Refleksi : Untuk apa profesional dalam mengdefusi bom, yang terpenting ialah 
para petinggi  berprofesional dalam bidang menebalkan dompet. Biar saja si 
krocok-krocok yang kerjakan kalu korban itu takdirnya sudah ditetapkan dari 
atas awan biru.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=274909


      TEROR PAKET BOM
      Polri Tak Profesional, Masyarakat Jadi Paranoid 


      TEROR BOM - Tim Gegana Sat Brimobda Metro Jaya mengamankan barang yang 
diduga bom di gedung DPR, Jakarta, Jumat (18/3). Barang yang ternyata buku itu 
ditujukan kepada Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. (Suara Karya/Hedi Suryono)
      Sabtu, 19 Maret 2011


      JAKARTA (Suara Karya): Polri tidak profesional dalam menangani 
kasus-kasus teror paket bom yang belakangan marak di Jakarta dan sekitarnya. 
Karena itu, masyarakat pun dihinggapi kecurigaan dan ketakutan berlebihan 
(paranoid) terhadap segala bentuk paket yang tidak jelas. 

      Demikian penilaian pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo di 
Jakarta, kemarin, menanggapi teror kiriman paket bom yang belakangan marak di 
Jakarta dan sekitarnya. Penilaian senada juga diutarakan pengamat intelijen AC 
Manulang dalam kesempatan terpisah kemarin. 

      Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Sutarman mengatakan, pihaknya 
menyiagakan tim Gegana di tiap polres sebagai tanggapan atas maraknya teror bom 
sekarang ini. Dengan itu, diharapkan polisi bisa cepat melakukan penindakan 
terhadap setiap aksi teror bom ini. 

      Menurut Mardigu Wowiek dan AC Manulang, ketidakprofesionalan polisi 
terlihat dalam tindakan memastikan paket yang benar-benar berisi bom maupun 
menyangkut kelengkapan peralatan yang digunakan tim Gegana selaku penjinak bom.

      Polri tidak terlihat memiliki peralatan untuk memastikan paket berisi bom 
ataukah sekadar barang biasa yang tidak berbahaya. Mengamati tindakan polisi 
dalam melakukan penanganan teror bom di lapangan, terlihat alat yang digunakan 
hanya detektor metal yang menimbulkan suara alarm. Cuma dengan itu polisi lalu 
memutuskan meledakkan paket yang dicurigai berisi bom, seperti di Condet, 
Pondok Indah, dan di kediaman rumah aktivis Hendardi di Bintaro Sektor V. 
Setelah meledak, baru ketahuan bahwa paket tidak berisi bom, tetapi hanya buku, 
sepatu, dan kepingan cakram padat (CD). 

      Polisi juga terkesan menyepelekan ancaman bom. Dalam kasus paket di 
Pondok Indah, misalnya, anggota tim Gegana mengenakan pakaian lengkap 
antiledakan bom dari ujung kepala sampai kaki. Namun tangan mereka sama sekali 
tidak mengenakan pelindung. Kalau saja paket meledak, tangan anggota tim Gegana 
itu niscaya hancur.

      Kondisi tidak profesional itu, menurut Mardigu, masih ditambah gencarnya 
pemberitaan media massa, khususnya televisi, terhadap penanganan kasus teror 
bom ini. Pemberitaan yang demikian gencar, katanya, membuat masyarakat jadi 
paranoid sehingga polisi pun terkesan serbasalah. 

      "Kasihan masyarakat. Mereka menjadi seperti paranoid karena pemberitaan 
media yang berlebihan. Petugas juga terpengaruh situasi seperti itu, sehingga 
apa yang mereka lakukan--meski berusaha menerapkan standard operating procedure 
(SOP)--terkesan berlebihan," kata Mardigu. 

      Mardigu mencontohkan kejadian Jumat kemarin. Pemberitaan tentang ancaman 
pengeboman sangat marak, antara lain dilaporkan di Pondok Indah, Condet, Taman 
Wisata Cibubur, bandara, Utan Kayu lagi, dan di gedung DPR. "Dari kabar-kabar 
tentang ancaman bom itu, yang benar-benar bom hanya di Cibubur," kata Mardigu. 

      Dalam melakukan penanganan, menurut Mardigu, polisi tidak perlu 
terpengaruh kondisi yang berkembang. Toh, ujarnya, petugas 
kepolisian--khususnya tim Gegana--sudah memiliki SOP. Terkecuali pada kasus 
paket bom yang ditujukan untuk Ulil Abshar Abdalla, yang mengakibatkan tangan 
kiri Kasatreskrim Polres Jaktim itu putus karena SOP diabaikan.

      Mardigu menuturkan, peristiwa di Utan Kayu itu berdampak luas, khususnya 
menyangkut kinerja kepolisian. Menurut dia, koordinasi antarsatuan di Polri, 
seperti satuan intelijen, satuan wilayah, dan Tim Gegana Polri, terkesan lemah. 

      "Pada penanganan kasus-kasus teror bom selanjutnya, seperti di kantor 
BNN, di rumah Yapto, Ahmad Dhani, dan Kota Wisata Cibubur, polisi sebenarnya 
sudah memenuhi SOP. Tapi, karena kesan sebelumnya sudah terbentuk, yaitu 
koordinasi lemah, kesan umum di masyarakat tentang kinerja buruk polisi tetap 
tidak berubah. Karena itu, Polri harus secepatnya mengungkap kasus-kasus bom 
paket agar citra institusi Polri meningkat lagi," kata Mardigu. 

      Dalam SOP kepolisian, kalau benda yang dicurigai bom berbentuk kecil 
(seperti buku atau surat) mengandung logam, maka barang itu memang harus 
diledakkan. "Tapi, kalau benda mencurigakan besar, harus diurai dulu," kata 
Mardigu. 

      Dia menyayangkan peralatan minim yang dimiliki Polri, khususnya tim 
Jihandak (penjinak bahan peledak). "Perhatikan penggunaan alat pendeteksi bom 
itu. Masih sangat sederhana dan jumlahnya terbatas. Saya yakin petugas Densus 
dan Jihandak kewalahan kalau ancaman atau teror bom marak seperti sekarang 
ini," tutur Mardigu. 

      Sementara itu, AC Manulang menilai, kasus-kasus ancaman bom sebaiknya 
diserahkan kepada aparat intelijen, jangan ditangani kepolisian. Dia beralasan, 
polisi tidak profesional dalam menangani kasus-kasus bom. 

      "Polisi tidak bisa mendeteksi kejadian itu. Polisi sulit menangani, 
apalagi perhatian pemerintah kepada polisi kurang," kata Manulang. 

      Menurut dia, rentetan kasus teror bom belakangan ini adalah porsi kerjaan 
intelijen. Namun, karena kinerja intelijen sendiri lemah, aparat tidak bisa 
melakukan deteksi dini. "Intelijen kita loyo," kata Manulang. 

      Lebih jauh dia memaparkan, kasus bom buku yang meresahkan masyarakat itu 
sebenarnya sudah disiapkan para peneror jauh-jauh hari. "Semua itu disiapkan 
jauh-jauh hari, pasti ada perancangnya, itu harus dicari intelijen, hanya 
intelijen yang bebas berselancar mencari pelaku teror bom," ujar Manulang. 

      Sementara itu, menanggapi maraknya teror paket bom, Kapolda Metro Jaya 
Irjen Sutarman mengatakan, pihaknya menyiagakan tim Gegana di tiap Polres. 
"Saya membagi Gegana, seluruh Polres saya perintahkan untuk menempatkan tim 
satu Gegana," kata Sutarman. 

      Kapolda mengatakan, dalam satu tim, minimal enam personel lengkap dengan 
peralatannya. Diharapkan, dengan ditempatkannya tim Gegana di tiap Polres, 
dapat mempercepat penindakan terhadap laporan masyarakat tersebut.

      Kapolda mengatakan, pascamaraknya bom buku, laporan warga meningkat soal 
kecurigaan paket, meski beberapa paket yang dilaporkan mencurigakan itu 
ternyata berisi barang-barang yang tidak berbahaya.

      "Yang biasanya tidak laporan, karena menerima paket mencurigakan, 
dilaporkan. Tadinya kan orang terima paket tidak laporan," katanya. 
(Sadono/Hanif S/Budi Seno)  

--------------------------------------------------------------------------
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke