http://regional.kompas.com/read/2010/01/30/12422597/Pemerintah.Suka.

  
Pemerintah Suka Emas Papua, Bukan Mas Papua

Sabtu, 30 Januari 2010 | 12:42 WIB

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO

JAKARTA, KOMPAS.com - Perhatian pemerintah dinilai hanya terfokus pada kekayaan 
alam luar biasa di tanah Papua serta lebih memberi jaminan keamanan bagi 
kegiatan eksploitasi perusahaan asing. Selain itu, pemerintah dinilai lebih 
melindungi kekayaan alam Papua daripada masyarakat asli Papua. 

"Orang Papua katakan 'pemerintah suka emas Papua, bukan mas Papua'. Itulah 
pendapat di masyarakat Papua," ucap Neles Tebay, dosen misiologi Sekolah Tinggi 
Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Papua, saat diskusi "Pulihkan Hak 
Hidup Masyarakat Adat" di Jakarta, Sabtu (30/1/2010). 

Neles menjelaskan, persoalan mendasar masyarakat Pupua bukan isu separatisme, 
melainkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan hak hidup. "Persoalan bukan 
separatisme. Orang Papua sedang khawatir suatu saat orang Papua yang hidup di 
Republik ini akan punah di tanah Papua," tegas dia. 

Masyarakat asli Papua, ucap Neles, menganggap anggota komunitasnya tidak hanya 
orang-orang hidup, tetapi juga komunitas yang sudah meninggal seperti para 
leluhur. Bahkan, anggota komunitas mereka mencakup tanah, gunung, batu, sungai, 
binatang, dan roh. 

"PT Freeport ambil emas dan tembaga di puncak Gunung di Papua yang dianggap 
sebagai bagian dari komunitas mereka. Tanah, gunung, laut mereka sebut mama. 
Pengerukan puncak gunung berarti pengerukan otak mama. Kalau otak mama dieruk, 
maka akan berdampak pada anak-anaknya (masyarakat)," jelas dia.


http://regional.kompas.com/read/2010/01/30/14091910/Eksploitasi.Alam.Tak.Sejahterakan.Masyarakat.Lokal


Eksploitasi Alam Tak Sejahterakan Masyarakat Lokal
Sabtu, 30 Januari 2010 | 14:09 WIB

KOMPAS/ ICHWAN SUSANTO
ilustrasi 

JAKARTA, KOMPAS.com - Tingkat eksploitasi kekayaan alam di tanah Kalimantan dan 
Papua dianggap tidak memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat lokal. 
Eksploitasi SDA itu dinilai lebih melayani kepentingan perusahaan-perusahaan 
transnasional. 

"Semakin tinggi tingkat eksploitasi, semakin kecil kemungkinan masyarakat lokal 
menikmati pembangunan di daerahnya masing-masing," ucap Don K Marut, Direktur 
INFID, saat diskusi "Pulihkan Hak Hidup Masyarakat Adat" di Gedung Konferensi 
Wali Gereja (KWI) di Jakarta, Sabtu (30/1/2010). 

Don menjelaskan, ada beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya tingkat 
kesejahteraan masyarakat lokal meskipun kaya SDA. Menurut dia, pembangunan di 
dua daerah itu merupakan refleksi dari model pembangunan di pemerintah pusat. 
Model itu diterjemahkan pemerintah daerah dengan peningkatan investasi. 

Namun, kata dia, berdasarkan data UGM, investasi besar-besaran perusahaan besar 
tidak langsung meningkatkan kesejahteraan warga. "Setiap kepala daerah setelah 
dilantik, langkah pertama mereka adalah cari investasi. Hampir 70 persen 
anggaran perjalanan dinas kepala daerah untuk cari investor," jelas dia. 

"Di Papua, eksploitasi tidak berhubungan dengan perbaikan ekonomi. Perbaikan 
terjadi setelah ada otonomi daerah. Tapi, perbaikan itu karena bupati 
membagi-bagikan uang tunai secara langsung. Dia bisa bawa uang Rp 100 juta jika 
ke daerah," ungkap Don. 

Faktor lain, tambah Don, adanya penerjemahan pengertian pemerintah secara 
radikal di daerah. Kepala daerah menganggap bahwa ia-lah pemilik tunggal 
kekayaan alam di daerahnya. 

"Wali kota, bupati menganggap pemilik kekayaan alam. Bayangkan saja, sekretaris 
daerah bisa punya sertifikat tanah seluas 50 hektar. Dia lalu sewakan ke 
perusahaan untuk diekspolitasi kekayaannya," lontarnya. 

"Faktor lain, APBD dimanipulasi sedemikian rupa sehingga ada anggaran untuk 
TNI/Polri. Audit BPK terhadap APBD ditemukan adanya anggaran untuk TNI/Polri 
mencapai 10 persen. Alasannya apa? Ya untuk melindungi koruptor," tegas Don.

++++
http://regional.kompas.com/read/2010/01/17/1525206/Rakyat.Papua.Minta.Keadilan


Rakyat Papua Minta Keadilan
Minggu, 17 Januari 2010 | 15:25 WIB

R.A. KHAIRUN NISA
Kontras dan Komnas HAM Papua menilai terjadi penurunan drastis terhadap situasi 
HAM di Papua pada 2009. 
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Nasional HAM Papua dan Komisi untuk Orang Hilang 
dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras menilai bahwa telah terjadi penurunan 
drastis terhadap situasi hak asasi manusia di Papua pada tahun 2009. Negara 
dianggap masih mengabaikan perlindungan kesetaraan warga, penghormatan martabat 
manusia, dan supremasi hukum di Papua.

"Sepanjang 2009, kriminalisasi terhadap warga sipil Papua meningkat. Aparat 
keamanan dengan mudah mendiskreditkan orang-orang yang dituduh sebagai 
separatis," kata Wakil Ketua Komnas HAM Papua Matius Murib dalam jumpa pers di 
Sekretariat Kontras, Jalan Borobudur, Jakarta, Minggu (17/1/2010).

Indikator-indikator ketidakadilan di Papua dilihat dari adanya kriminalisasi 
atas warga yang mengibarkan bendera, pembubaran demonstrasi damai, hingga 
penembakan terhadap tokoh pembebasan Papua, Kelly Kwalik, pada bulan Desember 
2009. "Dalam kasus penembakan tokoh pembebasan Papua, Kelly Kwalik, terlihat 
negara gagal menyelesaikan konflik di Papua dalam tatanan demokrasi," ucapnya.

Lebih lanjut ia menyatakan, identitas Papua kini tak lagi mendapat penghormatan 
penuh karena ekspresi damai kian dilihat sebagai tindakan melawan hukum. 
"Padahal itu bagian dari penghormatan kebudayaan dan manifestasi hak sipil 
politik setiap orang, sebagaimana yang dijamin dalam Kovenan Hak Sipil dan 
Politik serta Kovenan Hak Ekonomi Sosial dan Budaya yang sudah diratifikasi 
oleh pemerintah Indonesia pada 2006," ungkapnya.

Atas dasar tersebut, Matius Murib menyatakan bahwa rakyat Papua meminta 
pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memberikan prioritas perhatian 
untuk rakyat Papua. "Janji kesejahteraan, demokrasi, dan keadilan yang menjadi 
tiga pilar program pemerintahan SBY harus bisa dirasakan langsung oleh rakyat 
Papua," ujarnya.

Kontras mencatat, dari periode Oktober sampai November 2009, setidaknya terjadi 
lima penembakan di Papua, dua konflik antarwarga, tiga kasus akibat pengibaran 
Bintang Kejora, dan satu kasus penganiayaan tahanan di Papua.

++++
http://regional.kompas.com/read/2010/01/17/16153219/Hapuskan.Diskriminasi.di.Papua


Hapuskan Diskriminasi di Papua


Minggu, 17 Januari 2010 | 16:15 WIB
 
JAKARTA, KOMPAS.com - Data yang dihimpun oleh Fransiskan International 
menunjukkan, pada tahun 2004 sebanyak 80 persen penduduk pribumi Papua hidup 
dalam kemiskinan. Selain itu, sebanyak 36,1 persen warga di daerah tersebut 
tidak memiliki akses fasilitas kesehatan. Kondisi kian diperparah dengan 
meningkatnya eksploitasi sumber daya alam di Papua yang tidak berbanding lurus 
dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua. 

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Komnas HAM Papua Matius Murib, dalam jumpa 
pers di Sekretariat Kontras, Jl. Borobudur, Jakarta, Minggu (17/1/2010).  
"Masyarakat adat di sana masih belum bisa merasakan praktik penghormatan 
terhadap ekspresi budaya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan 
mereka sehari-hari. Ekspresi dari perbedaan di sana, dijawab dengan penolakan 
dan dikategorikan sebagai tindakan kriminal yang harus dijawab dengan kekuatan 
eksesif," kata Matius Murib. 

Lanjutnya, masyarakat Papua sampai sekarang juga belum bisa merasakan langsung 
eksistensi negara dalam wujud pelayanan publik yang optimal. "Hal ini 
dikarenakan ketidaksiapan pemerintah daerah dalam menata kebijakan yang 
seharusnya melibatkan partisipasi masyarakat Papua secara luas," tegasnya. 

Ia juga menambahkan, inkonsistensi sikap dan tindakan pemerintah pusat dan 
Pemerintah Provinsi Papua dalam menerapkan undang-undang otonomi khusus telah 
berakibat ketidakpercayaan rakyat Papua. "Secara ekonomi-sosial, target 
pembangunan dalam otonomi khusus juga tak dirasakan oleh orang Papua. Kebijakan 
tersebut justru melahirkan kesenjangan sosial kian tinggi dan menyuburkan 
korupsi tanpa koreksi yang signifikan," katanya. 

Menurutnya, sudah sepatutnya pemerintah pusat konsisten dalam menjalankan 
kehidupan berdemokrasi tanpa diskriminasi. "Jika Presiden SBY teguh pada 
retorika demokrasinya, maka orang Papua tidak menjadi sasaran operasi keamanan 
bertubi-tubi," pungkasnya. 

Dari periode Oktober sampai November 2009, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban 
Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat setidaknya terjadi lima penembakan di 
Papua, salah satunya yang terjadi pada tokoh pembebasan Papua Kelly Kwalik. 
Peristiwa kekerasan lainnya yaitu dua konflik antar warga, tiga kasus akibat 
pengibaran Bendera Bintang Kejora, dan satu kasus penganiayaan tahanan.


http://regional.kompas.com/read/2010/01/27/08212312/Tuntutan.Kemerdekaan.Papua.Kembali.Diteriakkan


Tuntutan Kemerdekaan Papua Kembali Diteriakkan
Rabu, 27 Januari 2010 | 08:21 WIB

MANOKWARI, KOMPAS.com - Sekitar 200 aktivis dan simpatisan Otorita Nasional 
Papua Barat (ONPB), Rabu (27/1/2010), berdemonstrasi di Manokwari, Papua Barat. 

Mereka menuntut pelaksanaan dialog dengan masyarakat internasional karena 
Indonesia dinilai gagal mengatasi berbagai persoalan mendasar di Papua. 
"Pelanggaran HAM terus terjadi, seperti dialami almarhum Yawan Wayeni. Ususnya 
terburai setelah disangkur (oknum/diduga) aparat Polres Kepulauan Yapen 
beberapa waktu lalu," ujar Markus Yenu, Gubernur Pemerintahan Transisi Papua 
Barat ONPB, di Manokwari. 

Ia mengungkapkan, Papua pasti merdeka, lepas dari NKRI. Dia menjelaskan, Pepera 
yang menjadi dasar Indonesia untuk menginisiasikan Papua memiliki berbagai 
pelanggaran. 

Markus Yenu mengatakan, ONPB mendukung pendaftaran Parlemen Internasional Papua 
Barat (IPWP). Lebih lanjut, ia mendukung pendaftaran Papua dalam Komisi 
Dekolonisasi PBB. 

Saat ini massa yang terdiri dari pria-wanita, tua-muda, hingga anak-anak ini 
bergabung dan berorasi di samping GOR Manokwari. Mereka dikawal puluhan aparat 
kepolisian. Rencananya, massa akan berarak menuju Lapangan Sanggeng.









[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke