http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-437-mulai-gilchrist-sampai-wikileaks.html
Mulai Gilchrist Sampai WikiLeaks
Kamis, 17 Maret 2011 - 01:09:02 WIB
Kebocoran dokumen rahasia selalu membuat gusar penguasa. Baik dulu maupun
sekarang.
ETHAN Hunt menerima pesan yang dibungkus dalam sebuah mortir tanpa hulu
ledak yang ditembakkan beberapa meter di depannya. Sebuah kacamata hitam yang
tersimpan dalam selongsong mortir dipakainya untuk membaca instruksi misi
rahasia yang harus dilakukan Hunt. Di akhir pesan, Hunt diminta untuk menjaga
kerahasiaan misinya. Kalau bocor, Kementerian Luar Negeri akan menyangkal semua
aksinya.
Cuplikan adegan itu diambil dari film Mission Impossible I (1996) di mana
aktor Tom Cruise memerankan jadi Ethan Hunt, agen rahasia andalan dinas
intelijen Amerika Serikat (AS). Sebagaimana judul filmnya, misi Ethan Hunt
selalu berakhir sukses dan tak pernah mendapatkan penyangkalan dari Kementerian
Luar Negeri AS.
Hal yang dipertontonkan dalam film itu sebetulnya tak jauh berbeda dengan
apa yang terjadi belakangan ini, terutama soal penyangkalan informasi yang
termuat di dalam data intelijen yang dibocorkan oleh WikiLeaks. Seperti
diberitakan oleh koran The Age dan Sydney Morning Herald, WikiLeaks menguak
penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Para
petinggi Indonesia ramai-ramai membantahnya. Bahkan Presiden SBY pun pada 14
Maret 2011 secara resmi meminta agar media dan masyarakat menghentikan semua
polemik tentang WikiLeaks. “Tidak perlu kita terus menerus ikut dalam kegaduhan
ini. Banyak yang lebih penting soalnya,” kata SBY seperti dikutip dari laman
berita Vivanews.com.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS sendiri tak pernah secara resmi
menyampaikan penyangkalan atas informasi yang termuat di dalam data yang
dibocorkan oleh WikiLeaks kepada dua koran besar di Australia itu. Alih-alih
menyangkal isi dokumen, Duta Besar AS Scot Marciel malah memberikan keterangan
bagaimana mereka mendapatkan informasi. “Tak hanya pejabat pemerintah setempat,
tapi juga cendekiawan, jurnalis, politisi, masyarakat awam dan lain-lain. Kami
berbicara dan bertukar pikiran atas segala hal yang menjadi perhatian
masing-masing pihak,” kata Marciel, beberapa waktu lalu seperti dikutip dari
Vivanews.com.
Kontroversi kebocoran informasi intelijen ini bukanlah yang pertama dalam
sejarah di Indonesia. Pada 16 September 1963 sejumlah massa yang mendemo
dukungan Inggris terhadap Federasi Malaysia (Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak)
menyerbu Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Mereka mengobrak-abrik dan menjarah
kedutaan Inggris yang terletak tak jauh dari Bundaran Hotel Indonesia itu. Pada
saat itulah ditemukan dokumen yang memuat informasi strategis hasil kajian
Kedubes Inggris di Jakarta tentang friksi internal Angkatan Darat.
“Tetapi, paling mengejutkan, Kartono Kadri dan Rubijono menemukan
analisis pribadi dari Dubes Sir Andrew Gilchrist, “...posisi Presiden Soekarno
sekarang bagaikan tikus terpojok,” tulis Julius Pour dalam bukunya, Gerakan 30
September: Pelaku, Pahlawan dan Petualang.
Kartono Kadri adalah petinggi di Badan Pusat Intelijen (BPI) sedangkan
Rubijono yang disebut oleh Julius Pour adalah Rubijono Kertapati, dokter
pribadi Presiden Sukarno. Temuan itu mereka laporkan kepada Perdana Menteri I
Djuanda Kartawidjaja, namun dia tak melaporkannya pada Presiden Sukarno karena
khawatir presiden marah.
Pada Mei 1965 sejumlah anggota Pemuda Rakyat yang menyerbu vila milik
Bill Palmer, distributor film Amerika di Puncak, Bogor, Jawa Barat yang diduga
jadi mata-mata CIA. Saat itu para pemuda juga menemukan dokumen yang memuat
telegram rahasia Sir Andrew Gilchrist kepada atasannya di Kementerian Luar
Negeri Inggris tentang kemungkinan kerjasama antara Inggris dengan Angkatan
Darat Indonesia (Our local Army friends) serta rencana gabungan Inggris-AS
untuk mengintervensi Indonesia. Dokumen itu kemudian dikenal sebagai “Dokumen
Gilchrist”.
Dokumen terakhir menyingkapkan keterlibatan segelintir perwira Angkatan
Darat yang dianggap tak loyal kepada Presiden Sukarno dalam soal konfrontasi
dengan Malaysia. Dokumen yang sempat diragukan keasliannya itu dilaporkan oleh
Kepala BPI Soebandrio kepada Presiden Sukarno. Presiden Sukarno panik dan
memanggil seluruh panglima angkatan. Dalam pertemuan itu seluruh pimpinan
angkatan menyangkal tuduhan yang disebutkan dalam dokumen Gilchrist.
Seiring waktu, isu itu menggelinding bak bola liar dan memunculkan dugaan
adanya Dewan Jenderal yang berencana mengudeta Presiden Sukarno. Situasi
politik pun semakin memanas dan kemudian berujung pada peristiwa G.30.S/1965.
Sukarno disebut-sebut akan dikudeta pun terjungkal dari kursi kepresidenannya.
Secara perlahan Soeharto mengambilalih kekuasaan sampai akhirnya diangkat
sebagai presiden definitif pada 27 Maret 1968.
Pada saat Dokumen Gilchrist itu ditemukan dan menjadi bahan pemberitaan
di media massa, tak sedikit orang yang meragukan keaslian informasi di
dalamnya. Sejumlah keraguan muncul karena susunan tata bahasa Inggris yang
digunakan dalam dokumen itu tak mencerminkan gaya bahasa seorang diplomat
Inggris. Bahkan Soebandrio sendiri sempat meragukan validitas dokumen tersebut
dan meminta Kepala Staff BPI Soetarto untuk membandingkan jenis kertas dokumen
dengan kertas yang biasa digunakan oleh Kedubes Inggris.
Tapi sejarah punya cerita lain. Dokumen Gilchrist yang menyebutkan adanya
kerjasama beberapa perwira Angkatan Darat dengan pihak Inggris dalam urusan
konfrontasi Malaysia itu kelak terbukti dengan adanya fakta bahwa perwira
tinggi di Angkatan Darat tak berminat menjalankan instruksi Sukarno secara
serius. Jamie Mackie dalam bukunya, Konfrontasi: The Indonesia-Malaysia Dispute
1963-1966 menulis tentang kekhawatiran Brigjend. Supardjo, komandan pasukan di
Kalimantan Barat, yang merasa ada upaya sabotase dalam operasi itu untuk tak
meningkatkan eskalasi konflik dengan pihak Malaysia.
Dugaan adanya upaya kudeta dari segelintir perwira Angkatan Darat
terhadap Sukarno, bila merujuk pada apa yang terjadi, pun terbukti di kemudian
hari. Struktur kekuasaan Orde Baru di bawah Soeharto, sebagaimana digambarkan
oleh David Jenkins dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer
Indonesia 1975-1983, hampir sepenuhnya didominasi oleh para jenderal. Usaha
untuk mengambilalih kekuasaan lewat penyingkiran kekuatan politik pendukung
Sukarno, seperti PKI, dengan sendirinya “terkesan” membenarkan apa yang pernah
disebut-sebut dalam dokumen itu.
Dugaan keterlibatan asing dalam penggulingan kekuasaan Sukarno semakin
menguat ketika pada April 2001 pemerintah AS memublikasi dokumen Departemen
Luar Negeri AS yang selama 30 tahun lebih dirahasiakan. Dokumen itu menguak
peran AS pada periode transisi kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto. Uniknya
dokumen yang sempat terpublikasi lewat situs resmi National Security Archieve
itu tiba-tiba ditarik kembali atas campur tangan CIA begitu Megawati
Sukarnoputri dilantik menjadi Presiden Indonesia akhir Juli 2001. Kabarnya
Pemerintah AS tak enak pada Megawati dan khawatir relasi Indonesia-Amerika akan
terganggu.
Namun dokumen bertajuk Foreign Relations of the United States (FRUS)
1964-1968: Indonesia, Malaysia, Singapore, Philippines, Volume XXVI itu
terlanjur tersebar luas. Bahkan penerbit Hasta Mitra menerjemahkannya dan
menerbitkan bundel dokumen itu dengan judul yang provokatif: Dokumen CIA:
Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965 dengan kata pengantar
dari Joesoef Isak, wartawan yang pernah ditahan Pemerintah Soeharto selama
sepuluh tahun tanpa pengadilan. Tidak ada penyangkalan dari pihak pemerintah
Amerika atas informasi yang terdapat di dalam dokumen-dokumen itu, kecuali
beberapa bagian yang mereka hitamkan, menunjukkan tingkat kerahasiaan informasi.
Dari dokumen itu juga Tim Weiner menulis buku Legacy of Ashes: A History
of CIA yang sempat menghebohkan publik di Indonesia pada pengujung 2008 karena
menyebut-nyebut nama Adam Malik sebagai agen CIA di Indonesia. Banyak tokoh
membantah tulisan Tim Weiner, termasuk Jusuf Kalla yang saat itu masih menjabat
wakil presiden.
Pemerintah AS sendiri memiliki peraturan untuk membolehkan dibukanya
arsip-arsip penting (dan rahasia) setelah berumur 30 tahun (declassified).
Arsip-arsip itu dianggap telah bersifat statis karena peristiwanya sudah lama
berlalu dan sebagian besar orang-orang yang terlibat dalam peristiwa itu sudah
meninggal dunia. Sementara itu arsip yang masih bersifat dinamis, di mana
proses dan kontinuitas peristiwanya masih berlanjut, diberi label Top Secret
dan tak mungkin dibuka untuk umum. Masuk akal bila sekarang, saat WikiLeaks
membocorkan dokumen-dokumen rahasia milik Pemerintah AS yang masih bersifat
dinamis, ada upaya untuk menutupinya.
Seperti sebuah gosip, informasi intelijen yang dibocorkan oleh WikiLeaks
itu terletak di wilayah abu-abu. “Informasi itu bisa disebut sebagai hoax
(isapan jempol-red) kalau sudah terbukti bohong. Tapi yang sekarang terjadi
adalah tak ada pihak yang bisa membuktikan kalau itu bohong atau benar adanya,”
kata antropolog LIPI Dr. Fadjar Ibnu Thufail. [BONNIE TRIYANA]
Artikel terkait
Spionase Paman Sam
Pesulap Pertama CIA
CIA Incar Jenggot Castro