Marzuki: Ibas Tak Terlibat Permainan Nazaruddin
Ary Wibowo | Laksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com  Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie menegaskan, 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan mengintervensi kasus M Nazaruddin, 
tersangka kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011. Ia juga 
yakin Sekjen Partai Demokrat Eddy Baskoro tak terlibat dalam kasus tersebut.
Marzuki menegaskan, selama ini Presiden justru mendukung langkah penegak hukum 
untuk membuktikan kebenaran pernyataan Nazaruddin, yang menuding beberapa rekan 
di partainya terlibat dalam permainan anggaran di DPR.

"Saya sebagai orang partai tentu wajib menerima dia (Nazaruddin), dan saya 
menjelaskan itu di depan ketua umum dan beberapa elite Partai Demokrat. Jadi, 
itu clear, tidak usah ragu bahwa SBY tidak akan mengintervensi apa pun dan itu 
boleh dicatat, siapa pun, lembaga apa pun, lembaga penegak hukum. Begitu pun 
saya tahu persis Mas Ibas tidak pernah berurusan bisnis seperti ini," ujar 
Marzuki di Jakarta, Rabu (24/8/2011).

Salah satu tuduhan mengenai aliran dana ke Demokrat diungkapkan melalui 
pernyataan Yulianis saat menjadi saksi dalam sidang Mindo Rosalina Manulang, 
salah satu terdakwa dalam kasus suap wisma atlet. Menurut Yulianis, dana ilegal 
Nazaruddin sempat mengalir ke Partai Demokrat sebesar 400.000 dollar AS dan Rp 
1 miliar. Namun, Yulianis mengatakan, uang yang ditujukan ke Partai Demokrat 
tersebut telah dikembalikan ke kas Grup Permai.

Sebelumnya, Yulianis juga mengungkapkan bahwa Grup Permai mengeluarkan Rp 16 
miliar untuk mendapatkan proyek wisma atlet SEA Games. Menurut dia, uang 
tersebut mengalir ke DPR, Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, serta panitia 
wisma atlet di daerah. Uang untuk DPR sebesar 5 persen dari uang muka proyek Rp 
33 miliar dialirkan demi "mengawal" penganggaran proyek.

Marzuki mengatakan, persoalan permainan anggaran, yang diungkapkan Yulianis 
tersebut, memang telah menjadi persoalan partainya. Menurut dia, sepanjang 
partai tidak memiliki pendanaan yang jelas, perjalanan demokrasi di republik 
ini akan tetap tidak berjalan dengan baik

"Kita sudah sepakat bahwa demokrasi ini pilihan kita, partai ini tiangnya 
demokrasi. Kalau partai ini tidak kita benahi, perjalanan demokrasi kita akan 
bahaya. Kalau saya jujur saja, kalau untuk kebaikan, kita harus berani ngomong 
kesalahan kita. Kalau kita tidak berani mengemukakan kesalahan kita, kapan kita 
mau baik," kata Marzuki.

Marzuki mengaku, dirinya di beberapa kesempatan selalu menyampaikan bagaimana 
persoalan-persoalan di DPR, termasuk kasus-kasus korupsi yang menjerat anggota 
DPR. Untuk itu, Marzuki ingin menyusun rencana strategis  memperbaiki DPR dari 
permainan-permainan mafia anggaran.

"Saya berceramah di berbagai kampung bagaimana kalau fungsinya DPR itu kita 
perbaiki, dari sisi saya sebagai Ketua DPR. Tapi, ada sisi lain di mana partai 
politik harus mengambil tanggung jawabnya, seperti dalam kasus-kasus Nazaruddin 
ini," kata Marzuki.

Kunjungi juga Konsorsium Blog Nasional

Tulisan ini juga ditayangkan serentak di Jaringan Blog Nasional
berikut ini
Blog INTI-net online
http://tionghoanet.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/tionghoanet

Blog JAKARTA POST Online
http://jakartapost.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/jakartapost

Blog INDONESIA UPDATES
http://indonesiaupdates.blogspot.com/
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/indonesiaupdates

Online News Blog :
http://jakartaonlinenews.blogspot.com/
http://indofinancialnews.blogspot.com/
http://chinese-clubs.blogspot.com/
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
http://indoexchanges.blogspot.com/
http://jaktvnewsonline.blogspot.com/

Online Travel Reviews and Updates :
http://adsensetravel.blogspot.com
http://adsensetravelreviews.blogspot.com

Blog Iklan Baris Bisnis
http://iklanbarisbisnis.blogspot.com/
http://iklanbarisbizniz.blogspot.com/


Keterlibatan Politikus Demokrat
SBY Minta Jangan Ditutupi
Khaerudin | Agus Mulyadi | Kamis, 25 Agustus 2011 | 00:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Demokrat kembali membantah ada intervensi dari 
pemerintah, dalam kasus korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai 
Demokrat Muhammad Nazaruddin.

Menurut Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat, Marzuki Alie, di 
Jakarta, Rabu (24/8/2011), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah meminta agar 
kasus Nazaruddin dikorek sedalam-dalamnya. Bahkan jika ada keterlibatan 
politikus Partai Demokrat, Presiden Yudhoyono meminta agar jangan 
ditutup-tutupi.

"Itu clear, bahwa SBY tidak akan melakukan intervensi apapun. Itu boleh 
dicatat, siapa pun lembaga penegak hukum apa pun tidak ada intervensi apa-apa. 
Komitmen beliau sangat jelas, waktu itu di Mabes Polri, Pak SBY menyampaikan, 
tolong dibuka dan dikorek sedalam-dalamnya, siapa saja yang terlibat dalam 
Partai Demokrat jangan ditutup-tutupi," kata Marzuki.

Marzuki mengatakan, ia selaku Ketua DPR juga selalu berkomunikasi dengan KPK 
untuk meyakinkan lembaga tersebut bahwa tidak ada intervensi apa pun dalam 
persoalan Nazaruddin.

"Kami juga berkomunikasi untuk meyakinkan KPK tidak ada intervensi apapun, 
dalam rangka penegakan hukum dalam kaitan persoalan Nazaruddin. Wallahi (demi 
Tuhan), ini bulan puasa, kalau enggak batal puasa saya. Jadi clear itu," ujar 
Marzuki.



Babak Baru Kasus Nazaruddin
Kebohongan-kebohongan Nazaruddin
Ary Wibowo | Heru Margianto | Rabu, 24 Agustus 2011 | 15:10 WIB
 KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Tersangka kasus suap wisma atlet SEA Games di 
Palembang, Sumatera Selatan, M Nazaruddin (tengah) saat tiba di Kantor KPK, 
Jakarta, Sabtu (13/8/2011). Tim penjemput menyerahkan Nazaruddin beserta surat 
penangkapan dan penahanan kepada KPK.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, 
mengimbau agar Komisi Pemberantasan Korupsi tidak terbawa dalam manuver-manuver 
yang dilakukan oleh pihak M Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap pembangunan 
wisma atlet SEA Games 2011.
Nazaruddin, kata Yunarto, saat ini telah menunjukkan sikap yang tidak 
kooperatif dengan beberapa insitusi penegak hukum terkait dengan kasusnya.

"Bahkan sampai detik ini pun pascapenangkapan, dia (Nazaruddin) masih berusaha 
tidak kooperatif dengan memainkan isu, seakan-akan dia dicuci otak, dia tidak 
akan mau diperiksa dengan Komite Etik, tidak mau dipindahkan tahanannya, dan 
kirim surat yang tidak jelas subtansinya. Dan, jika sikap sudah tidak 
kooperatif, maka biasanya pernyataannya juga tidak kooperatif," ujar Yunarto 
kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (24/8/2011).

Ia mencontohkan, tidak konsistennya pernyataan Nazaruddin tersebut dapat 
dilihat dari pernyataannnya yang mengaku tidak mengenal Direktur Pemasaran PT 
Anak Negeri, Mindo Rosalina, pada 10 Mei 2011 dan pengakuan Nazaruddin yang 
mengaku pergi ke Singapura untuk berobat saat diwawancarai Metro TV pada 30 Mei 
2011.

Selain itu, Nazaruddin juga mengaku tidak mengenal, bertemu, dan menelepon 
Mahfud Suroso, Direktur PT Duta Selaras, dalam kasus suap terhadap Sekjen 
Mahkamah Konstitusi, Janedri M Gaffar.

"Tapi, jika kita lihat saat wawancara via Skype dengan Iwan Piliang yang 
diputar secara live. Saat itu Nazaruddin mengaku kalau dia kenal dengan Mindo 
Rosalina karena, menurutnya, Rosa mengetahui pengaturan proyek wisma atlet. 
Begitu pun, dia katakan kalau kepergiannya ke Singapura itu atas perintah Anas 
Urbaningrum. Untuk kasus MK, dia mengatakan proyek Hambalang sebesar Rp 50 
miliar diserahkan Mahfud ke Yulianis. Ini kan jelas telah menunjukkan 
ketidakkonsistenan pernyataannya," ungkap Yunarto.

Ditambahkan Yunarto, saat ini pernyataan Nazaruddin cenderung mengarah secara 
sistematis kepada sosok tertentu. Menurutnya, inkonsistensi dan pola yang 
dimainkan Nazaruddin dalam pernyataannya pada akhirnya cenderung menjadi peluru 
kosong yang nantinya sulit dijadikan alat bukti oleh KPK untuk dilakukan 
penyelidikan.

"Kita harapkan jangan sampai publik mengawal kasus Nazar ini hanya berdasarkan 
pernyataan-pernyataan kosong itu. Ini yang paling berbahaya, karena bukan tidak 
mungkin akhirnya kita cukup senang ketika nama-nama yang disebut Nazaruddin 
ditahan dan menjadi tersangka, setelah itu KPK dan aparat penegak hukum 
berhenti mengusut tuntas kasus tersebut," kata Yunarto.

Oleh karena itu, Yunarto mengharapkan agar KPK fokus pada kasus-kasus yang 
menjerat Nazaruddin. Apalagi, kata Yunarto, KPK sebelumnya sudah menyatakan 
bahwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut terlibat dalam banyak 
kasus, yakni 31 kasus di lima kementerian yang total proyeknya mencapai Rp 6 
triliun.

"Ini yang sering saya katakan, jangan sampai kita terjebak dalam sebuah logika 
yang dimainkan oleh seorang tersangka, yang jelas-jelas adalah orang yang 
selama ini melakukan perlawanan terhadap penegakan hukum. Ini juga harus kita 
lawan dan kawal bersama dengan KPK agar kasus ini dapat terbongkar semua," kata 
dia.


Kunjungi juga Konsorsium Blog Nasional

Tulisan ini juga ditayangkan serentak di Jaringan Blog Nasional
berikut ini
Blog INTI-net online
http://tionghoanet.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/tionghoanet

Blog JAKARTA POST Online
http://jakartapost.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/jakartapost

Blog INDONESIA UPDATES
http://indonesiaupdates.blogspot.com/
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/indonesiaupdates

Online News Blog :
http://jakartaonlinenews.blogspot.com/
http://indofinancialnews.blogspot.com/
http://chinese-clubs.blogspot.com/
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
http://indoexchanges.blogspot.com/
http://jaktvnewsonline.blogspot.com/

Online Travel Reviews and Updates :
http://adsensetravel.blogspot.com
http://adsensetravelreviews.blogspot.com

Blog Iklan Baris Bisnis
http://iklanbarisbisnis.blogspot.com/
http://iklanbarisbizniz.blogspot.com/

Kirim email ke