Tsunami Jepang
Semangat Bangkit Orang Jepang Luar Biasa
Editor: Pepih Nugraha
Jumat, 18 Maret 2011 | 08:30 WIB

 AP Hiromitsu Shinkawa, kakek berusia 60 tahun, warga kota Minamisoma, 
Prefektur Miyagi, Jepang timur laut melambaikan tangan untuk meminta tolong. Ia 
terseret 15 kilometer ke laut lepas. Setelah dua hari, tepatnya Minggu 
(13/3/2011), ia ditemukan dalam keadaan selamat dan sehat.

JAKARTA, KOMPAS.com  Seorang pemuda memakai kacamata membagikan ramen, mi 
rebus, kepada beberapa orang di tempat penampungan korban tsunami. Oleh 
wartawan TV ditanya dari grup relawan mana. Pemuda itu menjawab, “Bukan. 
Volunteer. Saya memang penduduk sini dan pekerjaan saya memang menjual ramen. 
Rumah dan warung saya juga hilang dan tidak ada lagi. Akan tetapi, saya tidak 
sendirian. Oleh karena itu dalam keadaan sekarang kita bersama-sama melakukan 
apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali”.

Demikian laporan Sapto Nugroho, warga Indonesia di Jepang yang menulis untuk 
media sosial Kompasiana. Berikut laporan lengkapnya...

Bukan tangis dan ratapan yang ditunjukan, tetapi semangat untuk bangkit kembali 
karena menyadari yang mengalami musibah kehilangan rumah dan pekerjaan bukan 
dia sendiri.

Dua orang bapak berdiri di atas bukit kecil, memandang ke bawah, ke kota kecil 
yang sekarang sudah tidak ada lagi rumah yang berdiri. Dia menunjukkan lokasi 
rumahnya dulu. Tampak bahwa tidak hanya rumah yang hilang, tapi juga “kota” 
atau “kampung” semua hilang ditelan tsunami. Semangat tetap tecermin dalam diri 
bapak-bapak itu karena mereka merasa tidak sendirian.

Ada teman saya di Kanada bertanya: “Jepang kan negara donor, kenapa kok 
mengumpulkan dana juga dari masyarakatnya?” Mungkin jawabnya adalah bukan pada 
jumlah uang  yang berhasil dikumpulkan, tetapi lebih pada rasa setia kawan atau 
rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu. 
Rasa bersama inilah yang ada dalam setiap diri orang jepang. Rasa ini menjadi 
semangat bagi orang yang ditimpa bencana sehingga bisa bangkit lagi. Ada juga 
artikel yang dimuat di Kompas.com, mahasiswa atau mahasiswi jepang di Yogya 
mengumpulkan dana dari orang yang lewat di jalan (dengan pakaian Jepang). Tentu 
saja gerakan ini kalau dilihat jumlahnya tidak banyak, tapi “arti” dari yang 
dia lakukan itu cukup besar bagi dia sendiri dan bagi bangsanya. Ada rasa 
kesatuan sehingga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana.

Pada hari ke-5 setelah gempa, yaitu tanggal 16 Maret 2011, transportasi utama 
di Tokyo untuk orang bekerja sudah normal. Ini juga berkat kerja sama antara 
TEPCO (perusahaan penyedia listrik), perusahaan kereta, dan Kementrian 
Transportasi. Memang kekurangan pasokan listrik masih ada. Akan tetapi, 
pengaruh ke kegiatan utama di perkantoran sedapat mungkin di kurangi supaya 
roda ekonomi tidak terlalu terganggu. Berkat kerja sama tiga instansi ini, di 
waktu orang berangkat dan pulang kerja, jumlah dan jadwal kereta semua normal. 
Artinya sama seperti sebelum gempa.  Dengan demikian, orang berangkat dan 
pulang kerja seperti biasa. Jumlah kereta yang dikurangi adalah jam-jam tidak 
sibuk, yaitu jam 10 pagi sampai jam 6 sore. Suatu langkah penanganan yang juga 
berlandaskan semangat tidak sendiri, tapi bersama-sama mengatasi masalah.

Semangat bahwa tidak sendiri ini juga tampak jelas ditunjukan oleh pemain sepak 
bola asal Jepang, Nagatomo, yang bermain untuk klub eropa Inter Milan. Sebelum 
pertandingan,  semua pemain dan penonton berdoa untuk Jepang. Setelah 
pertandingan, Nagatomo memegang bendera Jepang bertuliskan dalam bahasa Jepang 
dan juga bahasa Inggris: You will  never walk alone. Sementara di layar TV 
dituliskan dalam bahasa Jepang, Sora ha tsunagatteiru node (kimochi ha ) 
tsunagaru to omoimasu ( Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan 
juga bisa tersambung ).

Ada satu ungkapan yang sudah diajarkan sejak anak TK ,SD, sampai dewasa, yaitu, 
chikara o awaseru, yang berarti kita bersama-sama menggalang kekuatan. Kalau 
sendirian tidak akan bisa, tetapi kalau bersama-sama kita susun kekuatan maka 
kita akan bisa melakukannya.



Anak Orang Indonesia Terkaya Ketiga Sumbang Rp 6,8 Miliar untuk Jepang
Kamis, 17 Maret 2011 | 14:22 WIB
Besar Kecil Normal

Elaine Low

TEMPO Interaktif, Singapura - Tergerak dengan berita bencana gempa dan tsunami 
di Jepang, wanita asal Singapura, Elaine Low, 24 tahun, memutuskan untuk 
membantu. Anak dari orang terkaya ketiga di Indonesia, Low Tuck Kwong, tersebut 
menyumbangkan 1 juta dollar Singapura (Rp 6,8 miliar) untuk Jepang.



Berita terkait
  a.. Amerika Harus Belajar dari Krisis Nuklir Jepang
  b.. Reaktor Nuklir Nomor Empat Fukushima Terbakar
  c.. Kisah Bayi-bayi yang Selamat dari Tsunami
  d.. Lagi, Gempa 6,0 Skala Richter Goyang Jepang
  e.. Kehawatiran Radiasi Nuklir Jepang Meningkat

Pada Rabu, Elaine memberikan cek 1 juta dollar Singapura tersebut kepada Duta 
Besar Jepang untuk Singapura Yoichi Suzuki. Sumbangan itu merupakan yang 
terbesar yang diterima Duta Besar Jepang.



Elaine adalah anak Low Tuck Kwong, 63 tahun. Lock merupakan pendiri perusahaan 
tambang batu bara di Indonesia, Bayan Resources. Dalam daftar Orang Terkaya di 
Dunia versi Majalah Forbes awal Maret, Low berada di peringkat 304 dunia dengan 
kekayaan US$3,6 miliar (Rp 31,6 triliun). Sementara di Indonesia, Low berada di 
nomor tiga setelah R. Budi Hartono dan Michael Hartono.



Elaine saat ini bertanggung jawab atas pengembangan bisnis Bayan Resources.



"Keluarga saya dan saya merasa itu merupakan bencana yang dan kami ingin 
mengulurkan bantuan," ujar Elaine.



Elaine menyerahkan sepenuhnya dana tersebut kepada warga Jepang untuk digunakan 
sebaik-baiknya guna membantu korban gempa dan tsunami.



STRAITSTIMES| KODRAT SETIAWAN


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke