Refleksi : Bukankah SBY juga adalah jago pelaku adu domba? Salah satu contoh ialah disetujui pengiriman Laskar Jihad ke Indonesia Timur, diadu Islam baku hantam dengan kristen dan sebaliknya.
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=13208 2010-01-21 Cari Pelaku Politik Adu Domba [JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebaiknya tidak perlu mewacanakan ada politik adu domba terkait isu pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. Presiden SBY, ujarnya, harus mencari pelaku jika memang situasi seperti itu yang sudah dirasakan. Hal itu dikatakan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golongan Karya (Golkar) Idrus Marham kepada SP di Jakarta, Rabu (20/1). "Kalau itu sudah dirasakan, tinggal satu langkah lagi. Silakan dicari pelaku atau siapa yang mengadu domba itu," kata Idrus. Menurutnya, presiden sebaiknya tidak menuduh, melainkan mewaspadai dari mana politik adu domba itu berasal. Pasalnya, politik adu domba bisa saja dilontarkan orang dekat dalam lingkaran presiden sendiri. "Dalam politik, yang mengadu domba bisa saja orang dekat presiden. Ya, yang ada dalam lingkaran permainan juga," ujarnya. Namun, dia menegaskan, Partai Golkar bukan partai pengkhianat koalisi dan tidak memiliki kepentingan terkait isu pergantian menteri keuangan. Dia menegaskan, soal pergantian menteri adalah hak prerogatif presiden. Sebelumnya, Presiden SBY mengatakan, belakangan muncul isu politik yang tujuannya mengadu domba dirinya dengan berbagai pihak. "Akhir-akhir ini, saya prihatin, karena tiba-tiba muncul suasana politik yang agak aneh dan cenderung tidak sehat. Muncul politik intrik, pecah belah, adu domba, fitnah, dan fiksi," katanya. Tidak Kondusif Sekretaris Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (F Hanura) Sarifuddin Sudding mengatakan, pernyataan Presiden SBY mengenai adanya politik adu domba justru membuat kondisi politik dan demokrasi semakin tidak kondusif. Dia menilai, Presiden sering menunjukkan sikap reaktif dalam menanggapi dinamika demokrasi dan politik di Tanah Air, sehingga tidak memosisikan dirinya sebagai pemimpin yang seharusnya memberikan suasana yang kondusif bagi kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ketika ditanya, apakah tudingan presiden mengenai politik adu domba ditujukan kepada partai yang tidak berkoalisi dalam pemerintahannya, Sarifuddin mengatakan, hal itu tidak berdasar. Partai Hanura, ujarnya, bersikap kritis terhadap kinerja dan kebijakan pemerintah dan tidak mengurusi persoalan pergantian menteri. Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, kepada SP, Kamis (21/1) di Jakarta mengatakan, gaya politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menciptakan kesan bahwa pihaknya orang yang teraniaya, sebaiknya dihentikan dan ditinggalkan. Sebab implikasinya, publik tidak dapat lagi menjadi kasihan kepada Presiden, bahkan jengkel dengan sikap presiden yang selalu memosisikan diri sebagai orang teraniaya. Apalagi saat ini, perolehan suara SBY di Pemilu 2009 diatas 60 persen dengan dukungan koalisi sebanyak 70 persen, menunjukkan SBY bukan lagi presiden dengan dukungan politik minim. "Presiden ini masih berpikir sebagai pemimpin di periode 2004-2009, memang pada tahun itu penuh tantangan karena suaranya kecil dan tidak memiliki kekuatan politik jadi terlihat dizalimi. Sekarang setelah mendapat 62 persen, koalisi 75 persen, tetapi masih bersikap seperti dulu, kan lucu itu," jelasnya. Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, di kantor Presiden, mengakui informasi yang berkembang belakangan ini, yang menyebutkan adanya pencopotan menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II, membuat Presiden tidak nyaman. Dalam pidato Presiden di Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia menyebutkan, ada pihak tertentu yang dengan sengaja ingin mengadu domba Presiden dengan pihak lain."Ya kalau terus-menerus seperti ini, ya tidak nyaman juga akhirnya. Penuh intrik kan," ujarnya. Menurut Yulian, Presiden menilai, ada pihak tertentu yang dengan sengaja mengadu domba Presiden dengan pihak lain dan melontarkan isu yang sama sekali tidak dapat dipertanggung jawabkan. [J-9/L-10] -------------------------------------------------------------------------------- [Non-text portions of this message have been removed]
