http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009100505544015
Senin, 5 Oktober 2009
BURAS
Memaknai Bencana dengan Tafsir!
H. Bambang Eka Wijaya
"TUMBEN, tekun membaca tafsir Alquran!" ujar Umar. "Tafsir resmi Kerajaan
Arab Saudi pula!"
"Tafsir ini paling banyak dimiliki orang Indonesia, dibagi gratis kepada
setiap jemaah haji!" jawab Amir. "Aku diminta teman-teman untuk membuka tafsir,
lewat SMS mereka tentang waktu gempa Sumatera Barat yang berulang-ulang
disebutkan oleh pembaca berita televisi, terjadi pukul 17.16. Desak mereka,
baca Surat 17 Ayat 16."
"Bagaimana bunyi ayat itu?" kejar Umar.
"Apa adanya dalam tafsir ini, Surat 17 Ayat 16 berbunyi: Dan jika Kami
hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang
hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan
kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya
perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya!" Amir membaca kata demi kata. "Begitu bunyinya, tanpa
ditambah atau dikurangi!"
"Tapi apa tidak cuma kebetulan, waktu kejadian bencana gempa 30 September
itu bertepatan dengan surat dan ayat Alquran?" timpal Umar.
"Kita simak bunyi SMS selanjutnya!" sambut Amir. "Gempa kedua atau
susulan hari itu terjadi pukul 17.58. Lantas esoknya, gempa (di Jambi) terjadi
pukul 08.52."
"Apa bunyi ayat sesuai waktu itu?" kejar Umar.
"Surat 17 Ayat 58 berbunyi, 'Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka
penduduknya), melainkan Kami membinasakannya, sebelum hari kiamat atau Kami
azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah
tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)," baca Amir. "Lalu Surat 8 Ayat 52
berbunyi, '(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan
pengikut-pengikutnya, serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari
ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya.
Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Amat Keras siksaan-Nya."
"Dari ketepatan rangkaian waktu dengan ayat-ayat Alquran itu, jadi sukar
mengesampingkan, apalagi menepiskan isyarat-Nya!" tegas Umar. "Apalagi isyarat
berupa peringatan keras itu terkait bencana yang terjadi sepenuhnya di luar
domain manusia! Hingga masalahnya, tanpa kita sadari ternyata kemewahan hidup
kalangan mampu di negeri kita telah melampaui batas kewajaran Illahiah! Malah,
gaya hidup mewah itu telah diwarnai keingkaran dari perintah-Nya!"
"Kita bukan mau menggurui, memaknai bencana dengan tafsir!" timpal Amir.
"Kita menarik buat diri sendiri, hikmah peringatan-Nya yang amat keras itu,
agar selalu berusaha membersihkan diri, harta, maupun penghasilan dari segala
kotoran yang dimurkai-Nya! Jadilah umat yang dilindungi dan diselamatkan
seperti umat Musa, meski dalam kekuasaan Fir'aun!" ***
[Non-text portions of this message have been removed]