Kawans... kebijakan pemerintah untuk air minum dapat kita simpulkan sebagai berikut : a. Untuk kawasan yang dihuni masyarakat kelas atas, maka PAM (penyediaan air minum / bersih) diserahkan ke swasta, harga air juga relatif mahal diatas Rp 5000 per M3 bahkan diatas Rp 12.000 untuk industri. b. Untuk masyarakat menengah, maka PAM diserahkan ke PDAM, harga airnya antara Rp2000 - Rp 5000 an c. Untuk masyarakat yang tidak mampu bayar air, mereka dibantu (diberi modal sumur atau instalasi sederhana), lalu disuruh mengelola sendiri. Biasanya 6 bulan, investasi ini mubazir, karena mengelola PAM perlu tingkat kedisiplinan tinggi dan umumnya mereka belum memilikinya.
Dengan implementasi kebijakan ini, beban masyarakat miskin semakin berat, karena umumnya secara topografi kondisi tanah yang mereka tinggali tidak subur, kering , susah air tanah dan hanya mengandalkan air hujan atau air irigasi. Coba sekali-sekali kita sempatkan pada pagi atau sore berwisata dipinggiran Kalimalang atau Tarum Barat yang mengalir sejajar tol Cikampek dan merupakan sumber air untuk kota Karawang, Bekasi serta JAKARTA. Pemandangan aktivitas penduduk yang sedang mandi, mencuci baju, piring, buang air besar, gosok gigi atau keramas bercampur baur. Sepanjang saluranpun banyak juluran2 pipa2 air yang tanpa diolah masuk ke rumah2 penduduk yang relatif mampu. Kalau ada saudaraku yang tergerak untuk aktif sebagai relawan, bergabunglah bersama kami , menggerakkan masyarakat, memobilisasi ekonomi mereka untuk mandiri dalam menyiapkan air bersih , sukur2 kalau ada bantuan pemerintah, tapi kalau tidak ada pun sebenarnya mereka mampu mengelola PAM tapi perlu uluran tangan para relawan. --- On Mon, 10/5/09, sunny <[email protected]> wrote: From: sunny <[email protected]> Subject: [inti-net] Penduduk Garut Gunakan Air Comberan To: [email protected] Date: Monday, October 5, 2009, 8:19 PM Refleksi: Air adalah kebutuhan utama manusia. Orang lebih cepat mati kehausan dari pada mati kelaparan. Kalau rezim berkuasa tidak bisa menjamin adanya air bersih secukupnya untuk kebutuhan hidup rakyat, maka pertanyaan yang mungkin saja timbul ialah apakah ada gunanya rezim tsb? http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2009/ 10/05/Nusa/ krn.20091005. 178027.id. html Penduduk Garut Gunakan Air Comberan Warga Cirebon makan nasi aking. Garut -- Ribuan penduduk di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terpaksa menggunakan air kotor. Kemarau, yang telah berlangsung sejak lima bulan lalu, membuat sumur di sana kering. Akibatnya, penduduk kesulitan mendapatkan air bersih. "Sudah tiga bulan ini kami menggunakan air comberan," kata Ai Karningsih, penduduk Kampung Salam, Cibunar, Cibatu, kemarin. Untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus, sekitar 6.000 keluarga di sana menggunakan air selokan Cipacing. Adapun untuk keperluan memasak, penduduk masih menggunakan sisa air sumurnya setelah diendapkan selama sehari. Serupa dengan penduduk di Desa Wanakerta, Sindangsuka, dan Mekarsari. Mereka menggunakan air Sungai Cimanuk yang keruh untuk memenuhi kebutuhannya. Akibatnya, kini sebagian penduduk terserang diare dan penyakit kulit, seperti gatal-gatal. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Garut Ahmad Bajuri menyesalkan lambannnya respons pemerintah dalam mengatasi masalah kekeringan. Padahal kawasan Garut Utara, termasuk Cibatu, merupakan daerah yang selalu dilanda kekeringan setiap kali musim kemarau tiba. Lahan pertanian masyarakat juga hanya dapat diproduksi sekali dalam setahun. "Saya sudah meminta (pemerintah Garut) agar membuat sumur artesis, tapi belum juga direalisasi, " katanya kemarin. Namun, hal itu dibantah Bupati Garut Aceng H M. Fikri. Dia tak mengakui adanya penduduk Garut yang mengkonsumsi air comberan untuk kebutuhan sehari-hari. Aceng berkukuh telah menyuplai air bersih kepada penduduk di sana dengan mengirim dua tangki air setiap hari. "Belum ada laporan seperti itu, semuanya sudah ditangani, coba nanti akan saya cek ke sana," katanya. Akibat musim kemarau ini, tiga kecamatan dilanda kekeringan, di antaranya Cibatu, Kersamanah, dan Malangbong. Kemarau juga memaksa sebagian penduduk di Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, memakan nasi aking. Itu lantaran harga nasi aking lebih murah dibanding beras. Dasuki, warga Desa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, mengaku tak sanggup membeli beras karena penghasilannya sebagai tukang becak tak cukup. Saat musim hujan tiba, dia dan istrinya bekerja sebagai buruh tani. Namun, selama musim kering, Dasuki beralih menjadi tukang becak. Salah satu tokoh di Desa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakan, Casila, mengatakan sebagian besar penduduk di sana terpaksa mengkonsumsi nasi aking. Musim kemarau telah membuat ribuan penduduk kehilangan pekerjaan. Saat musim hujan, mereka bekerja sebagai buruh tani. SIGIT ZULMUNIR | IVANSYAH [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
