Minggu, 13/03/2011 08:04 WIB
SBY Sulit Menghukum Golkar dan PKS  
Elvan Dany Sutrisno - detikNews

foto: detikcom 
Jakarta - Desakan partai koalisi agar Presiden SBY mengeluarkan Golkar dan PKS 
dari koalisi sangat deras. Namun Presiden SBY memilih mempertahankan Golkar dan 
kemungkinan juga PKS di koalisi. SBY dinilai dalam posisi sulit, antara 
ketegasan dan kepentingan.

"Hubungan SBY-Ical sudah terlalu dalam untuk dipisahkan. Ical sudah mendukung 
dan membantu secara moril dan materiil kepada SBY sejak pilpres 2004. Diulangi 
lagi pada 2009, padahal Golkar jelas memiliki calonnya sendiri. Ini yang saya 
sebut sangat dalam," ujar Wasekjen PPP, M Romahurmuzy, kepada detikcom, Minggu 
(13/3/2011).

Karena itulah, menurut Romi-demikian disapa, SBY tak akan berani memberi sanksi 
kepada Golkar. Golkar juga masih dipandang SBY memiliki kekuatan besar di 
parlemen.

"Sehingga terhadap Golkar, saya yakin 100 persen tidak akan ada tindakan 
apa-apa. Rotasi mungkin, tapi pengurangan kursi adalah tidak mungkin," tutur 
Romi.

Demikian juga terhadap PKS, SBY sebagai ketua koalisi dalam posisi segan 
memberikan hukuman. Bagaimana tidak, dua pilpres PKS berada di belakang SBY.

"Terhadap PKS, dukungannya malah secara institusional terhadap SBY kurang lebih 
sama pada 2 pilpres. Namun SBY memiliki perspektif yang berbeda karena ini soal 
besar-kecilnya kursi di parlemen, dan soal pola komunikasi yang warnanya 
berbeda antara Golkar dan PKS," terang Romi.

Belum lagi, Romi menambahkan, kedekatan SBY dengan Ketua Majelis Syuro PKS 
Hilmi Aminuddin yang tak bisa diremehkan. "Fungsionaris PD saya amati memang 
sudah cukup frustrasi mengelola hubungan dengan PKS di setgab karena dinilai 
tidak serius. Namun PKS adalah soal Hilmi dan SBY. Menafikan PKS dari koalisi, 
ada potensi massa PKS yang citra gerakannya 'menakutkan' SBY, sehingga SBY 
betul-betul berhitung," jelasnya.

"Pidato Presiden SBY kemarin itu pemanasan pra reshuffle kabinet. Tapi 
persoalannya akan berhenti di pemanasan atau dilanjut.  Tidak ada yang mampu 
menerka bagaimana akhir babak drama evaluasi koalisi ini, kecuali SBY sendiri," 
tandasnya.

(van/van)


Kirim email ke