Refleksi : Kemungkinan besar perasaan "takut dan malu" ini hanya terdapat pada 
rakyat kecil. Tetapi pada petinggi nkri di semua tingkat dan lapangan,  
karakter malu dan takut tsb. samasekali kurang atau juga tidak ada  pada 
mereka. Makin tinggi pangkat dan kedudukan seseorang makin tidak takut dan 
makin tidak malu,  sebab  bisa diobservasi  pada kasus-kasus korupsi, kalau 
para petinggi  takut dan malu tentu sekali mereka tidak  akan korupsi seenaknya 
saja. Sebagai contoh kasus korupsi ialah almarhum  mantan presiden NKRI bernama 
Muhammad Soeharto yang juga adalah mantan jenderal TNI dan mantan ketua Golkar, 
contoh lain ialah mantan menteri agama Said Agil Husni Al Munawar.  Daftarnya 
bisa panyang, tetapi yang menjadi juara dunia kelas wahid korupsi ialah 
Soeharto, masuk nomor datu dalam daftar PBB Stolen Assets Recovery (StAR). Atau 
bagaimana pendapat Anda?

  

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=13218

2010-01-21 
Orang Indonesia Takut dan Malu


Joanito De Saojoao

Chief Executive Officer Business First Indonesia Mohammad Subagyo (kiri) 
didampingi moderator Aditya L Djono hadir sebagai pembicara dalam acara SP 
Business Gathering dengan tema "Finding Who You Are" di Hard Rock Café, 
Jakarta, Rabu (20/1).



[JAKARTA] Penyakit orang Indonesia itu ada dua, takut dan malu. "Padahal, hidup 
kita ini seperti pemain catur. Jadi, kita yang menentukan," kata Chief 
Executive Officer (CEO) dan Founder BusinessFirst Indonesia Moh Subagio dalam 
acara SP Gathering dengan tajuk Finding Who You Are di Hard Rock Cafe Jakarta, 
Rabu (20/1).

"Siapa diri kita ini, pada umumnya sering diartikan dengan nama dan apa yang 
kita kerjakan sehari-hari. Padahal, mengenal diri itu lebih daripada hal-hal 
tersebut. Memahami diri berarti kita mengetahui apa yang menjadi kekuatan 
terbesar di dalam diri ini," katanya.

Menurutnya, setiap orang itu dilahirkan ke dunia ini sudah pasti dengan satu 
kelebihan yang berbeda-beda. Karena itu, kelebihan tersebut, haruslah dikenali 
si pemiliknya, sehingga kelebihan tersebut nantinya bisa menciptakan sebuah 
kesuksesan. Pasalnya, kompetensi dan keahlian bukanlah faktor utama yang 
menentukan keberhasilan seseorang.

"Coba diperhatikan, apa yang membedakan burung elang dengan burung-burung 
lainnya? Jawabnya sudah pasti mata dan cakar. Elang memiliki mata dan cakar 
seba- gai kekuatan terbesarnya sehingga kelebihan itulah yang membedakannya 
dengan burung jenis lainnya selain bisa sama-sama terbang. Nah, manusia itu 
seperti halnya dengan elang. Jangan ada elang tumbuh di lingkungan ayam dan 
ingin seperti ayam, karena bagaimanapun Elang tidak akan bisa melebihi 
kelebihan ayam," katanya.

Subagio menilai, manusia harus mengenali kekuatan terbesar di dalam diri dan 
memfokuskan diri pada kelebihan tersebut, sehingga keberhasilan dipastikan akan 
mudah diraih. "Kita harus tahu kelebihan kita, jangan ikut-ikutan orang lain 
karena bakat, kelebihan, bahkan takdir kita dengan mereka itu berbeda," 
tegasnya.

Dosen Universitas 17 Agustus Surabaya ini menambahkan, sebaiknya setiap orang 
harus segera mencari dan menemukan bakat diri dan jangan sampai terjebak dengan 
rutinitas yang dijalani sehari-hari. Sebab, aktivitas tersebut, merupakan 
hambatan pertama dalam menemukan kelebihan diri, selain takut dan malu. 

Ada dua indikator untuk mengenal siapa diri kita sebenarnya. Pertama, indikator 
internal, yang mana diri kita bisa menikmati apa yang diker-jakan dan tidak 
merasa tertekan. Kedua, indikator eksternal, mendapat pengakuan dari orang lain 
bahwa apa yang kita kerjakan itu bagus. 

"Kalau kita punya sesuatu yang dilandasi indikator internal dan eksternal, lalu 
bekerja sesuai dengan itu maka potensi keberhasilan akan lebih besar karena 
kita menyukai itu," ungkap Soebagio.

Dia menegaskan kembali, dahulu orang percaya bahwa keberhasilan digapai karena 
memiliki keahlian atau kompetensi, padahal, menurutnya keberhasilan itu dimulai 
dari apa yang menjadi kelebihan kita. 

"Skill itu bisa diasah jadi multiskill itu benar. Namun, multitalenta itu perlu 
didefinisikan ulang, seperti halnya prinsip Thomas Alva Edison yang mengatakan 
bahwa kesuksesan itu 99% ditentukan oleh kerja keras dan 1% sisanya karena 
potensi," katanya. [LOV/N-6]









[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke