ASAHAN:
Komentar Sastra
CINTA PADA SEBUAH PAGI (Cerpen Eep Saefulloh
Fatah)
SENJA PERTAMA DI BANTALAREJA ( oleh: Hersri
Setiawan)
CINTA PADA SEBUAH PAGI
Membaca cerpen Eep mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Chekhov (Anton
Pavlovich Chekhov): sinisme yang subtiel yang sering-sering setajam duri
sembilu tapi tapi begitu tiba di hati selunak mihun yang terendam air. Terasa
pahit tapi tidak langsung melukai hati yang berkenaan meskipun juga tidak
langsung merasa getir. Pengkrtik Chekhov sering menuduhnya sebagai pengarang
yang tidak mempunyai ide, tidak ada apa-apanya selain sekedar bercerita.
Membaca cerpen Eep yang sekarang, seakan juga timbul kesan yang demikian:
sekedar sebuah cerita sederhana yang tak tetangkap ide dan ujung pangkalnya.
Tapi tidak. Dengan cepat asosiasi saya teringat akan nama A.S. Dharta dan
pelukis Sujojono yang ke dua-duannya dipecat oleh PKI dari Partai karena
dianggap tidak beres dalam soal rumah tangga mereka. PKI menghukum dan
mengenakan disiplin Partai terhadap anggota-anggota mereka yang dianggap
mengorbankan rumah tanggaa mereka karena intervensi perempuan dari luar.
Meskipun PKI bukanlah sebuah partai moralis tapi soal-soal kerumah tanggaan
dalam keluarg-keluarga anggota mereka , juga mendapat perhatian Partai bila hal
itu akan berpengaruh negativ terhadap daya juang Partai maupun nama baik
Partai. Lalu yang terahir saya juga teringat akan bung Nyoto (ex. kader tinggi
PKI) yang juga kena disiplin Partai karena soal serius hubungan bung Nyoto
dengan seorang perempuan Rusia yang dalam pada itu bung Nyoto telah mempunyai
seorang istri dan telah cukup banyak anak. Musuh-musuh PKI menuduh PKI sebagai
suka mencampuri urusan rumah tangga orang lain dan bahkan dalam kasus bung
Nyoto, musuh-musuh PKI dan bahkan sementara orang yang dalam PKI sendiri
menggunakan kesempatan ini untuk mengadu domba bung Njoto dengan ketua PKI.
Tapi dalam tulisan kecil semacan ini tentu bukan maksudnya untuk membela PKI
dan menyerang musuh-musuh PKI.
Sastra sebagai juga manifestasi dari kehidupan nyata sering-sering pula
memantulkan pencerminannya dalam kehidupan. Apa yang dikisahkan oleh Eep dalam
cerpennya yang sederhana, yang seolah cerita biasa yang menurut para pengkritik
Chekhov sebagai :" tidak ada apa-apanya". "tidah punya ide" tapi sesunguhnya ia
mengisahkan banyak cerita-cerita kehidupan yang seharusnya membuat orang
berpikir, membanding-bandingkan, menimbang-nimbang bagaimana setiap menusia
harus menyikapi gejala kehidupan melalui cerita-cerita atau pengalaman manusia
lainnya. Arnando (tokoh cerpen Eep) adalah seorang pelukis yang biasa saja yang
lalu perlahan lahan lukisan-lukisan-lukisannya semakin banyak dibeli orang dan
juga membuat taraf hidupnya semakin baik. Arnando belum seorang pelukis
terkenal tapi kehidupannya telah semakin meningkat dan ia mempunyai sebuah
rumah mungil di sebuah lekuk di ibu kota Metropolitan seperti Jakarta. Dia
mempunyai seorang istri yang juga seorang pegawai dan menerima gaji dan
Arnando masih mempunyai seorang simpanan perempuan lainnya(Asti) yang setengah
legal setengah tidak di rumahnya sendiri sebagai teman hubungan sex-nya selain
istrinya(sejenis polygami gelap). Eep sebagai yang empunya cerita tidak
mengadili hubungan segi tiga Arnando, juga tidak mengajak pembacanya mencela
atau minta pengertian pembacanya. Eep cuma bercerita dan ceritanya bukannya
sama sekali tidak menarik dan bahkan sebaliknya semakin dipikikirkan semakin
menarik dan bisa menimbulkan banyak asosiasi pada para pembacanya. Eep
menggunakan fiksi untuk membangun ceritanya dan itu persis seperti yang
dimaksudkan oleh sebuah cerita pendek, jadi bukan memoar, bukan salah satu dari
kisah-kisah pendek yang dialaminya sendiri. Dengan demikian nilai sastra dalam
cerpen Eep ini menjadi lebih menonjol, lebih mudah ditemui dan dirasakan.
Berkata demikian tidak berarti kalau sebuah cerpen memoar adalah lebih rendah
mutunya daripada sebuah cerpen fiksi, sama sekali tidak. Sebuah memoar mempunya
nilai lebihnya sendiri sebagai cerpen memoar asalkan dia ditulis dengan bagus
dan menarik. Sebuah cerpen memoar yang bagus dan menarik bisa pula mempunyai
nilai sastra yang tinggi. Sebaliknya pula sebuah cerpen fiktif yang buruk tidak
akan mempunyai nilai sastra kecuali fantasi dan imajinasi murahan yang penuh
kenaifan. Pada cerpen Eep yang sekarang kita menemukan sebuah cara bercerita
yang matang meskipun sederhana dan karena itu pulalah saya teringat akan
cerita-cerita Chekhov.
Hersri Setiawan dalam kisah pulau Burunya "Senja pertama di Bantalareja" dengan
cepat memberi kesan pada pembacanya bahwa ini sebuah cerpen memoar, sebuah
memoar dan bukan fiksi. Meskipun nama cerita ini terdengar sangat puitis,
sangat indah, tapi yang diceritakan sangatlah prosais yang hampir-hampir
terkesan sebagai sebuah catatan berkisah. Di dalamnya terdapat banyak nama-nama
tokoh terkenal yang bisa pembaca temukan sendiri (Hersri memang punya kegemaran
memamerkan kenalan-kenalannya yang terkenal dari mulai kaum inlektuil kelas
berat dan Internasional hingga para seniman besar yang katanya dekat dengan
dia). Kalau dalam cerpen Eep kita merasakan sebuah sinisme yang halus
sebagaimana juga yang terdapat dalan cerita-cerita Chekhov, maka dalam memoar
Hersri yang sekarang (terlampir dalam att.ment) kita juga menemukan sinisme
yang demikian yang dia tujukan pada bekas Ketua Partainya sendiri yang ketika
itu katanya telah menjadi Wakil Ketua MPRS dan mentri dalam Pemerintahan
Sukarno. Hersri tidak sudi berdiri ketika mobil sang ketua yang merangkap wakil
Ketua MPRS liwat di depan dia bersama temannya yang semua teman-temannya pada
berdiri menunjukkan rasa hormat. Sebagai wakil Ketua MPRS dan mentri dalam
sebuah kabinet Indonesia tentu adalah sebuah jabatan mewah yang diterima oleh
sang Ketua yang Hersri tidak merasa terkesan untuk turut sama berdiri meniru
teman-temannya meskipun Hersai juga menerima jabatan mewah yang lebih kecil
hadiah dari Partainya, yaitu sebagai penerima pos sebuah jabatan di luar
negeri (di Colombo -Sri Langka). Di sini sinisme Hersri lalu membalik menuju
dirinya sendiri. Hanya saja tidak seorangpun yang bersedia berdiri di muka pos
Hersri meskipun juga sudah cukup mewah dalam skala kecil. Tapi hal itu bukan
hanya dilakoni oleh Hersri sendiri. Tidak sedikit para duta besar, profesor dan
jabatan-jabatan mulia lainnya di dalam maupun di luar negeri yang dikarenakan
hadiah Partai tapi setelah PKI terpukul, para tokoh yang berpangkat tinggi dan
dihormati itu dengan cepat mengkhianati Partai dan menghujatnya setelah PKI
dibasmi . Hersri tidak berkhianat, dia cuma kehilangan respek terhadap para
pemimpin Partainya dan menjadi sinis bukan saja dalam kisah-kisahnya kemudian
tapi juga dalam sikap hidupnya sehari-hari. Dalam tulisan-tulisan Hersri yang
sempat saya baca, Hersri bukan penulis yang jelek, tapi rasanya akan sulit
mengharapkan dari Hersri sebuah karya sastra yang fiktif karena dia terlalu
spesialis menceritakan kisah-kisah nyatanya dan itupun bukan satu kekurangan
meskipun kita sukar mengharapkan nilai lebih darinya.
ASAHAN.
Blog Jakarta Post Online Reviews
Akses berita lokal dan mancanegara terkini
dengan Gratis dan realtime (seketika)
Kunjungi disini
http://jakartapost.blogspot.com
Blog Komunitas Tionghoa di Indonesia
Akses berita, updates kegiatan komunitas Tionghoa
di Indonesia serta komentar komunitas Tionghoa dan para
pemerhati dan yang peduli dengan negeri ini.
Kunjungi
http://tionghoanet.blogspot.com
atau
http://chinese-clubs.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com
----- Original Message -----
From: heri latief
Cinta pada Sebuah Pagi
Cerita Pendek Eep Saefulloh Fatah
Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan
sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando,
seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya.
Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, Daster itu
tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya
Arnando yang tahu persis letak-letaknya.
Rambut lebat Asti dibiarkan memanjang menjuntai di punggugnya hingga nyaris ke
pinggul. Hidungnya yang tak mancung kerap mengundang godaan Arnando.
"Tak apa-apa hidungmu pesek. Lebih baik berhidung pesek tapi dengan dua bukit
mancung dan terurus di bawahnya," kata Arnando sambil menyentuh lembut salah
satu bukit yang menjulang di dada Asti, pada sebuah pagi yang lain.
"Lebih baik daripada apa. ?" sela Asti merajuk.
"Ya. lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus
di bawahnya."
Arnando tergelak. Asti hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu seperti
inilah yang sangat disukai Arnando. Karena itu, ia gemar menggoda Asti terutama
pada setiap pagi yang jadi milik mereka.
Kadang-kadang Arnando berpikir bahwa mereka memang ditakdirkan sebagai pasangan
yang saling melengkapi. Tergelak dan tersipu. Keliaran seorang penyerang dan
kelembutan sang penenang. Kebringasan seorang pemburu dan kepasrahan korban
buruan.
Asti adalah perempuan bersahaja. Selalu nrimo. Dalam banyak hal ia bahkan
cenderung naif. Yang pasti, ia sungguh rajin mengerjakan setiap pekerjaan yang
tersedia di rumah. Tak ada bagian rumah yang tak terjamah olehnya. Setiap hari.
Sepanjang minggu. Sepanjang tahun.
Arnando membayangkan. Seperti itulah Ibunya dulu selagi muda bekerja di rumah
masa kecilnya di Yogyakarta. Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan
tertata. Mengurus suami, Ayah Arnando, yang lumayan banyak urusan. Dan mendidik
enam orang anak laki-laki yang sungguh susah diatur. Tanpa pernah mengeluh.
Satu kali pun.
Asti pun tak banyak menuntut. Menyangkut materi, permintaannya selalu
sederhana. Minta daster baru. Minta dicarikan sepatu tali yang lebih kuat.
Ketika butuh tas, ia tak minta tas kulit mahal, tapi tas dari plastik atau
kulit imitasi, asal cukup kuat untuk bepergian. Benda sedikit berharga yang
pernah dimintanya adalah radio-tape untuk di kamar. Pernah ia minta dibelikan
gelang emas 10 gram. Itupun dimintanya dengan tersipu. Bukannya dipakai dan
dipamerkan, Asti malah menyembunyikan gelang itu di dalam laci lemarinya yang
selalu terkunci.
Untuk banyak alasan, yang tentu saja disetujui Arnando, Asti memang tak pernah
memamerkan berlebihan barang-barang berharga pemberian Arnando. Ia menyimpan
dengan rapih barang-barang itu serapih menyimpan cintanya untuk satu-satunya
lelaki yang pernah menjamah tubuhnya itu.
Arnando adalah burung hantu yang setia hinggap di dahan yang sama di tiap
malam. Lelaki rumahan. Inilah pula yang disukai Asti. Arnando selalu tersedia
baginya. Setiap saat.
Dengan Arnando yang selalu tersedia, Asti tak pernah merasa tertimbun dalam
tumpukan pekerjaan. Baginya, hari-hari di rumah adalah saat-saat menyenangkan.
Ia tak merasa terpenjara. Ia merasa seperti berdiam di sebuah istana.
Melukis adalah satu-satunya pekerjaan yang Arnando lakukan. Ia menghabiskan
sebagian besar hari-harinya di studio. Hidupnya seperti lalu lintas di antara
studionya yang berantakan, ruang makan, dan tempat tidur.
Uang memang kadang-kadang jadi persoalan. Arnando tak punya penghasilan rutin
seperti orang kantoran. Ia sendiri tak pernah mau mengurus keuangan. Ia tak
terlalu peduli apakah uang mereka sedang melimpah atau mereka sedang bangkrut.
Untunglah, di rumah ia tak pernah mendapat keluhan-keluhan berarti soal uang.
Untunglah pula, Arnando termasuk produktif. Berpameran setidaknya dua kali
setiap setahun. Satu pameran tunggal dan satu lagi bersama koleganya, satu atau
beberapa pelukis lain. Dari penjualan lukisan di setiap pameran itulah ia
mendapatkan uang yang lumayan. Setidaknya, cukup untuk hidup bersahaja
sepanjang tahun.
Belakangan, ketika lukisannya mulai dilirik kolektor, kadang-kadang uang datang
sendiri bersama para pemburu lukisannya. Ketika namanya makin banyak disebut
oleh para kurator dan peresensi seni rupa, ia sendiri jadi makin tak yakin
apakah yang diburu lukisannya atau guratan tegas namanya, "Arnando Mahoni", di
sudut kanan atau kiri bawah tiap lukisan itu.
Arnando merasa hidupnya lebih dari cukup. Memiliki sebuah rumah mungil di
pinggiran Jakarta adalah sebuah kemewahan. Terlebih-lebih, buat Asti, ternyata
rumah mungil itu adalah sebuah istana besar yang megah.
Bisa mengatur sendiri hidupnya, tanpa terikat oleh jam kerja atau jadwal-jadwal
rutin lain, adalah kemewahan lain milik Arnando. Ia merasa hidupnya sudah
selesai dengan dua kemewahan yang sudah digenggamnya itu.
Pagi ini, Arnando masih berkutat dengan lukisan yang tak juga usai itu. Lukisan
1x1 meter yang kelihatannya akan dicengkeram warna biru muram.
"Nggak sarapan dulu?"
Tiba-tiba suara Asti menyereruput punggung telinganya. Dua bilah tangan putih
melingkari pinggang Arnando. Asti merapatkan badannya di punggung Arnando.
Wangi-pagi-hari tubuh berkeringat Asti yang khas membuat Arnando segera
berbalik.
Asti dan Arnando saling merapat dalam balutan "pakaian dinas pagi"
masing-masing. Asti dalam dasternya. Arnando dengan kaos oblong dan sarungnya.
Keduanya seperti sepasang merpati yang saling mencari pagutan di tengah puncak
musim kawin.
Seperti pada pagi-pagi lainnya, setelah sebuah ciuman panjang yang tak
terputus, mereka beringsut dari studio menuju kamar di sebelahnya. Tanpa banyak
bicara. Pada pagi yang masih belia, Asti dan Arnando bercinta. Seperti pada
hampir setiap pagi lainnya. Kecuali pada akhir pekan atau liburan. Tentu saja.
*****
Ketukan di pintu itulah yang akhirnya membangunkan Asti dan Arnando dari letih
yang nyaris melelapkan. Jumlah dan nada ketukan itu sudah memberi tahu keduanya
siapa yang datang pagi itu.
Asti dengan sigap membereskan tempat tidurnya. Lalu, menyelinap keluar kamar
sambil meninggalkan senyum penuh arti untuk Arnando. Semacam terima kasih yang
tak terucap untuk tiap kenikmatan yang baru saja mereka reguk. Sosoknya hilang
ditelan daun pintu, melangkah sedikit tergesa ke pintu depan.
Arnando mengenakan sarung sekenanya. Lalu, kembali ke studio di sisi kamar itu.
Sepi menyergap sesaat hingga pecah oleh suara kesibukan Asti di dapur. Rupanya,
Asti sudah melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Samar-samar, Arnando mendengar langkah yang sudah sangat dikenalnya. "Mas,
berkas-berkasku tertinggal. Selalu saja begini kalo aku terburu-buru. Ini aku
belikan sarapan kesukaanmu." Suara lembut Ratih terdengar persis di punggung
Arnando.
"Makasih sayang." Arnando mengambil kotak makanan dari tangan Ratih dan
membiarkan perempuan itu segera berbalik pergi setelah mencium bibirnya
sekelebatan.
"Aku langsung buru-buru balik ke kantor lagi ya. Love you!" Suara Ratih dan
tubuh rampingnya berkelebat. Lalu menghilang.
"Love you too."
Pagi sudah tak lagi belia ketika Arnando mendengar suara mesin cuci mulai
dinyalakan Asti. Sementara ia masih mematung, berdiri di depan sang calon
lukisan biru muram yang tak juga usai.
Pagi masih belum beranjak, ketika suara mobil Ratih mulai terdengar. Lalu,
melamat makin menjauh. Arnando tahu persis, suara mobil istrinya itu akan
kembali datang kala malam bertandang kelak.
Bintaro Jaya, 3 April 2008
Blog Jakarta Post Online Reviews
Akses berita lokal dan mancanegara terkini
dengan Gratis dan realtime (seketika)
Kunjungi disini
http://jakartapost.blogspot.com
Blog Komunitas Tionghoa di Indonesia
Akses berita, updates kegiatan komunitas Tionghoa
di Indonesia serta komentar komunitas Tionghoa dan para
pemerhati dan yang peduli dengan negeri ini.
Kunjungi
http://tionghoanet.blogspot.com
atau
http://chinese-clubs.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com