Awas, Ekonomi Dunia Masuk Zona Bahaya
http://www.gatra.com/terpopuler/46-ekonomi/1773-awas-ekonomi-dunia-masuk-zona-bahaya
Selasa, 16 Agustus 2011 04:13


Suasana di pasar modal (Foto Antaranews)
Sinyal kuning berkedip dari markas Bank Dunia. Sinyal tersebut memberi 
peringatan kepada semua negara untuk berhati-hati. Sebab, ekonomi dunia sedang 
menukik ke zona bahaya. Peringatan itu disampaikan oleh Presiden Bank Dunia 
(World Bank) Robert Zoellick pada sebuah seminar di Sydney Australia, kemarin.

Menurut Zoellick, para investor kehilangan kepercayaan kepada pemimpin sejumlah 
negara penting. Akibatnya, dalam dua minggu terakhir, pasar saham dunia anjlok 
karena kekhawatiran terhadap negara-negara besar penguasa modal.

“Yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir adalah berbagai peristiwa di Eropa 
dan AS yang menyebabkan sejumlah pelaku pasar kehilangan kepercayaan kepada 
kepemimpinan ekonomi sejumlah negara penting," kata Zoellick, seperti diungkap 
kantor berita BBC.

Sebagai dampak dari keterpurukan pasar modal itu, Amerika Serikat kehilangan 
peringkat hutang AAA Standard & Poor untuk pertama kali dalam sejarah, karena 
terjadi pertikaian di Kongres tentang rencana menaikkan batas atas utang AS. Di 
Eropa, muncul kabar peringkat Prancis juga akan diturunkan, meskipun kemudian 
disangkal. Sementara Italia mengumumkan rencana penghematan kedua dalam 
beberapa bulan terakhir.

Zona euro menghadapi masalah yang lebih serius karena sejumlah anggota "terus 
mengalami masalah".Tetapi Zoellick mengatakan Australia dalam keadaan yang 
lebih baik dibandingkan negara maju lain karena sudah melakukan perbaikan 
struktural. Dalam kaitannya dengan Cina, presiden Bank Dunia mengatakan, 
apresiasi yuan akan membantu mengurangi tekanan inflasi.

Berbagai kejadian tersebut, disamping sejumlah kerapuhan perbaikan ekonomi, 
membuat ekonomi dunia memasuki zona bahaya baru. Zoellick menekankan hal itu 
agar para pembuat kebijakan menangani masalah tersebut dengan serius.

Dalam kaitannya dengan AS, Zoellick mengatakan, pasar tidak khawatir bahwa 
negara pengontrol ekonomi terbesar dunia itu akan menghadapi masalah dalam 
waktu dekat. “Pasar sudah terbiasa terhadap AS yang memainkan peran kunci dalam 
sistim ekonomi dan kepemimpinan,” ungkapnya.

Semua yang diungkap Zoeelick, terutama berlaku untuk negara-negara maju. Namun, 
ketika ekonomi negara maju sedang terpuruk, kata Zoellick, justru negara-negara 
berkembang sekarang menjadi sumber pertumbuhan dan kesempatan.

Indonesia Dalam Target Bidikan Investor
Bagi Indonesia, ada hikmah dibalik sinyal bahaya yang ditiupkan oleh Zoellick. 
Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, krisis yang sedang melanda Eropa 
dan Amerika Serikat (AS) itu semakin membuka peluang bagi Indonesia untuk 
dibanjiri investasi asing yang sedang mencari 'rumah baru'.

Fauzi mengungkap, hanya ada dua negara yang memiliki dua syarat utama yang 
membuat investor tertarik untuk menyimpan dananya di negara tersebut. Kedua 
negara itu adalah Indonesia dan Brasil.  Adapun dua persyaratan utama tersebut 
adalah tingkat suku bunga yang tinggi plus mata uangnya yang stabil dan 
memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari AS, Jepang, dan Eropa.

Nah, menurut Fauzi, Indonesia memiliki peluang yang lebih besar dibanding 
Brasil untuk menggandeng investor asing. Pasalnya, pemerintah Brasil dinilai 
terlalu campur tangan untuk mencegah aliran hot money di negeri samba tersebut. 
Salah satunya dengan menerapkan pajak yang tinggi. “Karena itu dana mulai 
mengalir ke Indonesia yang percaya menerapkan sistem devisa bebas,” ujar Fauzi.

Dalam mengatasi krisis yang melanda AS, kemungkinan besar AS akan melakukan 
quantitative easing atau mencetak uang untuk menjaga kemampuan moneternya. Dari 
uang baru yang akan beredar tersebut akan menciptakan dana besar yang akan 
menganggur karena tidak bisa terserap sektor riil. Untuk itu, dana besar yang 
menganggur tersebut akan mencari rumah baru di negara emerging market yang 
menjanjikan.

Sementara, Outlook utang Indonesia memiliki prospek positif. “Sekarang BB+, 
setingkat dibawah investment  grade. Sangat mungkin dalam 6-12 bulan kita masuk 
ke investment grade. Kalau iya, investor yang masuk ke Indonesia akan makin 
banyak,” papar Fauzi.

Selain Indonesia dan Brasil, ada dua negara lain yang bisa dijadikan 'pesaing' 
untuk memperebutkan dana asing yang sedang mencari rumah baru tersebut, yaitu 
Thailand dan Korea Selatan. Tetapi, kedua negara tersebut masih kurang menarik 
bagi investor dibanding Indonesia. Untuk itu, pemerintah Indonesia diharapkan 
siap-siap menampung hot money yang akan menyerbu negeri ini. Jangan sampai dana 
panas itu justru membuat ekonomi negara ini menjadi ikut panas. (HP)

Tulisan ini juga ditayangkan serentak di Jaringan Blog Nasional
berikut ini
Blog INTI-net online
http://tionghoanet.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/tionghoanet

Blog JAKARTA POST Online
http://jakartapost.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/jakartapost

Blog INDONESIA UPDATES
http://indonesiaupdates.blogspot.com/
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/indonesiaupdates

Kirim email ke