Mungkin menurut FPI tidak pernah terjadi pemboman gereja. Mereka pun tidak tahu 
bahwa  perkampungan Ahmadiyah diserang dan mesjid Ahmadiyah  diobrak abrk  
menyebabkan 50 kitab Al Quran turut di makan api.

http://us.detiknews.com/read/2011/08/27/182934/1712585/10/?992204topnews


Sabtu, 27/08/2011 18:29 WIB 

Digeruduk FPI, SCTV Batal Tayangkan Film '?' 
Egir Rivki – detikNews


 
 



Jakarta - Sekitar seratusan orang yang tergabung dalam Front Pembela Islam 
(FPI) mendatangi kantor stasiun televisi SCTV. Mereka mendesak stasiun televisi 
nasional itu membatalkan penayangan film berjudul '?'. 

"Film '?' menggambarkan umat islam itu bengis dan jahat. Ada adegan orang islam 
merusak restoran China, lalu pendeta ditusuk dan gereja dibom," ujar Ketua FPI 
DKI Jakarta, Habib Salim Alatas, dalam orasinya di halaman SCTV Tower, Jl Asia 
Afrika, Jakarta, Sabtu (27/8/2011).

Massa FPI yang datang dengan menggunakan sepeda motor itu menggelar orasi 
selama sekitar 15 menit. Mereka pun akhirnya diterima pihak SCTV. FPI dan SCTV 
menggelar dialog atas tuntutan tersebut di lantai 19 gedung tersebut. Dialog 
yang berlangsung dalam suasana tenang itu berakhir 20 menit kemudian.

"Terimakasih atas silaturahmi dari FPI, ini merupakan masukan dan evaluasi bagi 
kami. Sebagaimana kita telah berkomunikasi, kami nyatakan tidak akan memutar 
film '?' pada malam takbiran nanti," kata Corprotare Secretary SCTV, Hardijanto 
Soeroso, di akhir pertemuan.

Usai pertemuan itu FPI pun membubarkan diri. Raut muka mereka menunjukkan rasa 
puas. 

Film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini dirilis di bioskop sekitar 7 April 
2011 lalu. Sutradara muda ini mengangkat tema toleransi beragama dan film itu 
sempat mengundang kontroversi saat tayang perdana.

"Saya ingin menunjukkan lewat film ini gambaran beberapa peristiwa yang 
terjadi. Pada adegan terakhir film ini nanti David Chalik mengungkap bahwa 
Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Buat saya itulah Islam,” ujar Hanung 
soal filmya itu di Radja Ketjil, Gandaria City Mall, Kebayoran Lama, Jakarta 
Selatan, Kamis (31/3/2011).

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke