http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=10831
2009-10-03 Distribusi Bantuan Lamban [PADANG] Distribusi bantuan bagi korban gempa bumi 7,6 skala richter (SR) di Padang dan wilayah sekitarnya, hingga Sabtu (3/10) masih lamban. Salah satu penyebabnya, ketiadaan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan pengangkut. Bahkan, hingga H+3 pascagempa yang mengguncang Rabu (3/10) lalu, korban gempa di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Selatan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, belum mendapat bantuan, terutama tenda dan bahan makanan. Padahal rumah mereka sudah rata dengan tanah. "Sampai kini kami belum mendapat bantuan dari pemerintah dan pihak manapun," kata Riyaldi, warga Desa Marunggi, Sabtu pagi, sebagaimana dilaporkan Antara. Dia menuturkan, karena belum mendapat bantuan tenda, warga terpaksa berdiam di antara reruntuhan rumah mereka yang ambruk. "Warga juga hidup dari makanan yang tersisa. Padahal kami mendengar sebagian warga desa lain sudah mendapatkan bantuan mi instan, mudah-mudahan bantuan serupa segera kami terima, mengingat persediaan makanan sudah habis," katanya. Riyaldi mengungkapkan, 80 persen rumah warga ambruk, mulai dari Pasar Kurai Taji, Kampung Apar, Palak Aneh, Kampung Sikumbang, hingga Tebing Runtuh. Lambannya distribusi bantuan juga dialami korban gempa di Padang. Warga yang sudah tiga hari tinggal di tenda-tenda pengungsian, masih banyak yang belum memperoleh bantuan. Isman Rab (58), warga RT 10 RW 04 Kelurahan Cengkeh, Kota Padang yang ditemui SP di tenda pengungsian di lapangan Jalan Raya Padang-Indaru, Jumat (2/10) siang mengaku, bersama beberapa warga sempat tidur di emperan rumah toko (ruko). "Tetapi pemilik ruko menyuruh kami ke tenda pengungsi saja. Sudah tiga hari di tenda, bantuan belum datang juga. Aparat RT dan lurah pun belum ada yang melihat kondisi kami di sini. Kalau hanya tidur tanpa ada bantuan, sama saja bohong, tersiksa," ujarnya. Lambannya distribusi bantuan juga diakui Ny Wisnawati (34). Dia bersama empat anaknya dan seorang cucu yang masih balita, berada di tenda tanpa bantuan apapun. Mereka hanya membawa tikar dan pakaian seadanya. Sedangkan bantuan peralatan masak, obat-obatan, dan pangan tidak ada. Kondisi tersebut diakui Kepala Sekretariat Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) Provinsi Sumbar, Ade Edward. Menurutnya, distribusi bantuan logistik pangan berupa mi instan, beras, ikan kaleng, dan air bersih baru bisa dikirimkan ke pengungsi mulai Jumat siang. Hal itu karena krisis BBM. "Sebagian besar truk untuk mengangkut bantuan sembako antre BBM di SPBU sejak Kamis (1/10) malam hingga Jumat (2/10) pagi. Karena itu pengiriman bantuan baru bisa dilakukan Jumat siang," jelasnya. Menurut Ade, pendistribusian bantuan pangan dan obat-obatan diprioritaskan kepada korban gempa dalam jumlah banyak dan terkonsentrasi pada tiga lokasi pengungsian. Di antaranya di Posko Pengungsi Lantanal Teluk Bayur dengan jumlah pengungsi sebanyak 146 orang, dan di Posko Pengungsi Rajawali Tanggul Hitam dengan jumlah pengungsi 90 orang. Bantuan juga diprioritaskan kepada pengungsi di Posko Karno Pagang, Kota Padang dengan jumlah pengungsi dewasa 70 orang dan balita 20 orang. Dijelaskan, jumlah beras bantuan yang tersedia dan siap disalurkan untuk para korban gempa di daerah itu mencapai 18.993 ton dan jumlah bantuan uang tunai total Rp 6,3 miliar. Terkait jumlah kerugian akibat gempa bumi, Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono menuturkan, pemerintah belum bisa memperkirakan. "Biasanya setelah semua tahap evakuasi dilakukan, maka kerugian baru bisa dihitung," katanya. Evakuasi Dilanjutkan Sementara itu, pantauan SP di lokasi-lokasi gedung yang runtuh, aparat TNI dibantu relawan melanjutkan pencarian dan evakuasi korban yang tertimpa reruntuhan bangunan. Pencarian siswa lembaga bimbingan belajar Gama di Jalan Proklamasi, Padang Plaza di Jalan Raya Pasar, dan di Hotel Ambacang, terus dilakukan. Namun, sebagian korban yang ditemukan sudah meninggal. Di tengah kesibukan pencarian siswa bimbingan belajar Gama, terdengar suara lirih seorang wanita yang sedang berbadan dua. Dia mendekati mobil ambulans Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Padang yang digunakan mengangkut jenazah. Tangisan tersebut adalah tangisan duka Ny Erica Sundari (27), ibunda Intan Permata Sari (7), siswi Gama yang hingga Jumat belum ditemukan. Bersama suaminya, Erica tiada henti menunggu proses evakuasi sejak terjadinya gempa, Rabu (30/9) sore. "Ketika kami ke rumah sakit juga tidak ada jenazah anak saya. Saya harap-harap cemas. Tapi karena sudah tiga hari terperangkap di reruntuhan, saya pun sudah pasrah," katanya. Petugas Dinas Kesehatan Kota Padang, Yudasril yang bertugas mengangkut para korban gempa di lokasi lembaga bimbingan belajar tersebut mengaku sudah mengangkut 33 jenazah dari lokasi reruntuhan Gama. Sedangkan korban yang ditemukan hidup pada hari pertama pencarian gempa dua orang. Sedangkan Ade Edward mengungkapkan, jumlah korban terkubur reruntuhan Gedung Gama yang belum ditemukan sekitar 200 orang. "Kemungkinan ditemukannya korban yang masih hidup masih ada. Untuk itu, petugas menyalurkan oksigen ke ruang-ruang reruntuhan gedung," ujarnya. Di lokasi pencarian korban yang menggunakan dua alat berat, tercium bau menyengat, yang berasal dari jenazah korban yang mulai membusuk. "Sebagian besar korban kita perkirakan sudah tewas. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang kita temukan di lokasi reruntuhan Gedung Gama," kata salah seorang petugas TNI. Kepabeanan Dipermudah Secara terpisah, Deputi Menko Perekonomian, Bayu Krisnamurthi mengungkapkan, bantuan yang dibutuhkan dari luar adalah obat-obatan dan susu anak. Untuk beras, masih ada persediaan hingga tiga bulan ke depan, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan korban gempa. "Ketahanan pangan di sana tidak ada masalah karena Sumbar merupakan lumbung beras. Stok cukup untuk tiga bulan ke depan baik yang berasal dari Bulog maupun non-Bulog," ucapnya. Untuk memperlancar arus bantuan, termasuk dari luar negeri, Ditjen Bea dan Cukai mempermudah prosedur masuknya barang bantuan. Dirjen Bea dan Cukai Depkeu, Anwar Suprijadi mengungkapkan, pihaknya telah mengeluarkan edaran yang menyatakan setiap pihak yang akan memberikan bantuan untuk korban bencana, cukup datang dengan membawa rekomendasi dari BNPB. [Ant/141/H-15/153] [Non-text portions of this message have been removed]
