Refleksi :  Karakteristik kemajuan kemerdekaan negara  Indonesia, bisa mudah 
dilihat  dari  perbedaan menyoloknya, bukan saja  dari segi pendapatan antara 
kaum berkuasa bersama sobat-sobat mereka disekitar panggung kekuasaan di satu 
pihak dan rakyat jelata pada pihak lain, tetapi juga antara region, yaitu 
antara region atau daerah pusat kekuasaan dan region periferi. Makin dekat 
dengan pusat kekuasaan bertahta makin jauh lebih tinggi dan lebih maju, 
sedangkan  makin jauh daerah dari pusat kekuasaan  tsb sekalipun kaya raya 
dengan sumber alam yang dieksploatasi makin miskin dan makin dikebelakangkan 
penduduknya.  Grafitasi penimbunan harta  region periferi terdapat di pusat 
kekausaan negara.

Kenyataan perbedaan ini bisa dilihat dalam sejarah kolonilisme yaitu hubungan 
antara negeri induk dan jajahan-jajahannya,  jadi dengan lain kata bagi NKRI, 
sekalipun kolonilisme telah pergi lebih dari setengah abad lalu, tetapi sistem 
exploatasinya dipelihara dan dipraktekan kaum berkuasa. Daerah periferi 
dijadikan sumber penghisapan.

     

http://berita.liputan6.com/sosbud/201003/268131/Akibat.Kemiskinan.Penyakit.Terus.Mendera.Anak.Indonesia

Akibat Kemiskinan, Penyakit Terus Mendera Anak Indonesia   
Tim Liputan Enam SCTV 
 
Bocah pengidap kelainan hati di Batam, Kepri. 

17/03/2010 04:01
Liputan6.com, Mandailing: Disaat warga ibu kota sibuk memburu barang impor 
bermerek, masih banyak warga di pelosok Indonesia, yang bergelut dengan 
kemiskinan. Jangankan berfikir memiliki baju atau sepatu baru, untuk makan dan 
berobat saja, mereka harus berjuang, antara hidup dan mati. 

Seperti nasib yang dialami Danang, bocah warga Kepulauan Riau tersebut, 
menderita kelainan hati sejak kecil. Akibatnya, mata Danang terus menguning, 
perut buncit dan kulitnya rusak. Penyakit ini, membuat Danang harus menjalani 
masa kecilnya dengan penderitaan. Surjono, ayah Danang, tentu sangat ingin 
membawa anaknya berobat, agar bisa kembali sembuh, namun, karena tidak memiliki 
biaya, keinginan tersebut sekadar menjadi mimpi.

Nasib yang sama juga dialami Yusuf, bocah berusia sembilan tahun, warga 
Madailing Natal, Sumatra Utara. Keadaan Yusuf jauh lebih mengenaskan, karena 
tak memiliki uang untuk mengobati penyakitnya, menyebabkan Yusuf mengalami 
buta, bisu dan tak bisa berjalan. Abdurrahman, ayah Yusuf, hanya bisa meratapi 
nasib anaknya tersebut.

Begitu juga di Jawa, tepatnya di Grobokan, Jawa Tengah, sebut saja namanya 
Andika, bayi mungil ini, sangat menderita jika akan buang air, karena tidak 
memiliki anus. Jika orang tuanya memiliki biaya, tentu sang anak, tidak akan 
mengalami penderitaan ini. Yang kaya membuang-buang hartanya, sedangkan si 
miskin, terlunta lunta dan menderita, inilah sebuah fenomena di Indonesia. Jika 
saja banyak yang ingin berbagi, tentu si miskin makin bisa tersenyum.(ARL)



Artikel Terkait
  a.. Bayi Penderita Hidrosepalus di Situbondo Harapkan Bantuan
  b.. Bocah Sembilan Tahun Lumpuh dan Buta
  c.. Tak Punya Anus, Bayi BAB Lewat Kemaluan








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke