Refleksi : Menunggu mukajizat adalah seperti menunggu bulan dilangit terbelah dua. Menurut interview gubernur wartawan Aljaeera dengan gubernur Sumatera Barat tahun lalu, dikatakan bahwa gubernur telah meminta perhatian sepenuhnya kepada pemerintah pusat di Jakarta, tetapi apa yang diusulkan itu tidak digubris. Maka oleh karena itu respons bantuan menghadapi bencana ini agak lambat jalannya.
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=10838 2009-10-03 Menanti Keberpihakan Mukjizat AP/Achmad Ibrahim Warga bersama tim SAR mencari korban di bekas tanah longsor akibat gempa di Desa Paranah, Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (2/10). Tim medis, anjing pelacak, dan tim evakuasi terus dikerahkan untuk mencari sekitar 280 korban yang masih tertimbuh reruntuhan bangunan dan tanah longsor. encana dan mukjizat kerap tak terpisahkan. Kala semua orang sudah menyangka bahwa korban bencana sulit diselamatkan, mukjizat sering muncul dengan hadirnya korban-korban yang lolos dari maut secara dramatis. Itulah yang dialami Sari (20), mahasiswi Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayogo, Padang, Sumatera Barat dan dosennya Susi (30). Setelah tiga hari terperangkap di reruntuhan gedung kampus tersebut yang roboh akibat gempa bumi Rabu (30/9), mereka ditemukan selamat Jumat (2/10) siang. Kendati mengalami luka serius di kaki, Sari dan Susi merasa bersyukur karena bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Sari yang ditemui SP di Rumah Sakit TNI Kota Padang Sabtu (3/10) dengan luka cukup berat di kedua pergelangan kaki, masih bisa menebar senyum. Dia pun ramah ketika diajak berbincang-bincang. Kendati masih menahan sakit, wajahnya berseri-seri. " Ini benar-benar mukjizat. Saya sudah pasrah ketika saya terperangkap direruntuhan gedung dan kaki kanan saya terjepit patahan lantai gedung. Saya tambah syok karena atap juga runtuh nyaris menimbun saya. Dua siswa tewas di hadapan saya. Satu tewas persis di kaki saya," katanya. Menurut Sari, ruangan belajar mereka ambruk ketika sedang mengikuti mata kuliah listening. "Gempa terjadi tiba-tiba dan tidak ada yang sempat menyelamatkan diri. Jumlah kami ketika belajar lebih dari 15 orang. Saya tidak tahu berapa orang yang selamat," tuturnya. Mahasiswa semester III jurusan bahasa Inggris ini mengaku mendapatkan kekuatan tambahan untuk bisa bertahan hidup selama tiga hari di reruntuhan gedung, hingga akhirnya berhasil dievakuasi tim penyelamat Jumat (2/10) sekitar pukul 12.00 WIB. Dia juga tidak merasakan sakit, namun mengaku syok menjadi korban bencana dahsyat itu. "Saya melihat ada sinar dalam ruangan siang dan malam. Saya mendengar ada yang memanggil saya dan minta saya menulis surat. Namun tidak saya lakukan. Ketika saya mencoba kontak keluarga melalui telepon genggam maupun melalui pesan singkat, hubungan telepon tidak bisa nyambung," papar Sari. Dia sangat sedih karena tidak mampu melepaskan kakinya yang terjepit bongkahan beton lantai gedung. Namun dia tidak bisa menangis. "Saya hanya berdoa, berdoa, dan berdoa. Saya berharap ada tim penyelamat yang bisa menolong saya dan ibu Susi. Dan akhirnya doa saya ter- kabul," katanya. Sari mengaku merasa hidup kembali. Karena itu, dia selalu tertawa renyah terhadap setiap orang yang menjenguknya. Para perawat pun selalu diajaknya berbincang dengan penuh canda. "Saya senyum seperti bukan orang sakit sejak masuk rumah sakit. Perawat sempat memarahi saya. Namun karena hati saya kini lega bisa berkumpul dengan keluarga, makanya saya bisa seceria ini," kata anak kedua dari tiga bersaudara ini. Putri semata wayang pasangan Sofyan Virgo dan Eni Juwita, warga Jalan Kampung Nias III Nomor 4 C ini juga merasakan suasana hati yang sangat gembira karena mengetahui kekasihnya yang tinggal di Medan, Sumatera Utara bakal tiba di Kota Padang, Sabtu (3/1). "Hubungan telepon saya dengan pacar saya di Medan terputus sejak gempa. Dia tahu saya korban gempa melalui media. Hari ini, Sabtu (3/10), dia datang, dan hati saya pun tambah senang," ujarnya sambil tertawa. Sementara itu dosen Sari, ibu Susi yang masih dirawat intensif di ruang gawat darurat Rumah Sakit TNI Kota Padang, belum bisa diajak bicara. Dia didampingi suaminya Tommy Erwinsyah. Ketika SP menyapanya, Susi hanya melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan."Terima kasih Pak atas perhatiannya. Maaf saya belum bisa banyak bicara," katanya. Tommy Erwinsyah menyatakan sangat senang dan berterima kasih kepada regu penolong karena bisa menyelamatkan isterinya. Keluarga Tommy diliputi kecemasan atas nasib isterinya karena sudah hampir 30 jam hingga Jumat pagi belum diketahi nasibnya. "Namun begitu regu penyelamat mengeluarkan isteri saya yang masih hidup, saya merasa lega. Ini mujizat Mas. Benar-benar mukjizat," ujarnya. Harap-harap Cemas Jika Sari dan Susi lagi bersyukur akibat mukjizat yang sudah mereka rasakan, lain halnya dengan Alimah yang hingga kini masih terus menantikan datangnya mukjizat itu. Wanita paruh baya ini sepanjang hari Jumat (2/10), menyaksikan dengan harap-harap cemas proses evakuasi korban dari reruntuhan Hotel Ambacang. Wanita berjilbab warna cokelat itu semakin pucat pasi di bawah terik matahari Kota Padang. Sesekali ia menghapus peluh yang bertengger di keningnya dengan handuk kecil yang digenggamannya. Mata nanarnya menatap proses evakuasi yang terus berjalan dengan bantuan alat berat dan puluhan tim evakuasi di antara reruntuhan gedung. Alimah adalah salah satu dari ratusan orang yang berkerumun di depan Hotel Ambacang untuk mengetahui kabar sanak keluarga yang masih tertimbun di dalamnya. Hotel tertua dan pernah menjadi pusat perdagangan zaman penjajahan ini sekarang rata tanah dan menimbun ratusan orang di dalamnya, termasuk Zulkarnain (37), keponakan Alimah. Saat Bumi Minang bergoyang, Zulkarnain yang merupakan dosen di salah satu sekolah tinggi di Kota Padang itu sedang di hotel menjadi pembicara seminar yang diselenggarakan oleh perusahaan asuransi swasta. Kini, setelah hotel rata dengan tanah, Zulkarnain tidak pernah kembali ke rumah. Hingga dua hari setelah kejadian di Rabu kelabu itu keluarga tidak mengetahui keberadaan Zulkarnain. Ia hilang tanpa kabar dan tanpa pesan. Tidak ada yang tahu kondisinya saat ini, namun menurut keluarga, hampir 100 persen kemungkinan ia berada di dalam hotel, terjebak, entah hidup atau telah tiada. "Yang kembali hanya motornya, GL Pro, yang terparkir di halaman hotel dan dibawa oleh tim evakuasi ke rumah," ujar Alimah. Motor Zulkarnain yang ditemukan selamat di parkiran Hotel Ambacang kini hanya berada di pojokan rumah tanpa ada yang berani menyentuh. Menurut Alimah, hal itu membuat istri Zulkarnain sangat terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan. Isteri Zulkarnain, lanjut Alimah, tidak pernah mengharapkan motor yang kembali, melainkan suaminya dalam keadaan hidup. Alimah juga mengisahkan istri Zulkarnain tidak berhenti menangis. Dia tidak bisa memberikan jawaban kepada anak sulungnya yang masih duduk di kelas satu SD, yang terus bertanya di mana ayahnya berada. Istri Zulkarnain mempercayakan kepada Alimah untuk mencari tahu keberadaan suaminya. Alimah yang matanya bengkak akibat menangis semalaman itu semakin sedih ketika mengingat, seharusnya si keponakan berangkat ke Jakarta pada hari Jumat (2/10) . "Tiket sudah dipesan. Keluarga sudah menyiapkan koper berisi pakaian untuk dibawa Zulkarnain ke Jakarta. Kini koper beserta isinya masih teronggok di rumah karena tidak ada yang berani membuka, takut sedih," katanya. Keluarga keluarga besar saat ini berkumpul di Rumah Zulkarnain di daerah Para Taratah, Kota Padang untuk menunggu kabar dan mendoakan keselamatan anak lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga itu. "Berapa pun kecilnya kemungkinan Zulkarnain masih hidup, kami sekeluarga terus mendoakannya," kata Alimah berkaca-kaca. Sementara itu, tim evakuasi memperkirakan sebanyak delapan korban yang tertimbun reruntuhan Hotel Ambacang masih hidup dan terjebak di sebuah rongga di lantai enam. Sekitar pukul 22.00, Jumat 2 Oktober 2009, tim evakuasi berhasil membuat jalan masuk ke dalam reruntuhan. Namun, mereka masih kesulitan melacak keberadaan para korban. Tim dibantu dengan empat alat berat berupa eskavator dan alat pemotong beton bantuan dari Jepang. Sejumlah anjing pelacak dari Swiss juga dikerahkan untuk mengendus keberadaan manusia di dalam reruntuhan. [Ant/DMF/141] -------------------------------------------------------------------------------- [Non-text portions of this message have been removed]
