Sumber:
http://www.sinarharapan.co.id/berita/content_96/read/perginya-pemimpin-terakhir-gerwani/


Jumat 11. of Maret 2011 13:08
Perginya Pemimpin Terakhir Gerwani
OLEH: WAHYU DRAMASTUTI/ FRANSISCA RIA SUSANTI

JAKARTA – Telepon di meja berdering pukul 08.30  WIB pagi ini. Sebuah kabar
buruk terdengar di ujung telepon.  Satu-satunya orang di jajaran pemimpin
Gerakan Wanita Indo­ne­sia yang  tersisa, mengembuskan napas terakhirnya.

Salah satu penghuni Panti Waluyo Sejati Abadi di Jl Kramat V, Jakarta
mengabarkan berita duka tersebut. Umi Sar­djono, ketua umum Gerwani yang dipilih
dalam Kongres II Gerwani di Jakarta tahun 1954 akhirnya berpulang.

“Kami harus mengantar ke pusara, karena ini penghormatan yang terakhir. Dalam
sejarah hidupnya, beliau adalah orang pergerakan yang sejak revolusi 1945 sudah
pontang-panting memperjuangkan kemerdekaan RI. Beliau itu setia pada rakyat,”
kata Les­tari, mantan Ketua Gerwani Cabang Bojonegoro yang saat ini tinggal di
panti tersebut.
Di panti tersebut, Lestari tinggal bersama belasan pe­rempuan korban 1965. Panti
yang diresmikan Gus Dur dan Taufiq Kiemas itu menampung para korban G30S/1965,
yang rata-rata pernah dipenjara minimal 11 tahun.


Suasana duka menyelimuti panti tersebut saat mendengar kabar kepergian Umi tadi
pagi. Umi meninggal di rumahnya di Te­galan, Kampung Melayu sekitar pukul 02.00
dalam pera­wat­an ponakan dan pembantunya.

Sri Sukatno, mantan wartawan Harian Ekonomi Nasional, mengutarakan Umi selalu
memperjuangkan rakyat terutama kaum perempuan supaya para perempuan mampu
mandiri dan membentuk keluarga yang baik untuk suami dan anak-anak. “Bu Umi
waktu menjabat di DPR-GR mewakili Fraksi Golongan Karya (bukan Golkar bentukan
Soeharto-red), bukan Fraksi PKI,” kata Sri.

Gerwani selama ini diidentikkan dengan PKI. Padahal, Gerwani belum pernah
memutuskan untuk berada di bawah payung PKI. Dalam wawancara dengan SH sekitar
lima tahun lalu, Umi Sardjono menga­takan bahwa keputusan tentang ke mana
Gerwani harus “berpayung” baru akan dilakukan dalam Kongres Gerwani pada
Desember 1965. Namun, sebelum Kongres digelar, peristiwa G30S meletus dan para
aktivis Gerwani diburu sebagai pesakitan.
Saat duduk sebagai pemimpin Gerwani, Umi sa­ngat aktif menghadiri berbagai acara
Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GWDS) yang digelar di luar negeri.

“Setidaknya setahun sekali saya pergi ke luar, antara lain ke Berlin, Praha,
Moskwa, Al­jazair, dan ke Peking (Beijing-red). Saat ke Aljazair, saya pergi
dengan rombongan Bung Karno,” kisahnya saat itu.

Dalam keanggotaan GW­DS, menurut Umi, Gerwani merupakan organisasi yang cukup
maju. Ia menyebutnya progresif. Gerwani ikut serta dalam Sidang Dewan GWDS di
Beijing yang menghasilkan beberapa tuntutan, antara lain menghentikan perlombaan
senjata, melarang percobaan senjata atom, serta sebuah rekomendasi untuk
menyelenggarakan Konferensi Wanita Asia-Afrika guna memperluas perdamaian dan
menghapus perang.
Saat Indonesia bersiap menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di tahun 1955,
Umi membuat tulisan panjang di koran Harian Rakjat berjudul “Sumbangan Wanita
dalam Menyambut Konferensi Asia-Afrika.” Artikel yang terbit tanggal 13 April
1955 itu menyebut bahwa KAA tak hanya punya makna bagi perdamaian di kawasan
regional dan Afrika, tapi juga per­juangan perempuan.

Gerakan Perempuan
Konsep gerakan perempuan sudah ada di kepala Umi sejak ia bergabung di Barisan
Buruh Wanita yang ada di bawah Partai Buruh Indonesia (PBI). Umi berpikir bahwa
sebuah organisasi perempuan dengan para kader yang me­miliki kesadaran politik,
merupakan kebutuhan mendesak.

Gayung bersambut saat seorang kawan dari Laskar Perempuan mengajak Umi membangun
organisasi perempuan. Ia kemudian juga menggandeng Menteri Perburuhan di Era
Kabinet Amir Sjarifuddin, SK Trimurti.
Ide organisasi perempuan ini sempat ditentang oleh afiliasi tiga partai kiri
(PKI, Partai Sosialis Indonesia, dan PBI). Namun, Umi jalan terus. Pada 4 Juni
1950, Umi dan Trimurti berhasil menghimpun tujuh organisasi massa perempuan
dalam wadah bernama Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang berkantor di
Semarang.

Gerwis inilah yang kemudian dalam Kongres II di Ja­karta mengubah nama menjadi
Gerwani. Dalam Kongres inilah Umi ditetapkan sebagai ketua umum. Sementara itu
Harti Warto, Ny Mudigdo dan Salawati Daud sebagai wakil ketua. Sekjen dipegang
oleh Sulami, Kartinah Kurdi, dan Masyesiwi.
Semua tokoh tersebut kini sudah meninggal. Hampir semuanya pernah merasakan
dinginnya lantai hotel prodeo dan siksaan keji fisik dan seksual yang dilakukan
tentara Orde Baru. Selain Sulami, semua pemimpin tersebut dijebloskan ke penjara
tanpa pernah diadili. Umi dipaksa merasakan dinginnya penjara Bukit Duri selama
13 tahun de­ngan siksaan fisik dan psi­kis yang membuatnya bersikap sangat
tertutup sekeluarnya dari penjara.
Di masa kepemimpinan Umi, anggota Gerwani meningkat pesat, dari 500.000 menjadi
1,5 juta dan memiliki cabang hampir di semua daerah. Program-programnya sangat
populis dan tak hanya terbatas dari isu perempuan. Mulai dari penolakan praktik
poligami, pendirian TK Melati dan penitipan anak hingga tingkat kecamatan guna
meringankan beban perempuan-perempuan petani dan buruh yang mesti membantu
suaminya bekerja, sampai kampanye perdamaian dunia.

Aktivis perempuan Ita F Nadia mengatakan bahwa organisasi perempuan saat ini tak
bisa sama seperti Gerwani karena tantangan sejarahnya berbeda. Namun, ia
menegaskan bahwa organisasi perempuan saat ini harus belajar dari Gerwani,
terutama dalam substansi pembangunan ideologi dan pembangunan strategi gerakan
politik perempuan. “Sekarang ini, gerakan perempuan tidak terkotak-kotak seperti
dulu. Namun untuk isu dan program, gerakan perempuan sekarang tidak fokus dan
terarah. Isu-isunya terlalu eksklusif dan elitis,” ungkapnya.
Ita berharap para aktivis gerakan perempuan sekarang mewarisi elan semangat
Ger­wani agar fokus perjuangan mereka tak semata-mata ha­nya urusan persamaan
gender.

Saat dirawat di Rumah Sakit Thamrin enam tahun lalu karena terjatuh dari kamar
mandi, Umi mengatakan bahwa ia tak ingin mati sebelum melihat sebuah gerakan
perempuan dengan kesadaran populis seperti Gerwani lahir di Indonesia. Kini,
saat ia benar-benar sudah menutup mata, terwujudnya impian Umi sepenuhnya
bersandar pada kesadaran para aktivis perempuan di ge­ne­rasi yang lebih muda.
Se­moga impiannya tak sia-sia.



Kirim email ke