Refleksi : Mosyaalloh! Dari teroris latihan di Aceh, sekarang dirubah, menjadi 
cerita latihan berjihad untuk membantu Palestina. Kalau betul latihan untuk 
membantu Palestina, tentunya didukung dan direstui oleh rezim NKRI dan juga  
MUI serta Deparemen  Agama, jadi intel SBY sudah tahu sebelum latihan, apalagi 
latihan dengan senjata dibawa dari Jawa.   

Agaknya rezim SBY kehilangan akal bagaimana bisa menipu masyarakat, lalu 
disutradarakan sendiwara teroris di Aceh agar perhatian masyarakat dialihkan 
dari kasus korupsi, Bank Century, kemiskinan  yang merajalela dikalangan 
masyarakat. 

Mengenai korupsi, baru-baru ini, "Polistical and Economic Risk Consulting" 
dalam laporan menyatakan NKRI sebagai negara terkorup di region Asia Pacifik. 

Tentang kemiskinan, misalnya menurut Menteri Sosial rezim, Salim Segaf Al 
Jufri, terdapat 5,4 juta anak terlantar. Mengingat rezim SBY terdiri dari kaum 
purtar balik maka angka ini terntunya diperkecil sekeli mungkin supaya tidak 
kelihatan tak seberapa dalam anggapan anggota masyarakat yang berjumlah 240 
juta. Bagi yang bisa melihat TV Aljazeera ada program 101 East terbaru, tentang 
anak jalanan di Jakarta, ibukota NKRI tempat bersemayam kaum bangsawan rezim 
Neo-Mojopahit.



http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=123684

[ Minggu, 21 Maret 2010 ] 

Kelompok Dulmatin Perdayai Anggota Pelatihan di Aceh 


JAKARTA - Di antara 41 orang yang ditangkap Densus 88 Mabes Polri terkait 
terorisme jaringan Dulmatin, tidak semua kombatan hebat. Bahkan, sebagian di 
antara mereka diketahui anak-anak muda yang belum pernah ''berjihad". Mereka 
bersemangat ikut pelatihan Dulmatin karena merasa akan diberangkatkan ke 
Palestina. 

Awalnya para pemuda itu ikut sebuah latihan semi militer yang diadakan sebuah 
ormas Islam di Aceh. Lalu, sebagian di antara mereka diberangkatkan ke Jakarta 
untuk menerima pelatihan lanjutan. Beberapa instruktur mereka ternyata adalah 
antek Dulmatin.

Karena ormas Islam itu batal memberangkatkan anggota ke Palestina, beberapa 
anak muda yang ikut pelatihan tersebut dibajak oleh anggota jaringan Dulmatin. 
Terutama oleh Sofyan Tsauri, desertir Polres Depok, yang mengajari mereka 
menggunakan senjata dan baris-berbaris ala polisi. Mereka lantas diajak 
bergabung dengan kelompok Dulmatin. ''Dari beberapa yang tertangkap memang ada 
keterangan seperti itu,'' ujar Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward 
Aritonang. 

Setelah bergabung dengan Dulmatin, mereka diajak untuk membentuk negara Islam 
Indonesia. ''Mereka ingin mendirikan daulat Islam Asia Tenggara,'' tambahnya. 

Dulmatin membutuhkan orang asli Aceh untuk menyiapkan kamp. Karena itu, Yudi 
Zulfahri yang memang tertarik dengan jihad sejak mahasiswa STPDN 2006 menjadi 
leader dalam proses mencari lokasi tersebut. Di sanalah peran Abu Rimba, mantan 
simpatisan GAM, menjadi penting. Kini Abu Rimba sudah menyerah dan masih 
diperiksa polisi. 

Menurut Edward, perburuan terhadap nama-nama yang masuk DPO terorisme masih 
intensif. ''Di lapangan masih berlangsung,'' kata jenderal dua bintang itu. 

Beberapa orang di antara 31 buron baru yang dibagikan ke polres-polres sudah 
tertangkap. Salah satu di antaranya, Amman Abdurrahman, mantan tahanan kasus 
bom Cimanggis pada 2004. Aman ditangkap Jumat lalu (19/03) di rumahnya, 
Sumedang, Jawa Barat. 

Amman adalah ustad yang mengajar Yudi dan beberapa orang lainnya dalam 
pengajian di Jakarta. Belum jelas peran dia dalam pelatihan militer di Aceh, 
termasuk apakah terkait jaringan Dulmatin. Selama ini Amman dikenal sebagai 
anggota penting dalam sebuah jamaah dakwah yang dipimpin tokoh dari Solo, Jawa 
Tengah. 

Secara terpisah, sumber Jawa Pos yang menangani penyidikan kasus tersebut 
menyebutkan, beberapa orang pemuda yang ditangkap polisi atau menyerah kepada 
petugas sama sekali belum pernah ke medan atau bertempur. 

Di antaranya, Gema Awal Ramadhan alias Ahmad alias Abu Heidir asal Medan. Dia 
lulusan STPDN pada 2005. Dia bekerja di Pemda Sumedang dan ditangkap pada 12 
Maret 2010. Lalu, Ibnu Sina asal Pandeglang, Banten. Dia ditangkap pada 12 
Maret 2010. Begitu juga Taufik asal Medan. Dia ditangkap pada 12 Maret 2010.

Lalu, Tengku Mukhtar alias Faruqy asal Aceh Utara. Dia adalah panglima Tandhim 
Al Qaidah wilayah Pasee dan mantan panglima Laskar FPI Aceh. Dia pernah 
bergabung dengan GAM Pasee dan ditangkap pada 16 Maret 2010 di Lhokseumawe.

Ada juga Agam Fitriadi alias Afit alias Syamil asal Aceh. Dia adalah lulusan 
STPDN tahun 2005. Agam ditangkap pada 17 Maret 2010 di Banda Aceh. ''Mereka 
mengaku teperdaya dan merasa dimanfaatkan Dulmatin dan kawan-kawannya,'' kata 
sumber itu. 

Namun, polisi tidak percaya begitu saja. ''Kami akan kroscek ulang berdasar 
bukti dan tidak hanya berdasar pengakuan,'' kata sumber itu. 

Secara terpisah, Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail menilai, 
teroris menggunakan idiom jihad untuk memikat orang-orang baru yang sedang 
punya semangat berjihad. ''Banyak orang terjebak dalam sudut pandang yang 
berbeda. Indonesia jelas tidak bisa disamakan dengan Palestina. Kalau di 
Palestina, mereka dijajah Israel. Saya setuju kalau pemuda Palestina melawan,'' 
kata Huda yang menangani rehabilitasi beberapa mantan napi kasus terorisme itu. 

Para pemuda harus disadarkan bahwa kondisi Indonesia yang berusaha disamakan 
dengan Palestina itu adalah bujuk rayu para tersangka teroris. ''Mereka ingin 
mengaburkan makna jihad dengan teroris yang sangat bertolak belakang,'' ujar 
alumnus S-2 keamanan internasional St Andrews University itu. 
(rdl/zul/jpnn/c4/iro) 








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke