Menjadi Indonesia Kembali
Penulis : H Rosihan Arsyad  

 Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memperingati hari kemerdekaan yang ke-66. 
Sebuah umur yang cukup panjang, bahkan bagi sebuah bangsa. 
Penting bagi kita memanfaatkan saat yang bersejarah ini untuk merenungkan 
dengan mendalam, apakah haluan kapal Negara Kesatuan Republik Indonesia ini 
sudah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan para pendiri bangsa atau founding 
fathers kita. 

Apakah semua penumpang kapal, artinya segenap rakyat Indonesia, sudah merasa 
nyaman sejahtera di atas kapal yang berlayar, bahkan dalam keadaan laut yang 
bergelombang di tengah kancah persaingan global saat ini?

Paling tidak terdapat tiga kriteria yang dapat kita pakai untuk menilai di mana 
posisi kita sekarang, yaitu membandingkan cita-cita para founding fathers yang 
diuraikan secara tegas dalam Pembukaan UUD 1945 dengan kondisi objektif saat 
ini: 

Pertama, apakah negara Indonesia sudah benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, 
adil dan makmur? 

Kedua, apakah benar kita sudah memiliki pemerintahan yang melindungi segenap 
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan 
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan 
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan.

Ketiga, apakah susunan negara Republik Indonesia sudah benar-benar menganut 
asas kedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Pancasila? 

Kita harus mengakui bahwa ada sisi terang dan keberhasilan yang dicapai setelah 
presiden kita berganti enam kali. Indonesia diakui sebagai negara demokrasi 
ketiga terbesar di dunia di mana sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar 
di dunia membuktikan demokrasi kompatibel dengan Islam. 

Karena perkembangan ekonominya, Indonesia masuk menjadi anggota negara G-20. 
Pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir ini berkisar di atas 6 persen.

Secara makro ekonomi stabil dan sehat. Indonesia juga tetap menjadi negara yang 
diperhitungkan terutama di ASEAN. Tetapi, apakah segala keberhasilan tersebut 
sudah memberikan manfaat bagi segala sendi kehidupan masyarakat? 

Kedaulatan Terancam

Pada kenyataannya, kita masih dihantui banyak sisi suram yang dikhawatirkan 
dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gagal. Dalam aspek ekonomi kita 
belum merdeka. Banyak aset ekonomi strategis kita yang justru dikuasai asing 
semisal telekomunikasi, perbankan, energi, bahkan pangan. Dalam aspek politik 
kita melihat carut marut proses pemilihan kepala daerah. 

Bahkan, keabsahan anggota DPR sekarang pun dipertanyakan karena ditengarai 
adanya kecurangan dalam penentuan anggota DPR.

Harus diakui proses politik kita belum mampu melahirkan pemimpin terbaik, 
dibuktikan dari banyaknya anggota DPR, gubernur, bupati dan wali kota bahkan 
(mantan) menteri yang dipenjara, atau dalam proses hukum karena kasus-kasus 
korupsi. 

Politik luar negeri kita masih terasa berada di bawah cengkeraman sejumlah 
persoalan separatisme di Aceh masa lalu dan di Papua. Bahkan, pilar politik 
luar negeri kita lebih didasarkan pada kepentingan regional dan internasional, 
bukan kepentingan nasional! 

Dalam aspek persatuan, lagi-lagi kita melihat masih adanya gangguan separatisme 
di daerah. Kita juga masih melihat kesenjangan antardaerah, antargolongan, dan 
ketidakseimbangan antara pusat dan daerah. 

Kedaulatan wilayah kita masih terganggu. Setelah kehilangan Pulau Sipadan dan 
Ligitan masih banyak intrusi yang dilakukan negara asing terhadap wilayah 
perairan dan perbatasan. 

Kasus persengketaan wilayah di perairan Ambalat dan kasu-kasus berkurangnya 
luas wilayah darat akibat berpindahnya tapal batas wilayah kita di Kalimantan, 
serta pelanggaran udara dan laut kita oleh pesawat udara dan kapal perang 
terutama kapal selam asing merupakan contoh bagaimana kurangnya kemampuan dan 
kekuatan laut dan udara kita dalam mengendalikan dan menjaga kedaulatan kita.

Belum Melindungi

Menilik dari sisi tujuan nasional, kita masih belum merasa kuatnya perlindungan 
negara terhadap segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Banyaknya masalah yang dihadapi tenaga kerja RI di luar negeri, termasuk yang 
terancam bahkan telah dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi adalah contoh suram 
perlindungan negara RI terhadap warganya, walaupun setelah mendapat reaksi yang 
kuat pemerintah berhasil membebaskan awak kapal MV Sinar Kudus. Peristiwa 
Ciekeusik dan penanganannya serta peristiwa serupa masih mengusik rasa keadilan 
kita. 

Meski anggota G-20 kita tetaplah negara miskin.

Angka statistik membuktikan hal itu: dari 100 orang di Indonesia 44 tidak 
mempunyai akses terhadap air bersih, 49 tanpa MCK yang layak, 25 orang hidup di 
rumah yang berisikan lebih dari lima orang, 43 orang hanya berpendidikan SD, 11 
orang buta huruf, 16 orang bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa bayaran, 42 
orang tinggal di desa yang tidak ada SMP-nya, 36 orang tinggal di desa yang 
sama sekali tanpa akses telepon.

Dari setiap 100 balita, 25 di antaranya menderita kurang gizi dan 32 lahir 
tanpa bantuan bidan. 

Hal yang lebih membuat kita prihatin dibanding kemiskinan fisik itu adalah kini 
bangsa Indonesia seperti tercabut dari akarnya. Wawasan kebangsaan yang 
menjangkar pada landasan Pancasila mulai dilupakan sebagai falsafah kehidupan. 

Bahkan, kita sudah tidak lagi paham landasan kebangsaan kita yaitu 
kekeluargaan, musyawarah, mufakat, karena batang tubuh konstitusi kita sudah 
disimpangkan dari Pembukaan UUD 45 yang merupakan sumber dari segala sumber 
hukum.

Perenungan ini sesungguhnya bukanlah untuk meniadakan segala upaya yang 
dilakukan pemerintah, tetapi lebih sebagai upaya untuk menyadarkan semua pihak 
bahwa masih banyak kekurangan yang perlu kita perbaiki bersama demi menuju ke 
cita-cita awal pendirian negara Republik Indonesia. 

Untuk itu, selama 12 hari ke depan, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan 
ke-66 RI, Sinar Harapan akan menurunkan serangkaian tulisan tentang 
permasalahan yang kita hadapi sebagai bangsa. 

Kita percaya, segelap apa pun saat ini, selalu ada Sinar dan Harapan di depan, 
bila kita bertekad untuk menggapai dan meraihnya. Dirgahayu Republik Indonesia.
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/menjadi-indonesia-kembali/
15.08.2011 10:39

Tulisan ini juga ditayangkan serentak di Jaringan Blog Nasional
berikut ini
Blog INTI-net online
http://tionghoanet.blogspot.com
Feeds : 
http://feeds.feedburner.com/tionghoanet

Blog JAKARTA POST Online
http://jakartapost.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/jakartapost

Blog INDONESIA UPDATES
http://indonesiaupdates.blogspot.com/
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/indonesiaupdates

Kirim email ke