TOPIC HARI INI : Rumah Sakit Semarang Diduga Diperdagangkan

* Kemana yah itu Polisi dan Penjaga / PORTIR Rumah Sakit ...???

* Setelah RS OMNI INTERNATIONAL  - Rupanya RS (Rumah Sakit) di Indonesia ini
lama2 bisa berubah menjadi "RUMAH PESAKITAN / KRIMINAL  " 

-------Original Message-------
 
From: sunny
Date: 9.1.2010 19:40:48
To: Undisclosed-Recipient:,
Subject: [inti-net] Rumah Sakit Semarang Diduga Diperdagangkan
 
  
Refleksi : Kalau orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan
diperdagangkan melalui berbagai cara dan jalan, maka tentu saja bayi yang
belum bisa bicara pun bisa hilang dari RS untuk diperdagangkan. Begitulah
situasi negeri kleptokratik. 

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/01/09/brk,20100109-218151,id
html

Rumah Sakit Semarang Diduga Diperdagangkan

Sabtu, 09 Januari 2010 | 13:29 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - "Sus, dimana anak saya?" kata Dwi Setyowati
sambil memandang tempat tidur bayi yang kosong. Dwi tak bisa bersabar lagi,
naluri keibuannya membawanya berlari ke luar rumah sakit mencari bayinya,
meski luka operasi cesar di perutnya masih basah.

Bayi laki-laki Muhammad Faza Azzahra yang baru ia lahirkan dua hari lalu
tidak ditemukan lagi. Seorang pengunjung pasien bersaksi ada seorang wanita
yang membawa bayi dengan tergesa-gesa. Perempuan berambut ikal dengan tinggi
150 centi berjalan keluar membawa bayi dari ruang perawatan Srikandi Rumah
Sakit Umum Semarang, Jawa Tengah, tanpa ada yang mencegah.

Ibu muda berusia 30 itu tak mengira akan kehilangan bayinya saat menyerahkan
pada perawat untuk dimandikan sore, 22 Oktober lalu. Sambil menunggu bayinya
dimandikan, ia diminta turun dari tempat tidur untuk latihan jalan agar
segera sembuh dari luka melahirkan. 

Tiba di lorong ruang perawatan, ia melihat tempat tidur bayinya telah kosong
 Baju kotor dan baju gantinya dibiarkan tergeletak. Dwi bertanya pada salah
seorang perawat, di mana bayinya namun ia diminta bersabar. Saat itu ia tahu
ada yang tidak beres. 

Dwi menelepon suaminya yang baru pulang untuk segera kembali ke rumah sakit.
Malam itu juga ia melapor kepada Kepolisian Resor Semarang Selatan, Jawa
Tengah. Namun, hingga kini tidak ada jawaban. Pihak Kepolisian selalu
mengatakan sedang dalam proses. 

Pihak rumah sakit, juga sama, tidak mau bertanggungjawab maupun meminta maaf
 Mereka malah menawarkan seorang anak untuk menjadi anak asuh dan menawarkan
uang santunan Rp 50 juta. "Saya mau anak saya, sampai mati tidak bisa
digantikan dengan anak lain," kata Dwi sambil meneteskan air matanya. 

Dwi bersama suaminya Muhammad Yahron mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan
Anak untuk mendesak pihak rumah sakit bertanggungjawab. Komisi melihat ada
sejumlah kejanggalan dalam peristiwa itu. 

Dwi bersama suaminya tidak pernah memfoto bayinya. Namun, setelah bayinya
hilang ia memperoleh foto dari seorang wartawan. Kemudian, pihak rumah sakit
memberikan foto yang sama kepadanya. "Ini sindikat perdagangan, foto bisa
dipakai untuk menawarkan pada pihak calon pembeli," kata Arist Merdeka Sirat
 Sekretaris Jenderal Komisi.

Kejadian berlangsung cepat, seolah bayi diserahkan secara estafet hingga
dalam waktu kurang dari 20 menit sudah dibawa keluar rumah sakit. Pihak
rumah sakit juga melonggarkan akses masuk, sehingga siapapun bisa masuk ke
area ruang perawatan.

Pekan depan Komisi memanggil pimpinan rumah sakit untuk memberikan
keterangan. Komisi telah mengirimkan surat ke Kepolisian untuk
menindaklanjuti proses hukum. Dwi pun berharap bayinya bisa kembali, bayi
yang bahkan belum sempat ia gendong maupun merasakan air susunya

[Non-text portions of this message have been removed]



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke