Minoritas
Sabtu, 15 Mei 2010 | 03:42 WIB
Oleh Jaya Suprana

Gus Dur memang benar. Ternyata, hidup sebagai minoritas itu susah. Maka, 
perjuangan Gus Dur membela kaum minoritas di persada Nusantara tercinta ini 
sungguh luhur.

Di luar pilihan dan kehendak diri sendiri, saya dilahirkan di bumi Indonesia 
sebagai manusia yang secara antropologis tergolong etnis Cina. Akibat 
lahir-batin bertumbuh-kembang di keluarga yang bersikap dan berperilaku budaya 
Jawa, semula saya tidak sadar bahwa berdasarkan statistik populasi Indonesia 
saya tergolong minoritas.

Semula saya merasa sama saja seperti warga negara Indonesia lain sebab perilaku 
saya memang lebih berbudaya Indonesia ketimbang Cina. Saya tidak bisa makan 
pakai sumpit, tidak bisa berbahasa Cina nasional (Mandarin) ataupun dialek, 
tidak setuju komunisme yang dianut RRCina, lebih mengagumi Semar ketimbang 
Jilayhud, meyakini Anoman lebih sakti ketimbang Sun Go Kong, dan sukma lebih 
tergetar di saat mendengar "Indonesia Raya" ketimbang lagu kebangsaan RRCina 
yang namanya saja saya tidak tahu. Di saat mendengar alunan lagu "Indonesia 
Pusaka", saya tidak pernah mampu menahan tetesan air mata terharu. Repertoar 
konser keliling saya di delapan belas negara hanya musik Nusantara tanpa musik 
Barat apalagi Cina. Pendek kata, akibat yakin bahwa saya warga negara Indonesia 
sejati, maka saya gigih menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia!

Hanya saat mengurus keperluan administratif, saya baru tersadar bahwa meski de 
jure sudah resmi menjadi warga negara de facto saya diperlakukan seperti bukan 
warga negara Indonesia. Terutama saat huru-hara rasialis yang terjadi menjelang 
ataupun pascareformasi secara berkala, mendadak saya sadar bahwa ternyata saya 
keturunan Cina.

Meski tanpa salah apalagi dosa —kecuali kebetulan dilahirkan di Indonesia oleh 
ibunda keturunan Cina—saat huru-hara rasialis memang lebih baik saya 
menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh para huru-harawan yang mendadak 
bernafsu ingin membasmi habis mereka yang tampak seperti orang Cina.

Teman-teman suku Manado, Dayak, atau Sunda sebaiknya juga jangan menampakkan 
diri saat para huru-harawan sedang dalam kondisi amarah membara karena warna 
kulit dan bentuk mata mereka mirip Cina! Sebaliknya, ayah saya yang kebetulan 
tidak bermata sipit dan berwarna kulit sawo matang malah selalu aman dan 
selamat dari angkara murka para huru-harawan anti-Cina.

Nasib

Saya sebenarnya sudah terbiasa sehingga pasrah didiskriminasi sebagai 
minoritas. Namun, mendadak datanglah Gus Dur ke marcapada untuk membela 
kepentingan dan menjunjung tinggi hak asasi kaum minoritas yang juga manusia. 
Dengan gaya tanpa peduli tentangan apa, mana dan siapa pun, Gus Dur membasmi 
segenap larangan terhadap semua yang berbau Cina. Mulai dari aksara, bahasa 
Cina, sampai hari raya Imlek. Malah sebaliknya, praktik diskriminasi ras resmi 
dilarang melalui UU Anti-Diskriminasi Ras.

Berkat Gus Dur, tiba masa habis-gelap-datang-terang bagi kaum minoritas warga 
Indonesia keturunan Cina. Euforia kegembiraan dan kebahagiaan mewarnai 
kehidupan warga Indonesia keturunan Cina yang sebelumnya sudah terbiasa 
didiskriminasi!

Namun, nasib saya sebagai minoritas belum selesai. Ternyata, saya tergolong 
minoritas di dalam minoritas! Di masyarakat keturunan Cina di Indonesia, juga 
masih ada diskriminasi. Warga keturunan Cina di Indonesia masih terpecah-pecah 
menjadi aneka-ragam suku, antara lain Khek, Hok Jia, Konghu, Tiochiu, Hakka, 
dan Babah. Ada suku yang merasa diri lebih superior ketimbang suku lain, 
padahal sama- sama Cina. Secara psikokultural, warga keturunan Cina di 
Indonesia terbagi menjadi kelompok yang menganggap diri asli dan kelompok yang 
dianggap tidak-asli.

Yang merasa dirinya asli, mengutamakan Tanah Leluhur sebagai tempat asal-usul 
para leluhurnya, sementara yang dianggap tidak-asli menjunjung tinggi Tanah Air 
di mana dirinya dilahirkan. Yang merasa asli menganggap dirinya 
berharkat-martabat lebih tinggi ketimbang yang dikelompokkan tidak-asli.

Naas, ternyata kesukuan saya tergolong ke Babah yang dianggap tidak asli. 
Ketidak-aslian saya masih diperparah perilaku sikap- pribadi saya yang memang 
telanjur lebih berbudaya Jawa ketimbang Cina. Keminoritasan pribadi saya di 
dalam keminoritasan kelompok keturunan Cina di Indonesia makin diperminoritas 
falsafah hidup saya yang bukan Konfusius, melainkan falsafah Jawa: ojo dumeh.

Alhasil, perilaku bisnis saya terlalu berat dibebani nilai-nilai etika, moral, 
dan moral hingga saya tidak pernah tega memanfaatkan hubungan pribadi dengan 
teman-teman yang kebetulan memiliki kekuasaan politik atau militer untuk tujuan 
bisnis. Tidak mengherankan apabila di antara sesama keturunan Cina, saya 
dianggap makhluk bo cwan, bo lui, bo jai, yang artinya tidak menguntungkan, 
tidak mendatangkan duwit, sehingga akhirnya ya tidak berguna!

Lebih parah lagi, akibat lebih membela Tanah Air ketimbang Tanah Leluhur, saya 
kerap dituduh durhaka, pengkhianat, dan kirno (mungkir cino).

Saya belum sempat curhat tentang nasib keminoritasan di dalam minoritas yang 
diperminoritas itu kepada Gus Dur sebab sang mahaguru bangsa dan mahapembela 
minoritas tersebut telah terlalu dini meninggalkan dunia fana ini.

Jaya Suprana Budayawan Indonesia

Kirim email ke