Dari Pemuda Proklamator ke Koruptor Penulis : Web Warouw (foto:dok/antaranews.com) Pemuda macam apakah yang diharapkan bangsa kita? Apakah Anas Urbaningrum, Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas), ataukah Sri Mulyani Indrawati? Sebagai anak bangsa, pemuda ditantang untuk bisa menjawab tuntutan zamannya.
Oleh karena itu, penting untuk mengupas peran pemuda dari zaman ke zaman agar bisa jadi pelajaran dan ukuran kepantasan. Soe Hok Gie dalam bukunya Di bawah Lentera Merah menjelaskan, di masa kolonial Belanda kaum muda punya dua pilihan, mengabdi dalam struktur kekuasaan penjajah atau mengorganisasi diri melawan penjajah. Untuk itu, lahirlah generasi awal pergerakan Indonesia dalam Sarikat Islam pada 1912 yang sebelumnya bernama Serikat Dagang Islam. Di dalamnya kaum muda menjawab penderitaan rakyat Indonesia dengan berbagai pemogokan dan perlawanan yang dipimpin HOS Tjokroaminoto (30 tahun), Alimin (23), Agus Salim (28), Tan Malaka (16), dan Semaun (13) Meski demikian, politik saat itu tidak serta merta hitam putih. Luas dan tingginya perlawanan berupa pemogokan dan demonstrasi membuat Belanda memenuhi tuntutan Indonesia untuk berparlemen. Pada 1918 sebagian pemuda di antaranya Tjokroaminoto (38), MH Thamrin (24), Agus Salim (34), dan Abdul Muis (35) bergabung dengan Volksraad yang sejatinya bukanlah parlemen, namun sebagai penasihat Gubernur Jenderal Belanda. Badan ini dibentuk Belanda dengan tujuan agar dapat mengendalikan radikalisasi di kalangan pemuda. Saat itu, beberapa pemuda juga sudah mulai dibina menjadi intel dan kaki tangan Belanda. Parlemen ciptaan itu gagal membendung perlawanan. Rakyat terus melawan sampai saat pemberontakan nasional pertama oleh rakyat Indonesia pada November 1926 yang dipimpin Semaun, Dharsono, dan Alimin. Perjuangan pemuda Indonesia bergelora kembali di masa fasisme Jepang. Kehidupan rakyat semakin berat, mendorong pemuda memilih antara ikut Jepang atau Belanda. Dalam metode perjuangan saat itu, ada yang melakukan agitasi propaganda mengobarkan semangat perlawanan seperti Soekarno (41). Ada yang menyusup di Heiho dan PETA, seperti Supriadi (19) dan kawan-kawan. Ada juga yang melancarkan perang gerilya melawan Jepang seperti Amir Sjarifuddin (35), Sutan Sjahrir (33), dan Tan Malaka (47). Puncak dari perjuangan pemuda dan rakyat melawan Jepang dan kolonialisme Belanda adalah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Proklamasi dilakukan Soekarno (44) dan Moh Hatta (43). Menjatuhkan Soekarno Situasi politik setelah proklamasi kemerdekaan berubah-ubah sampai 1965. Namun, gelora antipenjajahan di dalam Preambule UUD’45 terus membakar sikap anti neokolonialisme dan imperialisme (nekolim). Kebijakan luar negeri Presiden Soekarno berhasil menggalang Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 dan mendorong terbentuknya Gerakan Nonblok yang antineokolonialisme dan imperialisme. Di dalam negeri Soekarno menggalang front nasional Nasakom (Nasional Agama dan Komunis). Tentu saja musuh-musuh Soekarno di luar negeri merasa terganggu sehingga berkali-kali mencoba menjatuhkan Soekarno. Beberapa persiapan dilakukan, termasuk di kalangan pemuda dan mahasiwa. Pater Beek yang pada saat itu sudah menjalin hubungan dengan TNI mendapat tugas mengumpulkan para pemuda untuk menggalang gerakan anti-Soekarno. Lewat kudeta militer 1965 Soekarno berhasil dicongkel dan Soeharto merebut kekuasaan yang didukung pemuda dan mahasiswa. Para pemuda tersebut di antaranya adalah Akbar Tanjung (20), Cosmas Batubara (27), Hari Tjan Silalahi (31), Arief Budiman (24), dan Soe Hok Gie (23). Namun Soeharto yang didukung angkatan 66 itu harus berhadapan dengan gelombang perlawanan pemuda yang bersatu dengan rakyat. Selama 30 tahun Soeharto berkuasa dengan militerisme telah melahirkan perlawanan rakyat yang yang dipelopori pemuda mahasiswa sejak zaman Hariman Siregar (36) pada peristiwa Malari 1974. Diikuti perlawanan Mahasiswa yang dipimpin Indro Tjahjono (28) pada 1978. Kemudian Orde Baru Soeharto berhasil diakhiri di masa Budiman Sujadmiko (26) pada 1996-1998. Politik Uang Lain lagi di masa Reformasi yang dipenuhi kepentingan partai politik (parpol), setiap pemuda dituntut bisa mendapat simpati pemilihnya. Tujuannya agar bisa menjadi anggota parlemen atau berebutan posisi elite partai. Untuk mencapai tujuan itu tidak mudah, karena membutuhkan modal dana yang tidak sedikit. Perjuangan pemuda yang tadinya demi kepentingan rakyat telah didominasi politik elite dengan modus mengeruk sebanyak-banyaknya dana untuk memperkaya diri dan partai. Saat ini, alat perjuangan pemuda adalah mengumpulkan dukungan dengan politik uang dan dari politik pencitraan. Sasarannya adalah kursi di DPR, kepala daerah, menteri, dan mungkin presiden. Memang masih ada segelintir pemuda yang percaya bahwa perjuangan harus dilakukan dengan menumbangkan penguasa. Segelintir lagi berjuang secara sukarela melayani rakyat yang hidupnya semakin susah. Tentu saja buat pemuda seperti Anas Urbaningrum, Ibas, atau Sri Mulyani sudah tidak membutuhkan perjuangan keras seperti para pemuda pendahulunya. Dengan bermodal uang saat ini semua posisi bisa dibeli, termasuk kursi kepresidenan 2014. Yang penting tidak ketahuan seperti Nazaruddin kalau uang tersebut dari hasil korupsi anggaran negara. Blog Jakarta Post Online Reviews Akses berita lokal dan mancanegara terkini dengan Gratis dan realtime (seketika) Kunjungi disini http://jakartapost.blogspot.com Blog Komunitas Tionghoa di Indonesia Akses berita, updates kegiatan komunitas Tionghoa di Indonesia serta komentar komunitas Tionghoa dan para pemerhati dan yang peduli dengan negeri ini. Kunjungi http://tionghoanet.blogspot.com atau http://chinese-clubs.blogspot.com http://indonesiaupdates.blogspot.com http://www.sinarharapan.co.id/content/read/dari-pemuda-proklamator-ke-koruptor/ 24.08.2011 10:33
