Refleksi : Bukan saja di Kalimantan orang Dayak mempunyai problem, tetapi juga 
di Sumatera, Papua, etc. jadi kalau tidak snewn tetapi sadar dan bisa berpikir 
logik agak cerah terhadap keadan sekarang maupun hari depan, pasti akan  
bertanya: Apa faedahnya dengan NKRI? 
 cuaca suram
 

http://www.antaranews.com/berita/1268369541/eksploitasi-hutan-musnahkan-budaya-adat-dayak

Eksploitasi Hutan Musnahkan Budaya Adat Dayak
Jumat, 12 Maret 2010 11:52 WIB | Warta Bumi | Masalah Lingkungan | 

Ukiran Dayak yang tertempel di dalam dinding Lamin (rumah khas 
Dayak)/ilustrasi. (ANTARA/Andika Wahyu)Barabai, Kalsel (ANTARA News) - 
Eksploitasi berlebihan di kawasan hutan tempat hunian masyarakat adat Dayak, 
berperan sangat besar terhadap musnahnya adat isatiadat dan budaya setempat. 

Hal tersebut berkaitan erat karena peran hutan yang sangat penting terhadap 
pelaksanaan adat istiadat dan budaya bagi masyarakat adat Dayak, ungkap 
Koordinator Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA) Borneo Selatan, 
Juliade, Jumat.

"Hutan bagi masyarakat adat Dayak bukan hanya sekedar tempat tinggal atau 
tempat berusaha. Hutan bagi mereka adalah Ibu Pertiwi," ujarnya di Barabai, 
ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan (Kalsel), sekitar 
165 Km Utara Banjarmasin.

Ia mengatakan, pelaksanaan adat istiadat dan budaya berkaitan langsung dengan 
hutan.

"Seperti tradisi Bahilai yang dilaksanakan terkait aktivitas menanam padi atau 
Aruh Ganal sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil panen. Bila hutan tak lagi 
ada, budaya itupun akan hilang," katanya.

Dalam hal berusaha dan bertahan hidup, bisa saja dilakukan masyarakat adat 
Dayak di luar kawasan hutan. Tetapi, untuk masalah adat istiadat, budaya dan 
bahkan kepercayaan terhadap Tuhan sangat berkaitan erat dengan keberadaan hutan.

Ditambahkannya, pengakuan dari pemerintah saat ini terhadap agama dan 
kepercayaan masyarakat adat Dayak yaitu Kaharingan, sedikit banyak telah 
membantu membangun kepercayaan diri mereka.

Sementara itu, menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) 
Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat, upaya pemerintah mengakomodir budaya adat hanya 
sebatas pelestarian saja.

"Seperti Aruh Ganal yang pelaksanaannya difasilitasi oleh pemerintah, dilakukan 
hanya sekedar pelestarian saja dan kehilangan maknanya. Karena hal itu 
dilakukan dengan orientasi yang berbeda," ujarnya.

Kekhawatiran beberapa kalangan akan musnahnya adat istiadat dan budaya 
masyarakat adat Dayak saat ini bergulir seiring dengan musnahnya beberapa 
budaya yang ada, seperti Bahilai yang kini tak lagi dikenal.
(ANT/B010)







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke