01) SUNGGUH SANGAT MENGHARUKAN 
02) SUATU KENYATAAN PAHIT BAGI GOL.MINORITAS YG PERLLU MENDAPATKAN PERHATIAN
SERIUS DARI SEMUA PIHAK ( baik  langsung dari PIHAK 
        PEMERINTAH DAN LEMBAGANYA - MAUPUN LANGSUNG DARI pIHAK masyarakat
luas (Masyarakat MAYORITAS bangsa ini).
03)  MASYARAKAT dan PEMERINTAH INDONESIA HARUS - SANGAT MENYADARI : bahwa
TIDAK SETIAP GOLONGAN MAYAORITAS BANGSA INI adalah WARGA
        YANG BAIK DAN PATUH , DISIPLIN DAN PUNYA DIDIKASI SERTA MORAL YG
TINGGI,  BEKERJA KERAS SERTA PUNYA NILAI DAN HARGA YG LEBIH TINGGI
       dari sekedar Golongan MINORITAS-NYA  ....... seperti Juga TIDAK
SETIAP GOLONGAN MINORITAS ADALAH LEBIH RENDAH MUTUNYA  dan Lebih sedikit 
       didikasinya terhadap negara ini dan atau LEBIH  TIDAK SADAR dari
GOLONAGAN MAYAORITAS BANGSA INI .....
04) dan dalam banyak hal - JUSTRU SEBALIKNYA .......
05) OLEH KARENANYA PEMERINTAH INDONESIA  - tidak cukup dng Hanya MEMEBERIKAN
"PERLINDUNGAN HUKUM SECARA FORMAL"  SAJA -  KEPADA 
      GOLONGAN MINORITAS ( dng memeberikan ruang Hukum atas beberapa Pasal
atau Paragraf Hukum tentang "  KEWARGANEGARAAN INDONESIA "....),
      MELAINKAN HARUS MEMBERIKAN " PERLINDUNGAN HAK KEWARGENAGRAAN DAN HAK
HUKUM  SECARA PRAKTIS "  (misalnya  diantaranya : HAK 
      UNTUK MEMILIH DAN  SEKALIGUS HAK untuk  DIPILIH " , Hak berusara dan
Hak untuk turut Hidup serta berusaha dan bekerja dan berjuang dalam
menentukan
      Nasib bangsa dn Negaranya - dimana gologgan minoritas  yg berangkutan
dilahirkan dan Hidup serta bernafas Bersama dan bekerja bahu membahu dng
sesama
      Lapisan Masyarakat Bangsa Indoensia lainnya.

MOTTO : INTGRASI YG LUAS ( LSI  - large-scale integration) adalah PROCES
SOCIAL yg berkelanjutan - HARUS DIBENTUK DIPELIHARA DAN DISEMPURNAKAN 
                  BUKAN SAJA HANYA MELALUI PROCES HUKUM SE-MATA2 MELAINKAN
JUGA  MELALUI KEHIDUPAN PRAKTIS SE-HARI2 .... 
                  
marc.-
 -------Original Message-------

From: firdausjuven
Date: 15.5.2010 15:06:42
To: [email protected]
Subject: [inti-net] MINORITAS - oleh Jaya Suprana

  
Minoritas
Sabtu, 15 Mei 2010 | 03:42 WIB
Oleh Jaya Suprana

Gus Dur memang benar. Ternyata, hidup sebagai minoritas itu susah. Maka,
perjuangan Gus Dur membela kaum minoritas di persada Nusantara tercinta ini
sungguh luhur.

Di luar pilihan dan kehendak diri sendiri, saya dilahirkan di bumi Indonesia
sebagai manusia yang secara antropologis tergolong etnis Cina. Akibat
lahir-batin bertumbuh-kembang di keluarga yang bersikap dan berperilaku
budaya Jawa, semula saya tidak sadar bahwa berdasarkan statistik populasi
Indonesia saya tergolong minoritas.

Semula saya merasa sama saja seperti warga negara Indonesia lain sebab
perilaku saya memang lebih berbudaya Indonesia ketimbang Cina. Saya tidak
bisa makan pakai sumpit, tidak bisa berbahasa Cina nasional (Mandarin)
ataupun dialek, tidak setuju komunisme yang dianut RRCina, lebih mengagumi
Semar ketimbang Jilayhud, meyakini Anoman lebih sakti ketimbang Sun Go Kong,
dan sukma lebih tergetar di saat mendengar "Indonesia Raya" ketimbang lagu
kebangsaan RRCina yang namanya saja saya tidak tahu. Di saat mendengar
alunan lagu "Indonesia Pusaka", saya tidak pernah mampu menahan tetesan air
mata terharu. Repertoar konser keliling saya di delapan belas negara hanya
musik Nusantara tanpa musik Barat apalagi Cina. Pendek kata, akibat yakin
bahwa saya warga negara Indonesia sejati, maka saya gigih menjunjung tinggi
kebudayaan Indonesia!

Hanya saat mengurus keperluan administratif, saya baru tersadar bahwa meski
de jure sudah resmi menjadi warga negara de facto saya diperlakukan seperti
bukan warga negara Indonesia. Terutama saat huru-hara rasialis yang terjadi
menjelang ataupun pascareformasi secara berkala, mendadak saya sadar bahwa
ternyata saya keturunan Cina.

Meski tanpa salah apalagi dosa —kecuali kebetulan dilahirkan di Indonesia
oleh ibunda keturunan Cina—saat huru-hara rasialis memang lebih baik saya
menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh para huru-harawan yang mendadak
bernafsu ingin membasmi habis mereka yang tampak seperti orang Cina.

Teman-teman suku Manado, Dayak, atau Sunda sebaiknya juga jangan menampakkan
diri saat para huru-harawan sedang dalam kondisi amarah membara karena warna
kulit dan bentuk mata mereka mirip Cina! Sebaliknya, ayah saya yang
kebetulan tidak bermata sipit dan berwarna kulit sawo matang malah selalu
aman dan selamat dari angkara murka para huru-harawan anti-Cina.

Nasib

Saya sebenarnya sudah terbiasa sehingga pasrah didiskriminasi sebagai
minoritas. Namun, mendadak datanglah Gus Dur ke marcapada untuk membela
kepentingan dan menjunjung tinggi hak asasi kaum minoritas yang juga manusia
 Dengan gaya tanpa peduli tentangan apa, mana dan siapa pun, Gus Dur
membasmi segenap larangan terhadap semua yang berbau Cina. Mulai dari aksara
 bahasa Cina, sampai hari raya Imlek. Malah sebaliknya, praktik diskriminasi
ras resmi dilarang melalui UU Anti-Diskriminasi Ras.

Berkat Gus Dur, tiba masa habis-gelap-datang-terang bagi kaum minoritas
warga Indonesia keturunan Cina. Euforia kegembiraan dan kebahagiaan mewarnai
kehidupan warga Indonesia keturunan Cina yang sebelumnya sudah terbiasa
didiskriminasi!

Namun, nasib saya sebagai minoritas belum selesai. Ternyata, saya tergolong
minoritas di dalam minoritas! Di masyarakat keturunan Cina di Indonesia,
juga masih ada diskriminasi. Warga keturunan Cina di Indonesia masih
terpecah-pecah menjadi aneka-ragam suku, antara lain Khek, Hok Jia, Konghu,
Tiochiu, Hakka, dan Babah. Ada suku yang merasa diri lebih superior
ketimbang suku lain, padahal sama- sama Cina. Secara psikokultural, warga
keturunan Cina di Indonesia terbagi menjadi kelompok yang menganggap diri
asli dan kelompok yang dianggap tidak-asli.

Yang merasa dirinya asli, mengutamakan Tanah Leluhur sebagai tempat
asal-usul para leluhurnya, sementara yang dianggap tidak-asli menjunjung
tinggi Tanah Air di mana dirinya dilahirkan. Yang merasa asli menganggap
dirinya berharkat-martabat lebih tinggi ketimbang yang dikelompokkan
tidak-asli.

Naas, ternyata kesukuan saya tergolong ke Babah yang dianggap tidak asli.
Ketidak-aslian saya masih diperparah perilaku sikap- pribadi saya yang
memang telanjur lebih berbudaya Jawa ketimbang Cina. Keminoritasan pribadi
saya di dalam keminoritasan kelompok keturunan Cina di Indonesia makin
diperminoritas falsafah hidup saya yang bukan Konfusius, melainkan falsafah
Jawa: ojo dumeh.

Alhasil, perilaku bisnis saya terlalu berat dibebani nilai-nilai etika,
moral, dan moral hingga saya tidak pernah tega memanfaatkan hubungan pribadi
dengan teman-teman yang kebetulan memiliki kekuasaan politik atau militer
untuk tujuan bisnis. Tidak mengherankan apabila di antara sesama keturunan
Cina, saya dianggap makhluk bo cwan, bo lui, bo jai, yang artinya tidak
menguntungkan, tidak mendatangkan duwit, sehingga akhirnya ya tidak berguna!

Lebih parah lagi, akibat lebih membela Tanah Air ketimbang Tanah Leluhur,
saya kerap dituduh durhaka, pengkhianat, dan kirno (mungkir cino).

Saya belum sempat curhat tentang nasib keminoritasan di dalam minoritas yang
diperminoritas itu kepada Gus Dur sebab sang mahaguru bangsa dan mahapembela
minoritas tersebut telah terlalu dini meninggalkan dunia fana ini.

Jaya Suprana Budayawan Indonesia



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke