Refeleksi : Bagaimana tidak akan dikorbankan ekologi kalau rezim berkuasa berada dalam tangan penyamun neo-Mojopahit. Untuk melaksanakan tugas, secara teratur dikirim transmigrasi untuk membabat hutan dan kehidupan penduduk lokal. Sebentar lagi hutan di Papua akan menyusul seperti apa yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera (Riau).
http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=7&id=3065 20 Januari 2010 | BP Jangan Korbankan Ekologi Oleh I Gusti Ketut Widana Pembangunan ekonomi memang penting, namun jangan sampai mengorbankan pelestarian ekologi. Sebab, pembangunan ekonomi bisa menghabiskan sumber daya ekologi. Sementara pelestarian ekologi akan tetap berkemampuan menyangga keberlangsungan pembangunan ekonomi. Sejak dulu hingga kini, perang abadi antara pinsip ekonomi versus asas ekologi memang terus berlangsung. Prinsip ekonomi terus mendorong dan memacu pertumbuhan kuantitas pendapatan masyarakat, sedangkan asas ekologi lebih mementingkan pelestarian kualitas lingkungan alam. Dilema pun terjadi, di satu sisi pembangunan ekonomi dalam segala bentuknya harus terus dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, di sisi lain usaha keras untuk mempertahankan sumber daya ekologi juga harus tetap dilanjutkan sebagai jaminan keberlanjutan daya dukung sumber daya alam, sebagai modal penyangga pembangunan ekonomi. Hanya, harus diakui, gerak langkah pembangunan ekonomi begitu cepat melesat dipacu oleh target pertumbuhan angka-angka statistik, sebagai pertanda keberhasilan pembangunan, meski faktanya tidak mencerminkan keadaan yang realistis. Artinya, seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dikatakan makin menyejahterakan kehidupan masyarakat, berlangsung juga aktivitas penghancuran potensi ekologi melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumber daya hayati. Sehingga tak berlebihan jika dikatakan ujung dari pembangunan ekonomi sesungguhnya akan bermuara pada proses eliminasi ekologi, yang ditandai dengan terjadinya bermacam krisis. Dalam contoh krisis air atau batu bara sebagai bahan utama penggerak pembangkit listrik lainnya, ternyata telah mengakibatkan defisit sumber daya listrik. Selanjutnya secara simultan membawa efek domino terhadap keberlangsungan sektor industri yang selama ini menjadi andalan bagi pertumbuhan pembangunan ekonomi. Bali pun ternyata tidak bisa lepas dari keadaan kritis itu. Sebagai daerah kecil, dengan potensi alamnya yang juga terbatas, tetapi karena pembangunan ekonomi Bali digerakkan oleh dominasi industri pariwisata, selain sektor pertanian yang sudah makin ditinggalkan, tak ayal kondisi perekonomian Bali sempat dibuat kelimpungan, meski tak sampai mengalami kelumpuhan. Ini berarti, sekaligus juga merupakan isyarat, ternyata pembangunan ekonomi akan menjadi tidak berarti, jika hanya menekankan pada perolehan atau pencapaian kuantitas pertumbuhan melalui deretan angka-angka atau data statistik semata. Ibarat membangun sebuah gedung bertingkat, jika fondasi utama atau tiang pancangnya tidak diperkuat, maka seberapa pun tingkatan yang hendak dibangun dan betapa pun mewah atau megah penampilan arsitekturnya, cepat atau lambat hanya keambrukan yang akan terjadi. Setali tiga uang dengan pembangunan ekonomi Bali, apalagi untuk proyeksi 2010, diprediksi akan mengalami nasib sama berupa keambrukan jika tidak ditopang oleh pemberdayaan dan pelestarian ekologi. Faktanya, dengan potensi sumber daya alamnya yang kini sudah makin menipis, membuat dinamika pembangunan Bali terutama di sektor ekonomi, sangat tergantung pada gerak dan laju para pelaku ekonomi luar Bali. Misalnya dalam hal pasokan berbagai kebutuhan masyarakat Bali, mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai keperluan aktivitas religi (upacara agama), harus diakui, Bali sangat tergantung pada kelancaran transportasi dan distribusi barang dari luar Bali. Bila terjadi kemacetan, apalagi sampai ketersediaan barang menjadi langka atau menghilang dari pasaran, maka secara signifikan akan berpengaruh terhadap kenaikan harga-harga barang. Ini sama artinya makin membuat masyarakat Bali kian rendah daya belinya. Belajar dari pengalaman, dalam konteks pembangunan ekonomi Bali 2010, hendaknya ekologi tidak lagi sebagai korban. Sebab, pelestarian ekologi menyangkut hajat hidup, tidak saja generasi masa kini tetapi masa depan generasi anak-cucu nanti. [Non-text portions of this message have been removed]
