Dituduh Danai SBY
Tomy Winata Rela Jilat Sepatu Wartawan
Editor: yuli
Selasa, 15 Maret 2011 | 04:52 WIB
 KOMPAS/ALIF ICHWAN Pengusaha Tomy Winata (kiri), Menteri Perdagangan Mari Elka 
Pangestu (tengah), dan Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat berbincang serius 
sebelum sidang kabinet paripurna di Kantor Menteri Sekretaris Negara, Jakarta, 
6 Oktober 2010. Saat itu, sidang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan 
Wakil Presiden Jusuf Kalla membahas antisipasi keuangan dan perekonomian global.

JAKARTA, KOMPAS.com  Tomy Winata, pengusaha yang disebut sebagai cukong 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengaku rela menjilat sepatu kotor 
para wartawan saat keterangan pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu 
(13/3/2011) petang.


Jadi, andaikata saya ini harus jilat sepatu bapak-bapak -para wartawan- yang 
penuh kotoran, harga diri saya itu tidak direndahkan oleh bapak-bapak.
-- Tomy Winata

Tomy disebut cukong SBY dalam dua media Australia, The Age dan The Sydney 
Morning Herald, mengacu pada kawat diplomat Amerika Serikat di Jakarta yang 
dibocorkan WikiLeaks.

"Jadi, andaikata saya ini harus jilat sepatu bapak-bapak (para wartawan) yang 
penuh dengan kotoran, harga diri saya itu tidak direndahkan oleh bapak-bapak. 
Demi 1 juta keluarga yang harus hidup bulan-bulan ke depan. Asal itu jangan 
jadi berita yang dipercaya," ungkap bos Artha Graha itu di hotel miliknya, 
Hotel Borobudur.

"Bukan saya ingin mempertahankan supremasi Tomy Winata dan segala macam. Tapi, 
demi 1 juta kepala keluarga mengantre di belakang kami," lanjutnya.

Ditegaskan TW, berita yang dilansir The Age dan The Sydney Morning Herald 
sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak benar. Kedutaan Besar Amerika 
Serikat sudah menyampaikan penyesalan dan membantah berita itu.

"Tapi berita itu sudah telanjur diambil WikiLeaks dan disiarkan lewat koran The 
Age di Australia dan koran The Sydney Morning Herald," ujarnya.

Disinggung nama-nama yang dicantum dalam pemberitaan kedua harian itu, TW 
mengaku mengenalnya sebagai pemimpin bangsa, mantan pejabat tinggi negara, dan 
senior-seniornya.

"Saya memang kenal, hanya apa yang dituduhkan di dalam berita itu sama sekali 
tidak benar, tidak mendasar, dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya. M 
Ismunadi



Tomy Winata Bicara
Ini Masalah Bangsa, Bukan Masalah TW
Penulis: Robert Adhi Kusumaputra | Editor: Robert Adhi Kusumaputra
Senin, 14 Maret 2011 | 23:54 WIB

1
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Tommy Winata

TERKAIT:
  a.. Berita "The Age" Justru Untungkan SBY
  b.. Banyak Yang Lebay Tanggapi "The Age"
  c.. Berita Sampah, Jangan Ditanggapi Serius
  d.. Mungkin "The Age" Punya Target Tertentu
  e.. PDI-P Bantah Berita "The Age"

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemberitaan The Age dan The Sydney Morning Herald (TSMH) 
sama sekali tidak berdasar dan jauh dari akurasi. Pengusaha nasional Tomy 
Winata menyatakan, berita dua koran Australia yang dikutip dari WikiLeaks itu 
bukan hanya merugikan dirinya dan perusahaan yang dibangunnya selama 35 tahun, 
melainkan juga bangsa dan negara.


Pemberitaan The Age dan The Sydney Morning Herald sama sekali tidak berdasar 
dan jauh dari akurasi.
-- Tomy Winata

"Kalau hanya menyangkut Tomy Winata dan keluarganya, tidak masalah. Tapi, ini 
adalah masalah bangsa," kata Tomy Winata dalam siaran pers yang diterima media 
massa, Senin (14/3/2011) tengah malam.

Karena itu, Tomy Winata mengimbau pers nasional untuk tidak ikut mengembangkan 
berita yang tidak akurat, berpotensi menghancurkan perusahaan, dan melecehkan 
bangsa. Ia mengaku sudah mengirimkan hak jawab kepada dua media Australia itu.

Meski saat ini belum ada dampak terhadap perusahaan, kata Tomy, langkah 
antisipasi harus segera diambil. Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa berita 
buruk mengenai figur pengusaha dapat berakibat buruk terhadap operasional 
perusahaan.

Karena itu, kata Tomy, pihaknya harus bergerak cepat sebelum rumah terbakar, 
berbagai upaya pencegahan harus dilakukan terlebih dahulu. Sangat terlambat 
bila baru mulai bergerak setelah rumah terbakar.

Saat ini sejumlah perusahaan Grup Artha Graha sudah go public dan menjadi 
perusahaan terbuka. Artha Graha juga mengembangkan Artha Graha Network dan 
Artha Graha Peduli di 80 titik yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. 
Lebih dari satu juta orang menggantungkan hidup di Artha Graha.

"Kalau ada snow ball dan pemberitaan tidak berdasar ini dan para mitra usaha 
kami menunda keputusan atau membatalkan berbagai transaksi bisnis, perusahaan 
bisa celaka. Karena itu, saya mohon agar isu ini tidak dikembangkan. Kalau saya 
harus menjilat sepatu Anda agar sejuta lebih orang tetap mendapatkan nafkah, 
saya rela. Bagi saya, kepentingan nusa dan bangsa jauh lebih penting dari harga 
diri saya dan keluarga," ungkap Tomy.

Kedekatan konstitusional
Tomy menegaskan, dia tidak pernah memberikan dana kepada pejabat mana pun lewat 
siapa pun. Ia tidak pernah memberikan uang kepada Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono dan Ibu Negara seperti dituduhkan media Australia. Hubungannya dengan 
Presiden adalah hubungan rakyat dengan kepala pemerintahan dan kepala negara.

"Kalau orang bilang dekat, saya nyatakan, ya, dekat secara konstitusional. 
Hubungan kedekatan sebatas hubungan presiden dan rakyat. Kalau dipanggil, saya 
datang. Tapi, itu sangat jarang," paparnya.

Sejak Presiden Soeharto hingga Presiden SBY, demikian Tomy, kedekatannya dengan 
pimpinan tertinggi negara ini sama saja. Ia berprinsip, siapa pun presiden, 
setiap warga negara wajib tunduk kepada pemimpinnya yang sudah dipilih secara 
konstitusional.

Sebagai pengusaha, kata Tomy, dia berusaha patuh kepada para pemimpin. "Saya 
berusaha menjalankan kewajiban saya sebagai anak bangsa untuk mengembangkan 
bisnis. Seperti visi Presiden SBY, saya berusaha untuk memberikan kontribusi 
kepada bangsa dan negara sesuai prinsip pro-growth, pro-job, pro-poor, dan 
pro-environment," kata dia.

Hubungannya dengan TB Silalahi sudah terjalin sejak 30 tahun silam saat 
jenderal purnawirawan itu memimpin Yayasan Eka Paksi dan bertindak sebagai 
penghubung Yayasan Eka Paksi dan Artha Graha. Kini, TB Silalahi menjadi 
penasihat di Artha Graha. "Pak TB sama sekali bukan orang yang menjembatani 
kami dengan SBY dan keluarga," katanya.

Muhammad Lutfi yang disebut media Australia dekat dengan dirinya adalah mantan 
Kepala BKPM. Dia mengenal Lutfi saat Dubes Jepang itu menjadi Kepala BKPM. 
"Tidak ada yang spesial. Pengusaha selalu berusaha baik kepada semua pemimpin 
dan pejabat negara."

Tomy menjelaskan, dia tak habis pikir pihak yang selalu mengaitkan dirinya 
dengan berbagai tindakan tidak terpuji. Ia pun tidak paham isu Sembilan Naga 
yang dikaitkan dengan dirinya. "Rasanya, kalau semua masalah belum dikaitkan 
dengan TW, kayaknya belum mantap. Karena itu, berbagai hal yang masih konon 
kabarnya dikembangkan seakan-akan fakta dan harus begitu," papar Tomy.

Tomy menjelaskan, dia tidak lagi ikut mengurus operasional perusahaan. Semuanya 
sudah diserahkan kepada profesional. "Sekitar 99,9 persen kegiatan perusahaan 
ditangani profesional," katanya.

Ia pun jarang menghadiri acara resmi. Setiap hari meninggalkan rumah di atas 
pukul 11 siang dan selanjutnya menerima tamu di Hotel Borobudur. Kegiatan di 
luar kota kini paling banyak ke Tambling, ujung selatan Sumatera, wilayah 
konservasi hutan seluas 45.000 ha.

Tomy menegaskan, dirinya tidak memiliki rekening di bank luar negeri dan 
perusahaan di luar Indonesia. Sedikitnya 99,9 persen waktunya dihabiskan di 
Indonesia. "Saya lahir dan hidup di sini dan akan selalu berusaha memberikan 
yang terbaik buat negeri ini," tandas Tomy Winata. (KSP)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke