Lha kalau minyak habis, gimana mau mempertahankan industri?

-dharma



2010/1/28 sunny <[email protected]>

>
>
> Refleksi : Daya tahan industri sesuatu negeri tergantung pada politik
> ekonomi, sosial dan kebudayaan negera tsb, jadi bukan khusus tergantung pada
> grup bidang tertentu, tetapi kalau menteri mau kentut, tentu tidak ada yang
> melarang.
>
>
>
> http://www.antaranews.com/berita/1264664580/insinyur-diminta-tingkatkan-daya-tahan-industri
>
> Insinyur Diminta Tingkatkan Daya Tahan Industri
> Kamis, 28 Januari 2010 14:43 WIB | Ekonomi & Bisnis | Bisnis |
>
> Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)Jakarta
> (ANTARA News) - Pemerintah cq Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta
> kalangan insinyur meningkatkan daya tahan industri nasional sehingga mampu
> meningkatkan volume perdagangan Indonesia di era perdagangan bebas saat ini.
>
> "Dalam persaingan perdagangan saat ini saya ingin mengajak insinyur
> berpikir keras bagaimana mengembangkan perdagangan kita yang berbasis sumber
> daya alam dengan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif," kata
> Hatta pada pelantikan pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode
> 2009-2012 di Jakarta, Rabu malam.
>
> Ia mengatakan, Indonesia tidak bisa lari dari tren perdagangan bebas saat
> ini dan ia melihat peranan insinyur sangat penting dalam merespon tantangan
> global tersebut menjadi peluang agar neraca perdagangan Indonesia menjadi
> surplus, meskipun terjadi era keterbukaan dalam perdagangan dunia.
>
> "Insinyur selalu melihat peluang. Insinyur tidak pernah mengatasi
> persoalan, tetapi mengatasi potensial problem sebelum menjadi problem,"
> ujarnya.
>
> Dalam kaitan itu, Hatta meminta kalangan insinyur mengatasi potensi
> pemutusan hubungan kerja (PHK) dan runtuhnya industri nasional akibat
> perdagangan bebas, melalui penguatan daya tahan industri dan peningkatan
> produktivitas agar potensi masalah itu bisa teratasi.
>
> Pemerintah sendiri, lanjut dia, telah memiliki langkah agar perdagangan
> bebas tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi industri nasional melalui
> revitalisasi industri dengan cara pengembangan klaster-klaster pada enam
> koridor utama.
>
> "Dalam hitungan minggu, Presiden akan menandatangani Komite Inovasi
> Nasional 2025," katanya. Ia berharap akan banyak insinyur terlibat dalam
> komite tersebut.
>
> Lebih jauh ia berharap kalangan insinyur meningkatkan peran dalam tiga
> pilar pembangunan nasional yaitu peningkatan sumber daya manusia
> berkualitas, peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk merespon
> masalah pembangunan, dan peningkatan daya saing nasional.
>
> Sementara itu, dalam pidato Ketua Umum PII yang terpilih pada Munas di
> Manado pada awal Desember 2009 lalu, M Said Didu, mengatakan, kalangan
> insinyur akan mendukung konsep pembangunan industri melalui klaster seperti
> yang dicanangkan pemerintah tersebut.
>
> "Itu kebijakan yang tepat dan perlu didukung bersama," ujar Sekretaris
> Kementerian BUMN itu yang dalam kepimpinannya di PPI menekankan pentingnya
> kebersamaan.
>
> Said Didu mengakui pada saat ini Indonesia mengalami ancaman
> deindustrialiasasi yang terlihat dari menurunnya pertumbuhan peranan
> industri terhadap produk domestik bruto (PDB).
>
> Ia menguraikan sejak krisis ekonomi pertumbuhan industri nasional terus
> menurun secara signifikan. Pada 10 tahun sebelum krisis 1997/1998
> pertumbuhan industri rata-rata mencapai 12 persen per tahun atau sekitar
> lima persen lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. "Itulah yang
> membuat Indonesia masuk kategori `macan` Asia waktu itu," katanya.
>
> Namun setelah krisis, pertumbuhan industri nasional, lanjut dia, terus
> menurun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,2 persen per tahun sepanjang
> 2000-2008, sedangkan pertumbuhan PDB rata-rata 5,2 persen.
>
> Ia juga menguraikan pada era keemasan pertumbuhan ekonomi nasional,
> kontribusi industri manufaktur terhadap PDB mendekati angka 35 persen, namun
> sejak 2000 peranan industri turun menjadi rata-rata 28 persen.
>
> "Untuk menghentikan laju deindustrialisasi diperlukan terobosan kebijakan
> yang dilaksanakan secara konsisten dan tidak sekedar menjawab persoalan
> kekinian, namun memiliki dimensi jauh ke depan," ujar Said Didu.
>
> Ia mengatakan, terobosan terpenting yang harus dilakukan pemerintah adalah
> keamanan pasokan energi dan dukungan infrastruktur. Dua hal tersebut, lanjut
> dia, membutuhkan kebijakan yang "extra-ordinary" untuk mewujudkannya.
> (*)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke