Catatan Pinggirnya ( Caping ), khusus memberikan tanggapan. Dalam tulisan
tsb Goenawan Mohammad menggugah orang-orang Indonesia supaya BERANI. Gugahan
ini sesuai seruan penyair Widji Thukul, yaitu LAWAN!
Kolom Ibrahim Isa tertanggal 18 Juli 2009, memberikan sedikit pangantar atas
tulisan Goenawan Mohamad tsb. Di bawah ini dikutip tulisan dalam kolom
Ibrahim Isa, sbb:
'CAPING' . . . GOENAWAN YANG MENGGUGAH SUPAYA BERANI!
Menggugah! Itu kesan dan reaksi pertama sesudah membaca 'Caping' Catatan
Pinggir Goenawan Mohammad di Tempo. Kesan berikutnya: Tulisan Goenawan
berjudul 'ESTABA LA MADRE' , mengetuk hati nurani. Begitu ceriteranya,
demikian pula messagenya. Tak diragukan, message Goenawan ialah, supaya jadi
orang PEMB E R A N I ! Berani MENGGUGAT! Supaya jadi manusia-manusia berani
seperti Ibu-Ibu Argentina yang muncul setiap Kemis di Playa de Mayo, Buenos
Aires. Mereka berunjuk-rasa di depan Istana Presiden setiap Kemis itu begitu
'berani'. Sampai-sampai dibilang 'gila'. 'Gila' karena BERANI MENGGUGAT di
negeri yang selama berkuasanya rezim militer diliputi penuh ketakutan. Dan .
. . demo itu bukan satu dua kali, atau satu dua minggu! Tetapi s e t i a p
Kemis, selama lebih dari 20 tahun. SUNGGUH ULET. Sungguh mengharukan dan
memberikan inspirasi!
Yang mereka tuntut, tanya dan dengungkan tidak lain: Kemana anak-anak, suami
sanak saudara kami yang 'DIHILANGKAN' oleh rezim militer Jorge Rafael
Videla, pada masa-masa THE DIRTY WAR di Argentina. Ketika itu kaum Kanan
melakukan pengejaran, pembersihan serta pembasmian terhadap golongan Kiri.
Memang, di sini harus dijelaskan: -- Sasaran dan korban rezim militer Videla
adalah kaum Kiri, banyak diantaranya orang-orang Komunis dan simpatisannya.
Fadela sendiri adalah dari golongan militer Kanan Konservatif yang
anti-Komunis.
Seperti halnya di negeri kita selama tigapuluh dua tahun rezim Orba sampai
sekarang, juga di Argentina korban-korban itu, dalam waktu panjang tak dapat
perhatian! Mereka tak digubris samasekali. Tak didengar keluhan dan tangis
keluarganya.
Dari keadaan itu, orang hanya bisa ambil satu kesimpulan tunggal: Sikap
demikian itu, satu saja sebabnya, ialah -- Karena korbannya adalah
orang-orang Kiri dan Komunis. Dan karena pelakunya adalah diktator militer
yang didukung Barat. Juga sama halnya seperti di Indonesia. Pelakunya adalah
klik militer Kanan yang mendapat dukungan dari tokoh dan parpol nasionalis
dan religius yang konservatif. Sehingga ditanamkanlah suatu pola fikiran,
bahwa kaum Kiri, kaum Komunis, mereka-merka itu bukan manusia, bukan makhluk
Tuhan. Maka bisa disingkirkan, bisa dipenjarakan, bisa dihilangkan dan bisa
dibunuh secara ekstra judisial.
* * *
Membaca 'Caping' Goenawan (lihat lampiran) , orang sewajarnya akan tergerak
hati dan fikirannya. Akan timbul pertanyaan: MENGAPA? Mengapa? --- Bukankah
Hak-hak Azasi Manusia itu Universal sifatnya? Tak peduli apakah korban itu,
orang Kanan atau orang Kiri, Komunis atau konservatif! Mereka tetap korban!
Bukankah rakyat Palestina yang jadi korban serangan Israel di Gaza belum
lama ini, sama manusianya dengan korban 'holocaus' yang yang terdiri
terutama dari orang-orang Yahudi? Begitu juga halnya dengan korban-korban
pembunuhan masal di Ruwanda, Dafur atau Srilangka, bukankah korbgan-korban
itu semua adalah manusia? Apakah mereka-mereka itu kurang manusia terbanding
dengan manusia-manusia yang terbunuh di Twin Manhattan Tower di New York,
dalam peristiwa yang kemudian terkenal dengan Seragan Teror '9/11'? Bukankah
orang-orang Jahudi yang dipaksa 'eksodus' oleh Fir'aun ribuan tahun yang
lalu dari Mesir dulu itu sama hakikat manusianya, dengan orang-orang Arab
Palestina sekarang ini, yang 'dieksoduskan' dari negerinya karena kekerasan
senjata pasukan bersenjata Israel?
Orang pasti akan berfikir dan mengajukan pertanyaan seperti diajukan diatas!
Itu kalaulah orang masih sedikit punya rasa kemanusiaan yang nyelip di hati
nuraninya! Sehubungan dengan apa yang terjadi di Indonesia, tetap masih
belum terjawab pertanyaan sbb: MASIHKAH MEREKA-MEREKA itu, yang selama
puluhan tahun belakangan ini mutlak ngeloni kekuasaan dengan kekayaan
berlimpah-ruah, tetap membisu-tuli mengenai pelanggaran HAM terbesar di
Indonesia? PEMBUNUHAN MASAL 1965-66-67?
Sambil merenungkan 'Caping' Goenawan Mohammad, kita tunggu tanggal mainnya
film dokumenter berjudul: '40 YEARS OF SILENCE THE INDONESIAN STORY',
sebuah film dokumenter buatan Amerika yang akan diedarkan di Indonesia oleh
IKOHI Jakarta dalam beberapa bulan ini. Tujuan film dokumenter Amerika itu,
ialah untuk menimbulkan, meningkatkan 'awareness', 'kesadaran' mengenai
kekejaman, kebiadaban, kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia
kurang lebih 40 tahun yang lalu.
* * *
Sekarang ini mari kita baca bersama tulisan 'CAPING' GOENAWAN MOHAMMAD,
berjudul:
Estaba la Madre
Senin, 20 April 2009
Ibu itu di sana, berdiri, berkabung
Kesedihan terbesar mungkin bukan kesedihan manusia karena Tuhan mati, tapi
kesedihan seorang ibu yang anaknya menemui ajal dalam penyaliban.
Pada zaman ini kesedihan besar itu tetap tak terbandingkan. Tapi pada saat
yang sama juga menyebar. Kini tak hanya satu ibu yang sedih, dan tak hanya
satu anak yang disalibkan.
Kita ingat Argentina, 1976-1983. Negeri ini hidup di bawah titah
pemerintahan militer yang menculik dan melenyapkan ribuan orang, termasuk
anak-anak muda. Diperkirakan 30 ribu orang hilang.
Renee Epelbaum , misalnya, seorang ibu, menemukan bahwa anak sulungnya, Luis
mahasiswa fakultas kedokteran, diculik. Tanpa sebab yang jelas. Itu 10
Agustus 1976. Takut nasib yang sama akan jatuh ke kedua anaknya yang lain,
Lila dan Claudio, Renee pun mengirim mereka ke Uruguay. Tapi di sana mereka
justru dikuntit sebuah mobil dengan nomor polisi Argentinadan akhirnya, 4
November 1976, Lila dan Claudio juga lenyap.
Bertahun-tahun kemudian, seorang perwira angkatan laut menceritakan apa
yang dilakukannya terhadap anak-anak muda yang diculik itu. Pada suatu saat
mereka akan dibius dan ditelanjangi. Para serdadu akan mengangkut mereka ke
sebuah pesawat. Dari ketinggian 4.000 meter, tubuh mereka akan dilontarkan
hidup-hidup ke laut Atlantik, satu demi satu
.
Komponis Argentina, Luis Bacalov , pernah hendak mengingatkan orang lagi
akan zaman yang buas itu. Ia menciptakan sebuah opera satu babak, Estaba la
Madre. Saya tengok di YouTube: di adegan pertama, ketika perkusi dan piano
mengisi kesunyian dan pentas gelap, tampak laut. Makam yang tak bertanda itu
muncul sejenak di layar. Kemudian: wajah, puluhan wajah. Di antara itu,
sebuah paduan suara yang semakin menggemuruh.
Tapi bukan sang korban yang jadi fokus opera ini, melainkan sejumlah
perempuan yang tak lazim. Inilah orang-orang gila itu, begitu kita dengar
di pembukaan.
Para orang gila, umumnya separuh baya, berbaris di jalan, dengan kain
menutupi rambut, dan duka menutup mulut. Tapi sebenarnya mereka tak diam.
Estaba la Madre mengutip kisahnya dari sejarah: perempuan-perempuan itu ibu
yang berdiri, yang berkabung, bertanya, menuntut, karena anak-anak mereka
telah dihilangkan. Mereka gila karena di negeri yang ketakutan itu,
mereka berani menggugat. Tiap Kamis mereka akan muncul di Plaza de Mayo, di
seberang istana Presiden. Tiap Kamis, selama 20 tahun.
Saya tak bisa melupakan, kata Renee Epelbaum. Saya tak bisa memaafkan.
Ia pun jadi salah satu pemula himpunan ibu orang-orang yang hilang itu, yang
kemudian dikenal sebagai Para Ibu di Plaza de Mayo sebuah bentuk
perlawanan yang tak disangka-sangka. Mula-mula, akhir April 1977, hanya 14
perempuan yang berani melawan larangan berkumpul. Berangsur-angsur, jumlah
itu jadi 400.
Tak mengherankan bila kemudian para ibu pun jadi sebuah lambang yang lebih
luas cakupannya ketimbang Plaza de Mayo. Ia menandai yang universal. Opera
Estaba la Madre, misalnya, mengambil asal-usul pada Stabat Mater dalam C
minor yang digubah Pergolesi, menjelang komponis ini meninggal dalam umur 26
tahun pada abad ke-18. Kata-katanya berasal dari lagu puja seorang rahib
Fransiskan pada abad ke-13 tentang penderitaan di Golgotha: Stabat Mater
dolorosa iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius
Ibu itu di sana,
berdiri, berkabung, di sisi salib tempat sang anak tergantung.
Dan ketika dua orang dari para ibu Argentina itu pekan lalu datang ke
Indonesia, mereka pun menghubungkan kisah mereka dengan apa yang terjadi di
sini, di antara keluarga Indonesia yang hilang.
Tentu ada beda antara Sang Ibu dalam Stabat Mater dan para ibu di Plaza de
Mayo: tak ada tubuh sang anak yang mati di Argentina. Dalam pentas Estaba la
Madre, kita akan menemukan Sara, ibu Si Samuel. Ia dan suaminya menanti
anaknya. Kamis, mereka menunggunya untuk makan malam di rumah, demikianlah
paduan suara meningkah. Tapi Samuel tak kembali.
Ini pukul sembilan.
Ini pukul 10.
Tengah malam
Fajar datang,
dan ia tak pernah pulang.
Sampai hari ini orang masih bertanya, kenapa itu mesti terjadi. Mungkinkah
sebuah kekuasaan yang dijaga ribuan tentara bisa begitu ketakutan?
Saya tak tahu jawabnyameskipun saya menyaksikannya juga di Indonesia, di
tahun di pertengahan 1990-an, ketika Tim Mawar dibentuk untuk menculik dan
menyiksa, mungkin sekali membunuh, sejumlah anak muda yang sebenarnya tak
cukup kuat untuk menjatuhkan rezim Soeharto. Barangkali paranoia adalah
bagian utama dari kekuasaan yang bertolak dari kebrutalan dan
pembasmiankekuasaan yang selamanya merasa tak yakin akan legitimasinya
sendiri.
Mungkin sekali para petinggi tentara itu tak bisa lagi membedakan khayalan
dengan keinginan. Dalam Estaba la Madre ada adegan yang tak mudah dilupakan,
baik di Argentina maupun di Indonesia: tiga jenderal muncul di pentas atas,
suara mereka mengancam si lemah dan mengajukan dalih kebersamaanhingga
terdengar menggelikan:
Hidup kemerdekaan!
Kemerdekaan bicara dan membuat orang bicara.
Hidup kemerdekaan mengaku dan membuat orang
mengaku.
Hidup kemerdekaan menjerit dan membuat mereka
menjerit.
Yang tak mereka sangka: yang menjerit tak akan bisu. Kekuasaan militer
Argentina akhirnya runtuh. Dan di tembok jalan layang, di dinding kios koran
di pelbagai sudut di Buenos Aires, kata-kata ini tertulis, bukan hanya
dari Renee, tapi dari mana-mana yang dianiaya: Kami tak memaafkan. Kami tak
melupakan.
Goenawan Mohamad
* * *
[Non-text portions of this message have been removed]