Refleksi : Tentara bisa profesional tetapi tidak akan bisa neutral dalam 
politik. Istilah netral politik adalah pengertian untuk mengelabui pendapat 
umum, karena tentara adalah alat untuk menjamin keselamatan kekuasaan yang 
berkuasa. Tidak diberikan hak untuk ikut serta dalam pemilihan umum bukan 
berarti netral, lihat saja selama kekuasaan Soeharto, selain itu sekarang 
mantan-mantan perwira menduduki berbagai adminstrasi sipil dari pusat kekuasaan 
sampai ke tingkat desa. Bedanya dengan zaman Soeharto ialah dulu mereka 
berpakaian militer sekarang berpakaian sipil dan "mantan", tetapi intinya sama 
saja. Kalau kacang menurut pepatah melayu kuno ada dibilang "kacang lupa 
kulitnya", tetapi dalam hal kekuasaan di NKRI kacang melekat pada kulitnya! 
Atau bagaimana komentar Anda?


http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/98499/70/13/TNI-yang-Profesional-dan-Netral

Minggu, 4 Oktober 2009 |
 
TNI yang Profesional dan Netral 


Senin, 05 Oktober 2009 00:00 WIB      
SEDIKITNYA ada dua tantangan besar yang dihadapi Tentara Nasional Indonesia 
dewasa ini. Yang pertama adalah profesionalitas yang terkendala buruknya 
persenjataan dan yang kedua netralitas politik yang peka tergoda kekuasaan. 

Buruknya persenjataan terutama karena dimakan usia. Alutsista TNI umumnya tua 
renta, lebih pantas masuk museum, tetapi kenyataannya terus digunakan sekalipun 
tak laik pakai. 

Akibatnya, prajurit gugur bukan dalam pertempuran, melainkan dalam latihan, 
bahkan dalam kegiatan yang normal seperti penerbangan yang normal dengan akibat 
yang tidak normal. 

Ke luar, tanpa alutsista yang kuat, rasa segan dan rasa hormat tetangga pun 
merosot. Sebenarnya itulah yang ditunjukkan angkatan perang Malaysia di Ambalat 
karena tahu bahwa angkatan perang Republik Indonesia tidak memiliki kapal 
perang yang andal. 

Ke dalam, tanpa alutsista yang andal, cepat atau lambat akan mengikis 
profesionalitas TNI. Perang modern bukan hanya memerlukan semangat juang, 
melainkan juga kompetensi kelas dunia dalam menggunakan alutsista yang canggih 
dan modern. 

Doktrin TNI ialah selalu siaga menghadapi berbagai ancaman terhadap keselamatan 
negara. Ancaman dari luar tidak bisa dihadapi hanya dengan diplomasi. Mesin 
perang adalah bagian dari diplomasi. Karena itu, TNI harus menyiapkan diri 
berperang justru di saat damai. 

Untuk kesekian kalinya melalui forum ini kita ingatkan bahwa TNI memerlukan 
alutsista yang kuat. Alutsista yang kuat memerlukan dana yang besar. Negara 
harus berani mengeluarkan dana yang besar itu. Apalagi TNI juga sering 
berfungsi sosial terutama di kala negeri ini menghadapi bencana alam seperti 
yang terjadi di Sumatra Barat saat ini. 

Memperkuat TNI melalui profesionalitas sebenarnya sekaligus juga harus disertai 
dengan memperkuat netralitas TNI dalam politik, yaitu mensterilkan dan 
memproteksi TNI dari godaan kekuasaan politik praktis. TNI harus lebih bangga 
pada profesionalitasnya sebagai militer, bukan kepiawaiannya di ranah politik, 
apalagi menjadi alat politik praktis yang berkuasa. 

Tentara yang profesional tidak hanya karena mahir menggunakan senjata, tetapi 
juga mengambil posisi yang matang bahwa politik tentara adalah politik negara. 
Adalah mengerikan membayangkan tentara yang profesional dengan senjata yang 
canggih memihak kepada orang atau partai yang sedang berkuasa. Yang berkuasa 
dapat diganti melalui pemilu, sedangkan TNI abadi. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke