Refleksi : Apa kata Bu Mega tentang kemesraan ini?

http://us.detiknews.com/read/2011/03/14/121427/1591029/159/tabir-kemesraan-sby-tk-tersingkap?9911032


Senin, 14/03/2011 12:14 WIB

Menguak Hubungan SBY-TK (1)

Tabir Kemesraan SBY-TK Tersingkap  
Didik Supriyanto - detikNews

 
 





Jakarta - Wikileaks menggemparkan dunia setelah merilis surat-surat kawat 
rahasia Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di banyak negara. Namun sejauh 
menyangkut Indonesia, surat-surat kawat itu baru mengungkap isu lama, seperti 
keterlibatan AS dalam peralihan kekuasaan Soekarno-Soeharto, atau pelanggaran 
HAM di Papua. Nyaris tidak ada sesuatu yang baru yang dibawa Wikileaks.

Baru Jumat (11/03/2011) lalu, Wikileaks bikin gempar bumi Indonesia, setelah 
kawat-kawat rahasia Kedutaan Besar AS di Jakarta dipublikasikan oleh The Age, 
salah satu koran besar di Australia. Koran itu merilis berita utama dengan 
judul "Yudhoyono Abused power" dan artikel mendalam berjudul "Bambang Thank You 
Ma'am".

The Age menuding Presiden SBY menyalahgunakan kekuasaan: mengintervensi 
pengadilan, memerintah kejaksaan mengusut lawan politik, menggunakan intelijen 
mematai-matai politisi, menggandengan pengusaha besar mengumpulkan dana, dll. 
The Age juga mengungkap peran Ani Yudhoyono yang sangat besar dalam pengambilan 
keputusan dan pengumpulan kekayaan keluarga.

Dari sekian banyak bentuk penyalahgunaan kekuasaan, The Age mengungkap 
perlindungan Presiden SBY terhadap Taufiq Kiemas, Ketua Dewan Pertimbangan 
Pusat (Deperpu) PDIP yang tidak lain adalah suami Ketua Umum PDIP Megawati 
Soekarnoputri. Taufiq, yang biasa dipanggil TK oleh kalangan internal PDIP, 
adalah orang kuat kedua PDIP. Kini dia menjabat sebagai Ketua MPR.

Mengutip keterangan TB Silalahi, salah satu anggota Dewan Penasihat Presiden, 
Presiden SBY telah mengintervensi Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus 
(Jampidsus) Hendarman Supandji agar tidak melanjutkan penyelidikan terhadap TK 
yang terindikasi tersangkut kasus 'korupsi legendaris selama istrinya 
menjabat'. TB Silalahi memberitahu Kedubes AS bahwa Presiden "secara personal 
telah menginstruksikan Hendarman untuk tidak mengejar kasus TK."

Sejauh ini, TB Silalahi telah membantah bahwa dirinya telah berbagi informasi 
soal kasus TK yang ditangani Kejaksaan Agung. "Berita itu sesat," katanya. 
Presiden SBY belum memberikan pernyataan. Namun sejumlah pejabat Istana, mulai 
dari juru bicara,
staf khusus, Edhie Baskoro (Ibas), anak SBY, sampai menteri sekretaris negara 
dan meteri perekonomian, menolak kebenaran berita tersebut.

Meskipun demikian, informasi Wikileaks yang dibeberkan oleh The Age itu, seakan 
memecahkan kebingungan internal PDIP, tentang sikap TK terhadap Presiden, yang 
selalu berbeda dari Mega. Di satu pihak, Mega bersikeras bahwa PDIP mengambil 
jalan oposisi, di pihak lain TK selalu mengarahkan elit PDIP agar berkoalisi.

Dalam usaha untuk merombak kabinet yang baru lalu misalnya, tampak TK berusaha 
agar PDIP menerima tawaran SBY untuk mengambil dua kursi kabinet. Puan 
Maharani, yang tidak lain adalah anak kandung Mega dan TK, akan dapat jatah 
menteri sosial. Sedang Effendi Simbolon, salah satu pengusaha kepercayaan TK di 
PDIP, akan mendapat jabatan menteri BUMN.

Namun tawaran itu ternyata tidak mengubah pendirian Mega. Sang Suami dan Sang 
Anak gagal mengubah pandangan Sang Ibu, sehingga SBY akhirnya gagal mengubah 
kabinet. Padahal jika PDIP masuk koalisi, konfigurasi politik nasional berubah, 
karena Partai Golkar dan PKS bisa dipastikan akan ditendang dari koalisi oleh 
Presiden SBY.

Selama ini, orang menilai, kengototan TK dalam menyatukan PDIP dengan 
pemerintahan SBY-Boediono semata-mata pertimbangan pragmatisme: ikut berkuasa 
berarti akan lebih mudah mengakses dana untuk membiayai aktivitas politik 
partai. Namun surat kawat yang dirilis Wikileaks, bisa mengubah penilaian itu: 
TK memang dalam tekanan SBY karena terlibat  kasus 'korupsi legendaris selama 
istrinya menjabat'. 

Namun karena surat kawat Kedutaan Besar Amerika tidak gampang diverifikasi, 
maka informasi itu masih menggantung: benarkah kengototan TK membawa PDIP 
berkoalisi dengan pemerintahan SBY lebih merupakan bentuk balas budi atas 
perlindungan SBY atas kasus korupsi yang menjeratnya?
(diks/iy)

++++
http://us.detiknews.com/read/2011/03/14/132422/1591085/159/anggap-wikileaks-sampah-sby-tk-susah-membantah


Senin, 14/03/2011 13:25 WIB

Menguak Hubungan SBY-TK (2)
Anggap Wikileaks Sampah, SBY-TK Susah Membantah   
M. Rizal,Deden Gunawan - detikNews

 


Jakarta - Kemesraan Taufiq Kiemas (TK) dengan SBY sudah lama menjadi gunjingan 
di kalangan kader PDIP. Mereka curiga kemesraan tersebut ada apa-apanya. Kini 
Wikileas memberi bocoran teka-teki yang membingungkan kader Moncong Putih itu, 
orang kedua terkuat di PDIP itu berutang budi pada Sang Presiden. 

"Perubahan sikap TK  yang berupaya menggiring PDIP untuk berkoalisi dengan PD 
memang sangat mencurigakan sejumlah kader PDIP. Sebab dalam kongres PDIP 2009 
pilihan oposisi sudah harga mati," jelas aktivis PDIP Budi Mulyawan, yang juga 
anggota Badan Pemenangan Pemilu DPP PDIP.

Dalam dokumen Wikileaks yang dimuat media Australia, The Age dan Sydney Morning 
Herald, disebutkan, TK bisa lolos dari jeratan pidana setelah penasihat senior 
Presiden SBY, TB Silalahi menyarankan Hendarman Supandji (saat itu Jampidsus) 
menghentikan penyelidikan. Padahal, Hendarman disebut sudah memiliki cukup 
bukti untuk menahan pria asal Palembang tersebut.

Kasus dugaan Korupsi yang dilakukan TK, versi Wikileaks, bisa dibilang sangat 
serius. Di situ disebutkan TK diduga terlibat korupsi dalam beberapa proyek 
infrastruktur besar. Di antaranya adalah proyek Jakarta Outer Ring Road, 
pengadaan rel kereta api ganda Merak-Banyuwangi, proyek Jalan Raya 
Trans-Kalimantan, dan proyek jalan raya trans-Papua.

Nah, dari proyek-proyek tersebut, suami Mega itu diyakini mendapat keuntungan 
dari proyek Jakarta Outer Ring Road (JORR)senilai US$ 2,3 miliar. Sementara itu 
jumlah yang lebih besar juga diperoleh dari proyek pengadaan rel kereta api 
ganda Merak-Banyuwangi senilai US$ 2,4 miliar.

Sedangkan dalam proyek Jalan Raya Trans-Kalimantan, suami Mega itu juga diduga 
mendapat keuntungan dari nominal proyek yang mencapai US$ 2,3 miliar. Belum 
lagi dengan proyek serupa, yaitu jalan raya trans-Papua dengan nilai proyek 
sebesar US$ 1,7 miliar.

TK yang diminta tanggapan soal artikel The Age tersebut itu tidak menyangkal 
atau membenarkan. Ia meminta wartawan agar menanyakannya pada Sekjen PDIP 
Tjahjo Kumolo atau anggota tim hukum PDIP Trimedya Pandjaitan. Bagi TK berita 
tersebut lucu. "Lucu ya," ujar TK.

Namun mantan politisi PDIP Permadi meyakini bocoran Wikileaks tersebut benar. 
Yang diungkap The Age dari bocoran kawat rahasia Kedubes AS tersebut sudah lama 
menjadi pertanyaan masyarakat. Permadi makin yakin SBY memang mengintervensi 
kasus korupsi TK karena sikap yang ditunjukkan TK selama ini seperti memberikan 
pembenaran. 

"Terkait informasi adanya intervensi SBY dalam kasus Taufiq besar kemungkinan 
benar. Sebab fakta membuktikan Taufiq selama ini terus berupaya merapat ke SBY. 
Tapi selama Mega masih ada dendam dengan SBY upaya Taufiq itu akan kandas," 
kata Permadi yang kini menjadi anggota Dewan Pembina Gerindra. 

Permadi membeberkan Taufiq membutuhkan banyak biaya untuk mendanai aktivitas 
PDIP. Sementara di PDIP, hanya segelintir orang saja yang bisa diandalkan untuk 
dimintai uang. "Untuk PDIP memang Taufiq yang banyak mengelola soal anggaran 
untuk partai. Sebelumnya ada Murdaya Po, tapi orang itu ternyata pelit sekali. 
Jadi praktis partai hanya mengandalkan Taufiq untuk pendanaan partai," ungkap 
Permadi. 

Sebenarnya, cerita dugaan korupsi yang dilakukan TK bukan hal yang baru. Sebab 
sejak 2000 beberapa media juga sempat mengulas soal dugaan tersebut. Bahkan 
George J. Aditjondro dalam bukunya yang berjudul "Korupsi Kepresidenan: 
Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga : Istana, Tangsi, Dan Partai Penguasa", dugaan 
itu juga sempat ditulis.

Dalam buku George yang diterbitkan 2006, tersebut ditulis, selain proyek-proyek 
infrastruktur, TK juga diduga berperan dalam pengeluaran Surat Perintah 
Penghentian Penyidikan (SP3) oleh Kejaksaan Agung untuk kasus Texmaco yang 
diduga merugikan negara Rp 9,8 triliun. Intervensi tersebut, tulis buku itu, 
dilakukan TK saat Mega menjabat sebagai wakil presiden. Disinyalir, diterbitkan 
SP3 itu berkaitan dengan posisi TK yang duduk sebagai komisaris PT Texmaco saat 
itu.

Sementara dalam masalah pembangunan sejumlah infrastruktur, memang yang sempat 
menjadi sorotan adalah proyek JORR. Kasus ini menjadi sorotan lantaran paling 
sensitif secara politik. Soalnya, proyek itu sangat tergantung pada Gubernur 
Sutiyoso, yang saat itu sedang terus diperiksa perannya dalam peristiwa 
berdarah penyerangan kantor PDI Megawati pada 27 Juli 1996. Sutiyoso dianggap 
ikut bertanggungjawab dalam kasus 27 Juli 1996 lantaran posisinya sebagai 
Pangdam Jaya waktu itu.

"Mungkin beberapa buku yang saya tulis, terutama soal korupsi di sekeliling 
istana senafas dengan yang diungkapkan wikileaks. Hanya mungkin detail-detail 
kasusnya yang berbeda," ucap George Aditjondro saat dikonfirmasi detikcom.

Informasi soal dugaan kasus korupsi Yang melibatkan TK seperti yang dibocorkan 
wikileaks, mungkin bukanlah hal baru. Tapi yang jadi menarik ketika dalam 
bocoran kawat diplomatik itu disebutkan ada penyelesaian bawah tangan yang 
dilakukan orang dekat SBY dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan TK, yang 
sempat perang dingin dengan SBY.

"Saya yakin. materi laporan dalam kawat-kawat diplomat AS yang dikirim dari 
Jakarta bersumber dari orang-orang dekat presiden. Sebab, materi laporan yang 
dipublikasikan koran Australia itu terfokus pada presiden dan keluarganya. 
Hanya orang dekat dan kepercayaan presiden yang tahu tentang itu,"  ujar 
Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III DPR.

Namun tudingan itu dibantah TB Silalahi, mantan Menteri Negara Pendayagunaan 
Aparatur Negara (Menegpan) di era orde baru, yang kini menjabat penasihat 
presiden SBY. Menurutnya, berita-berita itu bukan berasal dari lingkungan 
istana. "Duta Besar AS untuk Indonesia sudah menyampaikan bahwa informasi yang 
disampaikan wikileaks itu adalah berita-berita yang diperoleh, barangkali di 
pinggir jalan. Saya sendiri menganggapnya sebagai berita sampah," terang 
Silalahi kepada detikcom.

Silalahi menambahkan, dirinya tidak sekadar membantah melainkan berdasarkan 
data-data. Misalnnya, kata Silalahi, dalam tulisan di The Sidney Morning Herald 
dan The Age disebutkan intervensi itu dilakukan bulan Desember 2004. Padahal, 
lanjutnya, Hendarman pada tahun 2004 belum menjabat sebagai Ketua Tipikor atau 
Jampidsus. Sebab Jampidsus saat itu dijabat Marwan Effendy. Hendarman baru 
dilantik sebagai Jampidsus pada bulan 21 April 2005. Dan menjabat Ketua Tipikor 
pada 2 Mei 2005.

"Dari situ saja tidak benar data tentang Hendraman. Marwan Effendi dua hari 
lalu menjelaskan sebagai Jampidsus tidak pernah ada terdaftar perkaranya Taufiq 
Kiemas, perkara apapun tidak ada," bebernya.

Fakta lainnya, Desember 2004 itu SBY baru dua bulan menjabat sebagai Presiden, 
sesudah Megawati. Silalahi mengatakan, tidak mungkin perkara korupsi yang 
katanya besar bisa langsung siap ditangkap pelakunya dalam waktu dua bulan.

Bantahan senada juga diutarakan Jaksa Agung Basrief Arief. "Saya sudah cek ke 
Pak Hendarman tentang persoalan itu. Dia (Hendarman) bilang tidak ada itu Pak 
Basrief," ujar Basrief.
(ddg/iy)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke