Dari milis-tetangga. Berbagi kisah anak usia 9 tahun yang berjiwa besar dan 
mulia, berkorban mendahulukan orang lain! Dunia kalau sudah dipenuhi 
manusia-manusia berjiwa mulia demikian ini, maka akan cepat sejahtera dan 
tentram. Kapan bisa terjadi dan diikuti oleh banyak pejabat dinegeri kita agar 
lolos dari julukan salah satu negara terkorup didunia? ...

Salam,
ChanCT

Subject: Mari Berbagi

Anak yang Memberi Contoh Cara Berkorban

Catatan editor:
Surat ini ditulis oleh seorang imigran asal Vietnam, Ha Minh Thanh, yang 
bekerja sebagai polisi di Fukushima, ditujukan kepada seorang temannya di 
Vietnam.
Surat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Andrew Lam, editor NAM, 
dan dimuat dalam harian New America Media tanggal 19 Maret 2011.  Versi bahasa 
Inggrisnya sudah diringkas.  (Maaf kalau terjadi kekeliruan menerjemahkan ke 
dalam bahasa Indonesia.  Versi Inggris masih ada di bawah.  Alex).


Teman,
Bagaimana keadaanmu dan keluargamu?  Saat ini aku berada di Fukushima, sekitar 
25 kilometer dari pembangkit listrik nuklir.  Beberapa hari ini, di sini segala 
sesuatu kacau sekali.  Kalau aku memejamkan mata, masih terbayang jenazah 
korban tsunami.  Kalau aku membuka mata, aku melihat jenazah juga.  Di sini 
kami masing-masing harus bekerja 20 jam sehari, tapi aku berharap sehari ada 48 
jam, sehingga kami dapat terus membantu dan menyelamatkan penduduk.

Kami hidup tanpa air PAM dan aliran listrik, dan persediaan makanan sudah amat 
menipis.  Kami masih menunggu instruksi ke mana harus memindahkan para 
pengungsi.

Masyarakat di sini tetap tenang — tingkah laku mereka amat baik dan mereka 
masih tetap menjunjung tinggi etiket hidup bermasyarakat — sehingga keadaan 
tidak seburuk yang dapat terjadi.  Namun kalau keadaan seperti ini 
berkepanjangan, aku tidak tahu apakah kami masih bisa memberikan perlindungan 
dan menjaga ketertiban.

Bagaimanapun juga mereka juga manusia, dan kalau rasa lapar dan haus 
mengalahkan akal sehat, mereka dapat saja melakukan apa pun yang harus mereka 
lakukan.  Pemerintah sudah mencoba memberikan bantuan makanan dan obat lewat 
jalur udara, tetapi kebutuhan di sini jauh lebih besar.

Teman, aku mengalami peristiwa yang terjadi secara kebetulan.  Seorang anak 
laki-laki Jepang mengajarkan cara bertingkah laku selayaknya anggota masyarakat 
kepada orang dewasa seperti aku ini.

Kemarin malam, aku mendapat tugas membantu organisasi amal membagikan makanan 
kepada para pengungsi di sebuah sekolah.  Antrian pengungsi panjang sekali, 
seperti seekor ular.  Aku melihat seorang anak kecil berumur sekitar 9 tahun, 
dia mengenakan kaos dan celana pendek.  Udara terasa amat dingin dan anak ini 
berada di ujung barisan.  Aku merasa khawatir saat gilirannya tiba nanti, 
makanan sudah habis.  Jadi aku mengajaknya berbicara.

Dia berada di sekolah ketika gempa menerpa.  Ayahnya bekerja tidak jauh dari 
sekolah dan segera naik mobil ke sekolah untuk menjemputnya.  Anak ini berada 
di balkon di lantai 3 dan dia menyaksikan bagaimana tsunami menggulung mobil 
ayahnya dan mencampakkannya.  Rumahnya berada di tepi pantai, jadi kemungkinan 
ibu dan adik perempuannya juga menjadi korban bencana ini.  Dia memalingkan 
mukanya dan menghapus air mata ketika aku menanyakan mengenai sanak familinya.

Anak ini menggigil, jadi aku melepaskan jaket polisiku dan mengenakan padanya.  
Saat itu kantong makanan yang menjadi bagianku terjatuh.  Aku mengambilnya dan 
memberikan kantong itu kepadanya.  “Kalau tiba giliranmu nanti, mungkin jatah 
makanan sudah habis.  Ini bagianku.  Aku sudah makan.  Makanlah, kamu tentu 
lapar.�

Anak ini menerima kantong itu dan membungkuk menyatakan terima kasih.  Aku kira 
dia akan segera memakannya, tetapi tidak.  Dia berjalan ke depan sambil membawa 
kantong itu dan meletakkannya di tumpukan makanan yang sedang dibagikan.

Aku terkejut dan bertanya mengapa dia tidak makan dan mengembalikan ke tumpukan 
makanan di sana.  Dia menjawab, Karena aku melihat banyak orang yang lebih 
lapar dari aku.  Bila aku mengembalikan ke sana, panita akan membagikan makanan 
itu dengan merata.�  Mendengar jawaban itu aku menoleh agar orang-orang di 
sekitarku tidak melihat aku menangis.

Masyarakat yang dapat membina anak berumur 9 tahun sehingga memahami dan 
mempraktikkan konsep berkorban untuk kebaikan yang lebih besar pastilah 
masyarakat yang hebat, orang-orang yang hebat.

Salam untukmu dan keluargamu.  Aku sudah harus bertugas lagi.

Salam,
Ha Minh Thanh

Blog Jakarta Post Online Reviews
Akses berita lokal dan mancanegara terkini
dengan Gratis dan realtime (seketika)
Kunjungi disini
http://jakartapost.blogspot.com

Blog Komunitas Tionghoa di Indonesia
Akses berita, updates kegiatan komunitas Tionghoa
di Indonesia serta komentar komunitas Tionghoa dan para
pemerhati dan yang peduli dengan negeri ini.
Kunjungi
http://tionghoanet.blogspot.com
atau
http://chinese-clubs.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

Kirim email ke