Refleksi : Zakat tidak pernah akan bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan 
kemiskinan dan keterbelakangan di Indonesia! Masyarakat sekarang jauh lebih 
kompleks persoalannya dari pada masalah  perkampungan masyarakat nomadik yang 
terdiri dari beberapa keluarga di gurun pasir pada zaman bahula dunia 
kegelapan. 

Selain itu adakah diantara para petinggi negara maupun agama yang berkaok-kaok 
tentang indahnya zakat memberikan 10% dari harta kekayaan mereka untuk zakat?  

Sebagai contoh bisa diambil berita kekayaan beberapa orang, sesuai berita 
kekayaan menjelang pemilu yang lalu dikatakan bahwa SBY memiliki harta mata 
uang asing kurang lebih US$ 200.000,--.  Sesuai Majalah Forbes 12 December 
2009, Aburzial Bakrie memiliki kekayaan sejumlah US$ 2,5 miliar.  Berapa  besar 
atau banyak duit  diberkian oleh mereka untuk zakat tiap tahun?  Bukankah 
paling-paling beberapa ekor kambing dan sapi untuk disembelih pada hari raya 
Idul Adha. Alm  Soeharto, jenderal,presiden NKRI selama 32 tahun. Jumlah 
kekayaan hasil korupsinya yang diisembunyikan sesuai UN StAR berjumlah antara 
US$ 30 miliar -US$ 50 miliar. Pada  tahun terakhir sebelum mati  Soeharto 
memberikan zakat 32 ekor sapi untuk disembelih dan dibagikan kepada yang rakyat 
miskin yang sekali setahun makan daging sapi. Untuk makan daging seharusnya 
rakyat harus bisa setiap hari sesuai hasrat dan ketuhan gizi makan daging, 
bukan sehari dalam setahun!

Amin

 

http://nasional.kompas.com/read/2011/03/17/22010284/Tiga.Resep.Kurangi.Kemiskinan.Ala.SBY


Tiga Resep Kurangi Kemiskinan Ala SBY
Penulis: Hindra Liu | Editor: Tri Wahono 
Kamis, 17 Maret 2011 | 22:01 WIB

 Tribun Timur/Abbas Sandji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 
JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika membuka acara 
Sosialisasi Zakat Nasional, mengungkapkan tiga resep mengurangi kemiskinan di 
Indonesia. Dikatakan, saat ini ada sekitar 13 juta warga Indonesia yang hidup 
di bawah garis kemiskinan.

"Pertama, menyukseskan pembangunan ekonomi. Kalau ekonomi di Indonesia terus 
tumbuh dengan baik, maka lapangan kerja akan tercipta. Yang tadinya mengganggur 
menjadi kerja dan memiliki pendapatan sehingga bisa memenuhi kebutuhan 
sehari-hari. Kalau ekonomi tumbuh, dunia usaha tumbuh, pajak yang dibayarkan ke 
negara makin besar. Ini salah satu pilar utama penerimaan negara yang nantinya 
menjadi APBN dan APBD," kata Presiden di Istana Negara, Jakarta, Kamis 
(17/3/2011).

Pendek kata, sambungnya, jika ekonomi tumbuh dengan konsep dan kebijakan yang 
benar, dan disertai pertumbuhan yang inklusif, adil, berkelanjutan, hampir 
dipastikan ini akan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Terlebih, jika hal ini 
didukung oleh situasi politik, sosial, keamanan, stabil. Kedua, program-program 
yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan, seperti Jamkesman, Raskin, bantuan 
sosial, PNPM, kredit usaha rakyat, dan lainnya, berjalan

"Ketiga, adanya bantuan dari masyarakat luas, seperti gerakan kesetiakawanan 
sosial, termasuk bagi umat Islam, gerakan zakat, infaq, shadaqah. Kalau ini 
diarahkan dengan baik, ini akan menjadi jalur ketiga mengurangi kemiskinan. 
Ketiga-tiganya harus hidup di negeri kita dengan manajemen sebaik-baiknya 
dengan kontrol sosial yang baik pula," katanya.

Presiden meminta masyarakat tak perlu ragu-ragu membayar zakat. Pasalnya, 
manajemen zakat sudah diatur di dalam undang-undang. "Tidak perlu ada 
keragu-raguan jika ada konflik, tumpang tindik, dan hal-hal yang tidak sesuai 
antara pajak dan zakat. Ini sudah diatur. Memang kita menganut dua sistem. 
Pertama sistem pajak. Mereka membayar pajak yang digunakan untuk membiayai 
kehidupan bernegara. Sistem kedua sebagaimana dikelola Baznas dan Bazda adalah 
sistem zakat," kata Presiden.

Dikatakan Presiden, ada korelasi di antara keduanya. "Contoh, UU No 38 Tahun 
1999 ada klausul yang mengatur supaya jangan ragu-ragu membayar zakat. Jumlah 
zakat yang dibayar bisa dikurangkan dari pendapatan kena pajak. Dari kacamata 
negara, tidak ada yang dirugikan. Saya harap itu benar-benar disosialisasikan," 
katanya.

Sementara itu, Ketua Baznas Didin Hafiddudhien mengatakan, jumlah zakat yang 
berhasil dikumpulkan pada tahun 2010 mencapai Rp 1,5 triliun. Angka ini 
meningkat 25 persen dibandingkan tahun 2009. Pada tahun 2011, Didin menargetkan 
peningkatan pengumpulan zakat sebesar 20 persen. Terkait penerima zakat, Didin 
mengatakan, pada 2010, ada 2,28 juta orang yang menerima. Angka ini setara 
dengan 9,03 dari total penduduk miskin di Indonesia. Dana Zakat disalurkan 
melalui lima program utama, yakni Indonesia Peduli, Indonesia Cerdas, Indonesia 
Sehat, Indonesia Taqwa, dan Indonesia Makmur. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke