Politik
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Della Anna ......  seorang columnis .....  berbagi dalam bentuk tulisan
Supersemar, Coup d’ Etat atau Mandat?OPINI | 11 March 2011 | 14:49
________________________________


Ilustrasi/Admin (IST)
Column

Sampai detik ini tidak ada satupun yang bisa memperlihatkan naskah asli
“Supersemar”. Bahkan pelaku-pelaku sejarah yang berkaitan dengan supersemar
semua ”tutup mulut” dan membawanya sampai keliang kuburan. Sebuah legenda
sejarah bangsa Indonesia yang gelap sama gelapnya dengan penyudutan PKI terhadap
pembantaian ketujuh para Jendral TNI-AD pada kasus menyedihkan G.30S/PKI.

Yang anehnya sejak Orde Baru memimpin negeri ini, sejarah supersemar masuk
kurikulum pelajaran sejarah bangsa Indonesia dan harus dihafalkan isinya oleh
anak-anak sekolah, dari tingkat es de malahan sampai universitas. Tanpa pikir
panjang apakah mahasiswa-mahasiswa pada bagian fakultas sejarah kelak akan
mengoreknya habis-habisan, untuk mengetahui apakah supersemar memang pernah ada
dibumi pertiwi Indonesia.

Apa yang salah sehingga supersemar menimbulkan kerancuan tragedi sejarah bangsa
yang gelap?.

Kalau kita mau meneliti bagaimana heroiknya sejarah negara ini, maka pelakunya
adalah Presiden Soekarno. Beliaulah figur yang berapi-api membakar semangat
kebangsaan. Dari beliaulah kita mengenal propaganda “anti Belanda”. Gara-gara
Belanda menjajah negeri ini selama 3,5 abad. Dari beliaulah kita belajar
bagaimana mengerti kekayaan sumber daya alam ini dikeruk habis-habisan oleh
penjajah. Manusianya dimanipulasi moralnya, sehingga tak salah sampai sekarang
kita masih menyimpan jiwa penjajahan terhadap para pekerja bangsa sendiri. Masih
berlaku peras memeras dan tekan menekan. Masih menyimpan silsilah golongan
“menak jinggo dan babu/jongos”. Inilah kado penjajahan. Tulahnya dibawa dari
generasi ke generasi sampai sekarang, meskipun kini kita telah mengakui merdeka,
tetapi didalam kita masih terbelenggu sifat-sifat kolonialisme.

Mau memperbaiki, bagaimana?.

Secara tidak sengaja, maka propaganda memusuhi Belanda ini masuk kedalam era
perpolitikan Indonesia setelah masa kemerdekaan 1945 - 1949. Dan tanpa
masyarakat sadari, telah terjadi pergolakan politik dalam kekuatan militer kita
terutama TNI-AD dan partai PKI. Semuanya bermula dari TRIKORA/Tri Komando
Rakyat. Bahkan persaingan dan adu kekuatan makin nyata ketika soal ”pembebasan
Irian Barat”.

Pada tahun 1962 jumlah anggota PKI sekitar 2 (dua) juta orang ditambah dengan
jumlah kaum LEKRA yaitu kaum intelek PKI sebanyak 100.000 orang. Jumlah ini
merupakan jumlah yang sangat besar bagi paham Komunisme diluar negara Komunis.
Untuk menarik perhatian  Rusia sebagai bagian dari blok Sovyet yang pada waktu
itu sedang mengalami perang dingin dengan Amerika Serikat, maka Indonesia
mendapat pinjaman ringan peralatan-peralatan militer, dalam rangka masa
persiapan perang untuk merebut kembali Irian Barat. Disaat itulah kekuatan TNI
kita merupakan satu-satunya kekuatan militer dikawasan ASEAN yang memiliki
persenjataan mutakhir, seperti;

-   Squadron Elyusin,

-   Kapal selam,

-   Kapal cepat torpedo,

-   Peluru kendali darat keudara,

-   Radar canggih,

-   MIG-15, 17 dan 21,

-   Tank ampfibi,

-   Kapal sapu ranjau,

-   Pelatihan-pelatihan personil ketiga angkatan di blok Sovyet. Sejumlah
perwira tinggi TNI-AD yang dipimpin oleh Jendral A.H.Nasution malah mendapat
undangan ke Rusia untuk melihat kekuatan militer Pakta Warsawa. Dan hasil
kunjungan ini adalah kekuatan Infantri TNI-AD diperkuat dengan artleri dan
kaveleri setaraf dunia. Pasukan TNI-AD diperlengkapi dengan senjata-senjata yang
masih langka di kawasan ASEAN, seperti Kalasnikov (AK47), Bren AK, Tokaref serta
peluncur granat.

Kegiatan yang disetujui oleh pemerintah Soekarno ini, akhirnya menimbulkan
perbedaan pendapat pada beberapa pejabat pemerintah. Oleh karena situasi
perekonomian Indonesia saat itu dalam keadaan inflasi yang sangat tajam.
Disinilah akhirnya pertentangan ini timbul. Rupa-rupanya masa persiapan perang
untuk merebut Irian Barat kembali tidak disesuaikan dengan kondisi sosial,
ekonomi, dan politik kala itu. Dan bisa kita tebak terjadilah dualisme dalam
kubu pemerintahan, yaitu kubu Soekarno yang mendapat dukungan dari Rusia dan
kubu beberapa petinggi militer TNI-AD  dari Amerika Serikat.

Akhirnya Amerika berhasil memaksa Belanda angkat kaki dari Irian Barat pada
tanggal 15 agustus 1962, yang kemudian penyerahannya secara resmi kepada ibu
pertiwi terjadi pada 1 mei 1963. Yang pada akhirnya kita baru mengetahui dan
sadar bahwa Amerika hanya untuk kepentingannya sendiri menguasai biji besi,
batubara, dan emas dari Irian Barat. Sampai sekarang kerja sama yang merugikan
bangsa Indonesia ini masih bisa kita lihat dan ada yaitu PT Freeport.

Dengan kembalinya Irian Barat kedalam wilayah RI ternyata membawa kendala, yaitu
makin serunya perselisihan antara militer ( terutama TNI-AD)  dengan PKI.
Presiden Soekarno berusaha menengahinya dengan menciptakan Neo Imperialsme, Neo
Kolonialisme dan Neo Kapitalisme dalam bentuk negara, yaitu ”Boneka
Malaya”.Padahal Malaysia dan Singapore baru saja diberikan kemerdekaannya oleh
Inggeris tahun 1957. Karena kondisi kemerdekaan inilah banyak Pemuda Perwakilan
Malaya ingin bergabung dengan RI, demikian pula rakyat Kalimantan Utara. Akan
tetapi sayang, Soekarno tidak dapat lagi mengendalikan perseteruan antara TNI-AD
dengan PKI yang mengakibatkan tercetusnya pembantaian ke-7 para Jendral TNI-AD
yang kita kenal dengan tragedi G.30S/PKI.

Sampai saat ini belum jelas terbuka misteri siapakah yang membunuh ke-7 para
Jendral tersebut, PKI kah, Boneka Malaya kah, atau Soeharto  TNI-AD dengan
dukungan CIA. Pemeriksaan forensik pada otopsi mayat para Jendral tidak sesuai
dengan laporan informasi yang diberikan oleh Mayjend Soeharto sebagai
Pangkopkamtib tentang kekejian yang dilakukan PKI. Lalu siapakah dalang dibalik
tragedi berdarah ini?.

Yang jelas ketika rapat kabinet Dwikora di Istana Negara yang dipimpin oleh
Presiden Soekarno selaku Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris
MPRS, telah memberikan mandat kepada Mayjend Soeharto untuk melakukan tindakan
pengamanan yang perlu, dimana diduga PKI telah menyelusup dalam kabinet Dwikora.

Surat perintah Presiden Soekarno ini dikenal dengan nama SUPERSEMAR. Surat
perintah yang sampai saat ini tidak diketahui bentuk naskah aslinya, dan siapa
yang membuatnya. Terdapat bermacam-macam kontraversi tentang Supersemar ini;

a.  Supersemar sebagai mandat dari Presiden Soekarno kepada Mayjend Soeharto
selaku Pangkopkamtib untuk mengamankan situasi sementara, setelah situasi aman
maka mandat harus dikembalikan kepada Presiden Soekarno.

b.  Supersemar sebagai surat ”Pengalihan Kekuasaan”.

Yang manakah naskah asli itu merujuk?.

Sejarah Indonesia telah menyimpan 2 (dua) tragedi sejarah yang kelam, yaitu
G.30S/PKI dan Supersemar. Keduanya menyimpan misteri. Tidak jelas pelakunya dan
dikenal sebagai ”propaganda mempersatukan ketahanan nasional”. Menurut seorang
akhli sejarahwan asing Benedict Anderson, yang mengutip pendapat salah satu
tentara yang bertugas di Istana Bogor (Letnan Satu Sukardjo Wilardjito) bahwa
naskah Supersemar itu diketik diatas kertas dengan kop surat Markas besar TNI-AD
dan bukan kop surat Kepresidenan.

Siapakah yang memalsukan Supersemar?

Yang terang supersemar adalah alat propaganda mempersatukan ketahanan nasional.

Literatur dari berbagai sumber sejarah Indonesia.
Sumber:
http://politik.kompasiana.com/2011/03/11/supersemar-coup-d-etat-atau-mandat/

Kirim email ke