Harian Komentar
5 Oktober 2009
Aksi pencurian marak pascagempa di Padang
Korban Mengaku Diminta Bayar Petugas Penyelamat
Padang, KOMENTAR
Benar-benar keterlaluan. Aksi kejahatan dilaporkan mening-kat pascagempa di
Kota Pa-dang. Jubir Polda Sumatera Barat, Ajun Komisaris Besar Kawedar
mengatakan, penja-rahan terjadi di pusat grosir Sentral Pasar Raya, Padang dan
di sebuah biro perjalanan di depan Matahari Department Store. Semua peralatan
biro perjalanan itu dijarah.
Polda Sumatera Barat kini meningkatkan penjagaan de-ngan menempatkan beberapa
personel di setiap tempat eva-kuasi, pertokoan dan mall. Ka-wedar mengatakan
polisi telah menangkap lima pencuri dan penjarah di sejumlah tempat di Kota
Padang. "Kami memper-ketat penjagaan dengan mema-sang police line, karena ada
pencuri pura-pura menjadi pe-tugas evakuasi, tapi kemudian mengambil AC," kata
dia.
Sementara beberapa warga keturunan Tionghoa korban gempa di Kota Padang juga
mengaku diperas orang yang mengaku petugas penyelamat. "Mereka minta bayaran
kalau mau rumahnya ditolong," kata Mariana, mahasiswi ketu-runan Tionghoa asal
Padang. Mariana mendapat kabar itu dari kerabatnya yang menjadi korban
pemerasan di Padang. Keluarganya yang masih ter-timbun puing-puing rumah belum
bisa dievakuasi karena minimnya bantuan. "Saya belum bisa kontak keluarga di
Padang," ujarnya di Jakarta.
Menurut dia, pemerasan terhadap warga Tionghoa ke-rap terjadi, termasuk ketika
gempa Nias. "Teman saya (warga keturunan Tionghoa) juga diminta bayaran kalau
rumahnya mau dibongkar," ujarnya. Mariana mengaku tak bisa berbuat apa-apa.
"Bi-ngung, mau minta tolong siapa lagi?" kata dia, yang mengaku tak tahu satuan
asal petugas penyelamatan itu.
Sedangkan Jin, warga ketu-runan Tionghoa di Padang, mengatakan, untuk
mem-bongkar puing-puing rumah-nya, orang yang mengaku petugas penyelamat dan
mengoperasikan alat berat itu meminta bayaran Rp 300-500 ribu. "Kalau tidak
mau, tidak diladeni. Kalau mau bayar, baru digali," ujar Jin melalui sambungan
telepon. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa," ujar warga kawasan Pondok, Padang,
ini.
MEMBUSUK
Pada bagian lain, Dinas Kese-hatan Kota Padang, menyem-protkan disinfektan di
10 titik yang diduga masih terdapat korban terjebak di reruntuhan bangunan.
Dinas Kesehatan Kota dibantu Dinas Kesehatan Dumai dan Pekan Baru.
Beberapa lokasi yang dila-kukan penyemprotan antara lain di Gedung Adira
Finance Sawahan, Hotel Ambacang, Simpang Kinol, Jalan Niaga dan Sentral Pasar
Raya.
"Ini untuk mencegah penya-kit menular akibat mayat-mayat yang kini mulai
mem-busuk," kata Firman, petugas Dinas Kesehatan yang turut dalam penyemprotan,
di Pa-dang, Minggu (04/10) kemarin.
Menurut dia, pasokan di-sinfektan di Padang sangat banyak. Bila nantinya kurang
akan dikirim dari daerah-daerah sekitar yang tidak terkena gempa.
Dia juga mengatakan, tim SAR yang melakukan evakuasi diharapkan diberi vaksin
teta-nus untuk memberikan keke-balan tubuh saat evakuasi. Pa-salnya, banyak
besi-besi yang kemungkinan memberikan luka saat evakuasi.
Sampai kemarin, proses evakuasi masih terus dila-kukan. Sebab, diduga kuat
masih banyak korban yang tertimbun bangunan. Kondisi mayat sudah mulai bau.
Bah-kan dalam radius 100 meter, sudah tercium bau mayat membusuk.(tm/vvn)
[Non-text portions of this message have been removed]