http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/loper-koran-juga-bisa-jadi-doktor/

Rabu, 20 Januari 2010 13:55 
Basuki Agus Suparno

Loper Koran Juga Bisa Jadi Doktor 


DEPOK - Siapa bilang loper koran tidak bisa meraih gelar doktor? Dr Basuki Agus 
Suparno (39) telah membuktikan itu. 


     
Pada 14 Januari 2010, mantan loper koran ini berhasil mempertahankan disertasi 
Kontestasi Makna dan Dramatisme:  Studi Komunikasi Politik tentang Reformasi di 
Indonesia untuk meraih gelar doktor komunikasi politik di Universitas Indonesia 
(UI). Hasil yang diperolehnya pun sangat memuaskan. Pada Sabtu (30/1) 
mendatang, Basuki diwisuda bersama ratusan sarjana lainnya.


Apa yang sudah diraih ayah dua anak ini tidak semudah seperti orang lain yang 
berkecukupan. Dari sekolah tingkat sekolah dasar (SD) sampai berhasil meraih 
gelar strata satu (S1) di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, 
Solo, kehidupan Basuki selalu dirundung pahit. Banyak pekerjaan sampingan yang 
ditekuni mulai dari loper koran, jual kantong plastik, semir sepatu hingga 
berjualan gula pasir dari rumah ke rumah. Semuanya ini telah membawanya dapat 
menyelesaikan bangku kuliah di UNS.


"Sejak dulu tidak ada bayangan akan dapat meraih gelar hingga S3, mengingat 
kemampuan ekonomi kedua orang tua saya sangat pas-pasan. Hanya saja, sejak 
duduk di bangku SMA, cita-cita saya ingin meraih gelar sarjana S1 itu sudah 
cukup," kata Basuki Agus Suparno dalam bincang-bincang dengan SH di Kampus UI, 
Senin (18/1) siang.


Kisah pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 6 Mei 1971 itu bermula saat sang ayah 
almarhum Suwoyo Wiro Sumitro dipecat sebagai pegawai administrasi di pabrik 
gula daerah Mojo pada 1977. Kemudian bersama ibunya Sugianti, keluarga ini 
pindah ke Jakarta pada 1978 dan mengontrak rumah di kawasan Kampung Makasar, 
Jakarta Timur. Sang ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu berjualan opak 
(keripik singkong).


Namun, kepindahan Basuki dari Sragen bersama delapan saudaranya ke Jakarta, dia 
tidak langsung pindah sekolah. Sekitar setengah tahun Basuki menganggur dan 
tidak berani mendaftar melanjutkan ke kelas dua SD Negeri 06 Petang Cipinang 
Asem, Jakarta Timur. "Karena tidak mampu berbahasa Indonesia dan Betawi maka 
saya tidak dimasukkan sekolah.  Barulah setelah mengerti maka saya dimasukkan 
melanjutkan sekolah," ujar Basuki mengenang.


Menurutnya, hasil yang diperoleh kedua orang tuanya sebagai buruh bangunan dan 
berjualan keripik singkong, ternyata tidak mampu mencukupi biaya kehidupan 
mereka serta biaya pendidikan anak-anaknya. Sambil sekolah, Basuki kecil 
terpaksa jual koran dan kantong plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. 
Pekerjaan ditekuninya sampai kelas satu SMP Negeri 50, Jakarta Timur.


Saat itulah semua aktivitas Basuki terhenti. Pasalnya, sang ayah meninggal 
dunia. Keluarga Basuki pun akhirnya kembali ke Sragen. "Kami pulang ke Sragen 
dan di sana mengelola kebun kelapa. Lumayan buat makan sehari-hari ditambah 
kiriman beras dari kakak ipar," tuturnya.


Kepergian ayahnya untuk selamanya, tidak membuat Basuki patah semangat apalagi 
frustrasi. Justru sebaliknya, pendidikan SMP diselesaikan dengan baik dan dia 
pun diterima di SMA Negeri 1 Sragen. Sebagai SMA favorit, pria yang suka baca 
buku-buku politik ini mampu bersaing dengan teman-temannya, meski terbatas 
buku-buku yang dia miliki. "Walapun ada bantuan dana dari kakak ipar, saya 
tetap berjualan koran dengan bersepeda mengelilingi Kota Sragen," tambahnya.

Gagal Masuk UGM
Seiring semakin banyaknya pelanggan koran dari Basuki, statusnya pun meningkat 
dari penjualan eceran menjadi loper yang mampu mendapat pelanggan tetap 
mencapai ratusan orang. Seusai lulus SMA, Basuki mengikuti tes ujian masuk 
perguruan tinggi (UMPTN) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, 
dia gagal diterima.


Kemudian, tahun berikutnya pemuda yang pantang menyerah ini akhirnya bisa masuk 
ke UNS Surakarta. Dia memilih dua fakultas yakni Kedokteran dan Fakultas 
Komunikasi. Pada 1991 kuliah di Fakultas Komunikasi dengan biaya dari hasil 
jualan koran. Cukup banyak koran harian yang dijualnya baik terbitan dari 
Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. "Selain koran terbitan pagi yang saya edarkan, 
juga ada terbitan sore ya seperti Sinar Harapan dan Wawasan," ujarnya.


Setelah meraih gelar sarjana dari UNS, menurut Basuki tidak ada niatnya untuk 
melamar jadi pegawai negeri sipil (PNS). Ia pun terus menggeluti usaha dagang. 
Sambil tetap menjadi loper koran, Basuki memulai usaha baru menjadi penyuplai 
gula pasir dari rumah ke rumah di Kota Sragen. Awalnya bermodalkan 100 
kilogram, akhirnya bisa memiliki omzet sampai tiga ton per bulan. Profesi ini 
dijalaninya sampai akhir 1987.


Pada saat itu, lanjutnya, seorang teman kuliahnya mengajaknya mendaftar sebagai 
dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Yogyakarta. Setelah 
melalui tahap tes, pria beristrikan Erni Indriastati ini, awalnya diangkat 
sebagai asisten dosen dengan gaji sebesar Rp 300.000 per bulan. Tidak lama 
kemudian, begitu surat keputusan (SK) pengangkatannya turun, Basuki menjadi 
dosen tetap pada mata kuliah Statistik Sosial dan Pengantar Ilmu Komunikasi.
Berkat perjuangan kerasnya, UPN Veteran menyekolahkannya ke jenjang strata dua 
(S2) di UNS Surakarta dan pada 2008 dia mendapat beasiswa untuk meraih gelar S3 
di UI Depok. "Saya tidak menyangka begitu baiknya pemimpin UPN memberikan 
beasiswa sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar 
doktor," tambahnya. (str-1)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke