Refleksi : Kalau orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan diperdagangkan 
melalui berbagai cara  dan jalan, maka tentu saja bayi yang belum bisa bicara 
pun bisa hilang dari RS untuk diperdagangkan. Begitulah situasi negeri 
kleptokratik. 

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/01/09/brk,20100109-218151,id.html


Rumah Sakit Semarang Diduga Diperdagangkan

Sabtu, 09 Januari 2010 | 13:29 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta - "Sus, dimana anak saya?" kata Dwi Setyowati sambil 
memandang tempat tidur bayi yang kosong. Dwi tak bisa bersabar lagi, naluri 
keibuannya membawanya berlari ke luar rumah sakit mencari bayinya, meski luka 
operasi cesar di perutnya masih basah.

Bayi laki-laki Muhammad Faza Azzahra yang baru ia lahirkan dua hari lalu tidak 
ditemukan lagi. Seorang pengunjung pasien bersaksi ada seorang wanita yang 
membawa bayi dengan tergesa-gesa. Perempuan berambut ikal dengan tinggi 150 
centi berjalan keluar membawa bayi dari ruang perawatan Srikandi Rumah Sakit 
Umum Semarang, Jawa Tengah, tanpa ada yang mencegah.

Ibu muda berusia 30 itu tak mengira akan kehilangan bayinya saat menyerahkan 
pada perawat untuk dimandikan sore, 22 Oktober lalu. Sambil menunggu bayinya 
dimandikan, ia diminta turun dari tempat tidur untuk latihan jalan agar segera 
sembuh dari luka melahirkan. 

Tiba di lorong ruang perawatan, ia melihat tempat tidur bayinya telah kosong. 
Baju kotor dan baju gantinya dibiarkan tergeletak. Dwi bertanya pada salah 
seorang perawat, di mana bayinya namun ia diminta bersabar. Saat itu ia tahu 
ada yang tidak beres. 


Dwi menelepon suaminya yang baru pulang untuk segera kembali ke rumah sakit. 
Malam itu juga ia melapor kepada Kepolisian Resor Semarang Selatan, Jawa 
Tengah. Namun, hingga kini tidak ada jawaban. Pihak Kepolisian selalu 
mengatakan sedang dalam proses. 

Pihak rumah sakit, juga sama, tidak mau bertanggungjawab maupun meminta maaf. 
Mereka malah menawarkan seorang anak untuk menjadi anak asuh dan menawarkan 
uang santunan Rp 50 juta. "Saya mau anak saya, sampai mati tidak bisa 
digantikan dengan anak lain," kata Dwi sambil meneteskan air matanya. 

Dwi bersama suaminya Muhammad Yahron mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan 
Anak untuk mendesak pihak rumah sakit bertanggungjawab. Komisi melihat ada 
sejumlah kejanggalan dalam peristiwa itu. 

Dwi bersama suaminya tidak pernah memfoto bayinya. Namun, setelah bayinya 
hilang ia memperoleh foto dari seorang wartawan. Kemudian, pihak rumah sakit 
memberikan foto yang sama kepadanya. "Ini sindikat perdagangan, foto bisa 
dipakai untuk menawarkan pada pihak calon pembeli," kata Arist Merdeka Sirat, 
Sekretaris Jenderal Komisi.

Kejadian berlangsung cepat, seolah bayi diserahkan secara estafet hingga dalam 
waktu kurang dari 20 menit sudah dibawa keluar rumah sakit. Pihak rumah sakit 
juga melonggarkan akses masuk, sehingga siapapun bisa masuk ke area ruang 
perawatan.

Pekan depan Komisi memanggil pimpinan rumah sakit untuk memberikan keterangan. 
Komisi telah mengirimkan surat ke Kepolisian untuk menindaklanjuti proses 
hukum. Dwi pun berharap bayinya bisa kembali, bayi yang bahkan belum sempat ia 
gendong maupun merasakan air susunya


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke